Darah Muda

Cuaca terik kala itu tak menyurutkan langkah Izam untuk melaju menuju perpustakaan. Ada beberapa literatur yang diperlukannya untuk menyelesaikan tugas semesteran kampus. Dosen yang satu itu memang unik dan berbeda. Hampir semua mahasiswa yang diajarnya, pontang-panting dibuatnya. Izam sudah bolak-bolak perpustakaan fakultas dan perpustakaan univ untuk mencari referensi tambahan, tapi tetap saja tugasnya masih belum memenuhi syarat. Izam memacu motornya dengan kecepatan sedang, se-slow otaknya yang mumet melihat angka 30 yang menghiasi lembaran kertas UAS kontrolnya. Semester ini nilainya memang hancur-hancuran. Karena itulah ia mati-matian menyelesaikan tugas semesteran ini agar bisa membantu nilai ujiannya yang ambruk seperti lantai jebol itu.

Sinar mentari masih terik saat beberapa mahasiswa berseragam menghentikan motornya tepat di depan fakultas tetangganya. “Berhenti…!”teriak seorang mahasiswa berseragam yang kulitnya agak gelap. Izam menghentikan laju motornya, memandangi para mahasiswa berseragam yang ‘sok’ kuasa di depannya. Ia tak mengenal mereka. Oh..hanya seorang….yang tampaknya agak familiar.

“Ada apa, bang ?”tanya Izam berusaha ramah. Ia membuka kaca helmnya sambil tetap berada dalam posisi stand by di atas motor. Meski nada suaranya terdengar ramah, namun pias wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Well, sebenarnya wajahnya lebih tepat jika dikatakan berwajah masam. Pikiran mumetnya ikut mempengaruhi mood bersosialisasi. Merasa dipanggil “bang”, mahasiswa berseragam itu serasa mendapat angin. Seolah senior yang harus dihormati, sengak pemuda-pemuda itu makin bertambah.

“Turun kau, dek !!” salah seorang pemuda itu memegang motor Izam dan berusaha menyuruh Izam turun. Merasa tidak bersalah, Izam spontan berontak.

“Ada apa ini ?”

“Kau Calo, ya ?!!!” bentak pemuda berkulit gelap yang tadi menghentikan motor Izam. Kening Izam berkerut-kerut. Calo apaan ? Calon sarjana ?

“Kau yang masukkan anak-anak baru itu dalam barisan, khan ?” sambar yang rambutnya super tipis. Lipatan kerutan kening Izam makin berlapis. Ia memang stand by di sekitar lobi teknik untuk jualan label plastic untuk kartu ujian. Memang apa masalahnya ? Calo merusak barisan ? Apa pula itu ?

“Bukan, bang…Mana ada aku kayak gitu..!” elak Izam keras. Izam yang sudah berdiri di samping motornya langsung dicekal oleh si pemuda berkulit gelap. Kentara sekali pemuda itu sering latihan barbel. Otot-ototnya bertonjolan dibalik baju seragamnya yang ketat. Izam langsung menghentakkan tangannya. Tak sudi dia digelandang bagai tersangka oleh pemuda-pemuda sok kuasa itu. Sementara motornya sudah diamankan oleh pemuda yang wajahnya tampak familiar olehnya. Melihat Izam melawan, si pemuda berkulit gelap langsung naik pitam.

“Eh..melawan kau, ya ?!!!” langsung sebuah bogem melayang. Sigap Izam mengelak. ‘Kurang ajar betul…sudah berani main fisik rupanya si hitam ini !!’ batin Izam panas. Melihat pukulannya hanya menembus udara, si pemuda berkulit gelap makin gelap mata. Ia berusaha mencengkram Izam dan melayangkan pukulan. Dua orang temannya yang lain pun ikut ber’aksi’. Izam pun terpancing emosi. Ia menendang seorang pemuda berseragam dengan tendangan memutar mirip adegan di KARATE KID :D . Semakin brutal-lah aksi para mahasiswa itu. Sebuah motor lain yang kebetulan melintas melihat kejadian itu dan segera memberitahu teman-teman Izam di teknik.

Berikutnya kumpulan pemuda teknik langsung menyerbu kelompok mahasiswa berseragam yang berusaha mengeroyok Izam. Izam yang pernah berlatih tae kwon do itu rupanya berhasil mengelak dari serangan-serangan kelompok pemuda berseragam itu. Hal ini membuat pemuda berseragam itu makin kalap. Pemuda-pemuda teknik yang sebagian besar teman Izam langsung menyerang kelompok pemuda berseragam yang kelihatan sekali ‘timpang’. Berani-beraninya mengeroyok seorang mahasiswa…anak teknik pula lagi…. Berikutnya…gerombolan mahasiswa berseragam yang memang ngetem di teknik untuk menjaga keamanan di teknik karena adanya pendaftaran SNM-PTN pun mendengar ‘serangan’ itu. Beberapa dari mereka langsung menuju ke tempat kejadian. Aksi berikutnya, acara keroyokan itu bukannya tambah reda justru makin panas. Batu-batu berterbangan. Beberapa bahkan melihat kilatan samurai [panjang] berada di tengah aksi tolol itu. Setelah para ‘petinggi’ fakultas datang, barulah aksi mahasiswa itu berhenti.

Beberapa mahasiswa pulang dengan membawa memar dan luka bekas timpukan batu. Izam sendiri, meski berhasil mengelak dari serangan fisik, ia malah dapat ‘hadiah’ dari lemparan batu. Aksi konyol yang mengakhiri semester genap ini…sungguh sebuah pelajaran berharga yang sangat mahal bagi Izam. Ia bukan hanya belajar keras memperbaiki nilai-nilainya tapi juga belajar menyarungkan tinju dan tendangannya pada tempat yang benar..

Sebuah fiksi asal yang terinspirasi dari ruang lab sebelah … ;P


About this entry