Personal Area

Bulan Juni ini, anak-anak sekolah sedang menikmati masa-masa bersantai mereka. Berlibur, menikmati hari-hari lepas dari tugas dan pe-er. Sementara para pelajar akhir sekolah justru sibuk mempersiapkan diri untuk masuk sekolah. Anak-anak SD yang bersiap mencari SMP favorit, berikutnya anak-anak SMP pun bergegas mencari SMU-SMU andalan. Dan para jebolan SMA memenuhi berbagai tempat bimbel untuk bertarung di SNM-PTN atau bahkan dI UMB. Semuanya bergegas, mencari dan menemukan simpulan masa depan mereka.

Seperti juga anak-anak kampus. Beberapa dari mereka sibuk menyiapkan mental untuk KKN, sementara yang lainnya meninabobokan diri mereka dalam liburan yang panjang atau justru berjibaku mengambil semester pendek. Maka, bulan ini pun, lab-lab kampusku terisi oleh mahasiswa yang melakukan penelitian. Ada yang sibuk masih sibuk mencari literatur dan prosedur penelitian dan banyak juga yang sedang dalam proses penelitian. Lab-lab berisi tabung-tabung reaksi, botol-botol zat, pipet, erlenmeyer yang bertuliskan nama kelompok penelitian mereka. Pipet-pipet yang tadinya milik publik itu sekarang sudah beralih kepemilikan untuk sementara. Berbekal surat pengggunaan lab dan peminjaman alat, lab dan alat-alat tersebut berada dalam kendali mereka :D .

Hal ini tentu saja untuk mempermudah penelitian mereka. Tentu saja tidak lucu jika mereka ingin menggunakan tabung reaksi, mereka harus meminjamnya terlebih dahulu ke grup lain yang juga sedang menggunakan tabung reaksi…Maka lab, untuk sementara menjadi areal pribadi mereka. Sungguh suatu bentuk kekuasaan yang unik.


(Sumber :http://istockphoto.com)
Ketika aku berkunjung ke lab lain, hal serupa pun terjadi. Di beberapa pojokan tertera tulisan, “Jangan di Ganggu, Penelitian N&L” atau “Jangan Memakai Alat-Alat Penelitian Ini…tertanda K&S”. Areal itu seketika menjadi begitu private. Beberapa penelitian memang memerlukan areal steril karena faktor-faktor seperti suhu atau ‘gangguan iseng’ justru dapat berakibat fatal. Tentu saja karena akan menghambat output dari penelitian mereka kelak. Jika keberadaan cahaya sangat berpengaruh terhadap penelitian mereka, biasanya saklar lampu akan menjadi objek ‘kekuasaan’ mereka. Di tombol turn off akan ditulisi “Jangan dimatikan” di sampingnya akan digambari tengkorak, persis icon ‘berbahaya ato dapat menyebabkan kematian’ pada label botol-botol zat kimia *sadis sangat..glek..!!*.

Teringat pula saat aku dan partner melaksanakan penelitian kami yang ‘dahsyat’ itu :mrgreen: . Areal paling belakang lab kami pilih sebagai areal kekuasaan kami. Di sana kami letakkan alat-alat penelitian kami yang ‘rada’ diluar kebiasaan. Syukurlah, tidak ada yang berani mengganggu alat-alat penelitian kami…kupikir untuk mendekat pun mereka akan pikir-pikir :lol: *he..he…*

Mematuhi aturan lab adalah sangat penting. Hal-hal remeh justru bisa berakibat ‘menambah waktu kuliah’ satu atau bahkan dua semester….Karena itu, jika ada rambu-rambu “Jangan dihirup”, berarti tidak boleh dihirup…Bahkan rangkaian alat yang keliru pun dapat menyebabkan terjadinya ‘re-research‘. Jadi, jangan pernah memakai prinsip, “Peraturan itu ada untuk DILANGGAR” jika kamu berada di Lab. :D


About this entry