Call her Name
![]()
*Pic dari http://istockphoto.com*
“Put !!”Seruan penuh nada bersahabat itu mampu memalingkan wajahku.
Aha..seorang teman lama…amat lama.sudah bertahun-tahun tak bersua. Aku menghampirinya, menjabat hangat tangannya seraya tersenyum lebar…
“Apa kabar ? Duh…sombongnya…mentang-mentang sudah tamat….” Sahutku bernada guyon. Wajahku masih tersenyum. Ia pun tersenyum lebar, senyuman lebar itu seakan mampu berkata jauh lebih banyak dari kerja bibir yang melekat pada wajah ini.
“Ah…Putri nih yang sombong….Sibuk apa sekarang ?”
“Kita sudah lama tidak ketemu, ya ?”
Aku mengangguk.
“Aku menyibukkan diri aja…Kamu gimana ? Kerja dimana sekarang ?”
Aku tak kuasa menahan rasa rindu…Argh..kami memang sudah lama tak bertemu. Rasanya banyak hal yang ingin dibicarakan. Dia tertawa lepas…
“Biasa aja….”
“Eh..aku sudah harus pergi, nih…Nomormu masih yang lama, khan ?”
“Aku udah ganti. Ini nomornya 08xxxxxxxxx . Dirimu ?”
“Aku masih yang lama…”
“Duluan, ya !! Assalamualaikum …!”ujarku menutup pembicaraan. Kemudian beranjak pergi.
Ia sungguh temanku yang baik, mengingat namaku dengan baik. Barangkali akulah yang tidak begitu baik. Sepanjang pembicaraan itu aku berusaha mengingat namanya. Sesekali alisku terangkat sambil sepenuh hati berdoa agar ingatan akan namanya kembali. Aku ingat semua tentang dirinya, semuanya ! Kecuali namanya….Ya Allah … betapa menyedihkannya !!Hingga akhirnya aku mengingat namanya…Duhai teman, maafkan kealpaan sobatmu ini….
Entah karena sibuk menjlimet-jlimet atau memang sudah lama tak bertemu, terkadang kita sering lupa nama seseorang. Wajahnya begitu familiar tapi kenapa kita bisa melupakan namanya. Sebuah nama…kurasa adalah kesan yang mendalam saat kita memanggil namanya dengan benar.
Mengingat aku beberapa kali salah memanggil seseorang dan ia akan segera memasang wajah cembetut kepadaku.
“Kakak…!! Aku A…bukan B..”
“Aduh…maaf, dek. Habis kalian sering berdua, sih..Jadi, kakak sering tertukar ..”ujarku membela diri *Which is truly reason here he..he..*
Ato aku harus berpikir ratusan kali untuk menyebut nama seseorang yang telah terlebih dahulu tersenyum padaku. Tidak enak rasanya wajah ramah di depanku tersia-siakan karena aku lupa nama si empunya senyum. Jika rasanya aku sudah mulai menyerah maka aku akan berkata dengan malu-malu kucing,
“Aduh…maaf, ya…kita sebelumnya ketemu dimana ? Eng..kakak ini…..”
Kata menggantung ini akan langsung di sambut jawaban renyah yang *Alhamdulillah sepanjang sampai hari ini* menjelaskan diri plus nama mereka dan kemakluman mereka karena kealpaanku.
Dan akupun tahu diri. Saat mereka melupakan namaku, aku sendirilah yang memperkenalkan diri. Tidak pake acara tersinggung segala.
Maka metoda yang kukembangkan *aih..aih..kayak penelitian saja
* adalah menyebut nama lawan bicaraku berulang-ulang saat berbicara dengan mereka, terutama kenalan baru.
“Jadi, Fulanah semester berapa ? Jurusan apa ?”
“Fulanah tinggal dimana ?”
“Aih..ternyata kita satu kawasan, ya ?”
“Fulanah selalu naik bus ? Sama, dong !”
Dan lawan bicaraku pun terangguk-angguk karena namanya selalu kusebut berulang-ulang. Syukurnya, cara ini lumayan berhasil untuk mempertahankan ingatanku akan nama mereka di pertemuan-pertemuan berikutnya. He..he..
About this entry
You’re currently reading “Call her Name,” an entry on Heart of All
- Published:
- Maret 22, 2009 / 7:04 am
- Category:
- fRoM tHe BoTtOm of My SeA
- Tags:

31 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]