Memory Of gas Tank
Juni 8th, 2011 § 18 Komentar
Aku ingat ketika di awal tahun ini aku tersenyum ketika kiriman bahan kimiaku sampai dengan selamat di lab. Begitu juga tatkala aku menerima kabar bahwa gas tank (berikut gas-nya he.. he..
) sudah bisa kuambil di pusat penyimpanan bahan di kampus, hatiku dilingkupi kelegaan… Lega karena aku akan memulai petualangan baru dengan lab namun juga khawatir alias deg-deg’an. Laboratorium dan segala pernak-perniknya sudah lama kutinggalkan. Aku ragu untuk memasuki petualangan baru karena minus pengalaman dengan test tube, reaktor-reaktor besi, lemari asam, conical flask dan juga dunia per-gas-an.
Perasaan was-was yang bercampur lega…
Kemudian petualangan ini diawali dengan menggotong gas tank dari pusat penyimpanan bahan yang berjarak kira-kira 50 meters… Sebenarnya jarak antara labku dengan kantor pusat penyimpanan bahan tidak begitu jauh. Yang membuatnya menjadi agak ‘perlu energi’ untuk berjalan adalah karena rute yang harus dilalui berupa perbukitan, naik-turun . Penggotongan atau lebih tepatnya penggerekan gas tank itu harus melalui penanjakan curam. Aku menggunakan alat bantu beroda yang biasa digunakan untuk membawa gas tank.
Sebelumnya aku menggunakan kereta dorongan gas yang ramping. Sesampainya di kantor pusat bahan tersebut, ketika temanku (Syukurlah aku datang ke sana bersama seorang teman, Alhamdulillah…) mencoba memasukkan gas tank ke dalam kereta kami, pegawai-pegawai di sana langsung memberi saran agar kami menggunakan kereta dorongan gas yang lebih besar dan dilengkapi dengan 4 roda (kereta kepunyaan kami hanya dilengkapi 2 roda). Sepertinya terlihat sekali kepayahan memancar dari rona wajah kami. hufh….
Kami pun kemudian mengganti kereta dorongan beroda 4. Sukses memasukkan gas tank ke dalam kereta adalah sebuah langkah permulaan untuk kemudian meneruskan perjuangan. Kami harus membawa kereta dorongan gas itu mendaki tanjakan tinggi di jalanan menuju labku. Di tengah pendakian (yang hanya sedikit itu) aku berhenti sejenak mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Temanku melihat kondisiku yang agak mengenaskan. Kelelahan sudah memandikan diriku dengan keringat. Aku nyaris berhenti…Karena merasa tak kuat menggerek gas tank yang beratnya berkali lipat dari badanku sendiri…
“Ayuk… sebentar lagi kita sampai…” ucapnya pelan. Ia sendiri juga kelelahan… Ia yang kebagian tugas menarik kereta dari depan dan aku yang mendorong dari belakang. Aku menengadah sebentar.. dan melihat jalanan yang lengang dan yah… lab ku (setidaknya atapnya sudah kelihatan) dan sebentar lagi jalanan akan menurun dan berikutnya malah akan berupa jalan datar. Aku menguatkan hatiku. Meski harus kuakui energi dari sarapan pagiku rasanya sudah lenyap
.
Sedikit lagi…
Kami bergerak…meninggalkan jalanan yang mendaki dan memasuki jalan yang menurun berikutnya jalan yang mendatar membuat kami bisa tersenyum sambil berguyon tentang betapa beratnya pendakian yang sebelumnya.
Hari ini aku menulis kembali tentang kisah gas tank ini untuk mengingatkanku bahwa berhenti di tengah jalan berarti aku menyia-nyiakan rasa letih yang telah menyertai perjalananku. Sekaligus memompa semangatku bahwa dibalik curaman kesulitan akan ada banyak kemudahan. Hal itu akan terasa ketika kita melapangkan hati kita dan terus (berusaha) berjalan dengan keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla takkan pernah membiarkan kita sendiri…
*Gas tank yang ku gerek itu hanya setinggi + 150 cm dengan volume isi 10.7 m3, kalo dimaksudkan dalam bahasa sehari-hari = berat
![]()
source pic from here
Tapi akhirnya sampai juga, kan? Pasti, selama masih ada semangat dan tekad Allah pasti tidak akan tinggal diam.
Alhamdulillah.. akhirnya sampai, pak…
Benar.. dalam hal sekecil apapun… Allah SWT selalu memberikan pertolongan…^_^
wah penuh perjuangan banget ya kayanya *menatap kagum*
Tam… ndak perlu ditatap kagum…lha wong kalo tama dalam posisi menggerek gas tank.. pasti juga bekerja keras….
wah bagus nih tulisannya dengan mengambil analogi gas tank
Tapi bagian menggereknya itu beneran lho, jar…
Beneran….*jadi tahu, ternyata mengangkat gas tank itu sama sekali bukan pekerjaan ringan…
Saya jadi ingat pepatah …
Setelah ada tanjakan … pasti ada turunan …
So … pusatkan pikiran kita di turunan itu … betapa nikmatnya saat itu …
Salam saya Poet
Berusaha untuk fokus pada turunannya itu…memang tidak gampang, ya, pak..?
kadang rasa lelah membuat kita berubah pikiran…
Tapi seperti yang Pak NH katakan…ketika kita menyadari sebuah kenikmatan maka kita akan belajar menyadari bahwa harga dari kenikmatan itu sendiri tidaklah mudah… sehingga kita menjadi orang yang bersyukur…”Insyaallah… aamiin
Itu kalo di-kilokan jadi berapa kilo?
Wah, bisa saya bayangkan betapa payahnya.. tak adakah teman laki2 yang membantu?
saia agak khawatir salah dalam mengkonversikannya ke kilo.. he. he….
Terima kasih, sop…. ^_^
he.. he..
saia yakin kl kamu ada di tempat saia, kamu bakal bersedia membantu, khan ?
FIlosofinya pas banget Put
he.. he..
iya, mbak…kalo lagi inget masa-masa sulit…jadi inget masa2 menggerek gas tank…
bacanya aja ikut ngos-ngosan….
gak kebayang benerannya….
Sekalian olahraga ya, biar keker….
Asyiknya bekerja di lab, jadi keingetan waktu praktikum zaman mahasiswa dulu. Berpakaian ala astronot dan ditiup udara sebagai bagian dari pembersihan karena memasuki ruangan steril untuk percobaan mikroba ^_^
baguslah, buat emansipasi…
akhirnya ada hikmah yang bisa di petik dari pendakian
dan kadang perlu sedikit break di tengah pekerjaan untuk menggali energi yang lebih besar lagi ya
EM