Kotaku di Goyang

Kurang beberapa menit lagi jam 11…kursi tempatku ngenet bergoyang, meja computer..dan sekarang seluruh ruangan bergoyang. Semua perental saling pandang, “Ada apa, nih ?” Tapi semuanya masih belum beranjak dari bangku masing-masing. Dan seakan tersadar dari kevakuman..beberapa desahan terdengar ragu..
”Gempa ?!?”
Sontak seisi labnet (warnetnya anak teknik UR alias Universitas Riau) keluar. Setiap diri masih bertanya- tanya ragu..
“Gempa, ya ?”
“Bener, gempa ?”
Syukurlah “goyangan” itu hanya berlangsung beberapa detik. Suasana kembali tenang. Beberapa perental kembali masuk labnet untuk membayar uang rental-an internet, sebagiannya malah kembali ke aktifitas semula (ngenet…!).
Tak beberapa lama kemudian, kudengar berita tentang sumber gempa. Kali ini giliran Batu Sangkar, Sumbar, setelah sebelumnya Aceh, Nias, Yogya, Gempa di Sulawesi. Hm…
Dua jam kemudian..
Baru saja selesai wudhu, bersiap untuk sholat zuhur. Aku masih menyempatkan diri untuk ngobrol sebentar dengan junior tentang tugas kuliah. Kali ini terdengar seperti benda yang bergesek keras. Goyangan dalam musola tidak begitu terasa (bagiku..tapi tidak bagi yang lain). Jamaah yang sudah selesai sholat dan beberapa yang sedang mengaji bergegas keluar..
“Ya..Allah, Gempa lagi…”
Sebelum keadaan menjadi tak menentu, segera ku laksanakan sholat zuhur..
Ternyata benar…
Pusat gempa terletak di Tanah datar, Batu Sangkar, pada kedalaman 33 m (atau km ?) dengan skala 5,8 Richter. Kerusakan terparah terjadi di Solok, beberapa kota lain yang juga terkena imbasnya adalah Padang Panjang, Payakumbuh, Pariaman dan lain-lain. Korban meninggal (sampai saat ini) adalah 71 orang. Bangunan rusak parah, dinding roboh bahkan ada kantor yang hampir amblas, jalanan retak. Kerusakan materil masih belum diperhitungkan.
Kepanikan terjadi di Padang. Ibukota Sumatera Barat ini memang rawan bencana. Sejak Tsunami Aceh, masyarakat Padang mengkhawatirkan tentang kemungkinan tsunami di tempat mereka. Tak heran, begitu gempa ini terjadi semua pelajar, baik SD, SMP, SMA berlarian keluar sekolah dan mengerumuni jalanan. Pegawai kantor keluar dari gedung tanpa sempat memakai alas kaki, pasien dan dokter di RS berlarian keluar. Beberapa orang tampak memapah pasien yang ditangannya terselip infus. Seorang bapak yang hendak dioperasi..batal operasi..seorang ibu yang baru saja melahirkan mendapatkan perawatan pasca kelahiran di lorong koridor RS, si bayi bahkan belum sempat dimandikan…
Hm…..
Aku jadi teringat salah satu artikel di Tarbawi…(entah seri ke berapa ..)
Selama bumi masih di-sujud-ti hamba-hamba Allah yang taat, maka ia takkan bergerak dan pintu-pintu langit akan terbuka untuk menyampaikan doa-doa setiap hamba. Ketika sujud seorang hamba hanya tercurah untuk Robb-Nya, maka bumi akan mempersembahkan daratan dan lautannya untuk dikomandai sang hamba..(kira-kira selintas maksudnya seperti itu)
Tak perlu disebut tentang kali keberapakah bencana menghampiri bangsa ini….Tak perlu menyalahkan segelintir orang yang mungkin saja secara ‘tak sengaja’ diharuskan bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi dan Tak perlu mengkambinghitamkan Alam atas apa yang secara ‘sadar’ kita lakukan terhadapnya.
Adakah kita..? Setiap titik diri ini menyadari bahwa tiap noktah yang kita kira kecil akan berdampak kecil buat wadah yang sebesar baskom air ? Secara makro dan visual…ya..itu benar..Lalu coba tilik tentang noktah-noktah lain yang bertetangga dengannya…Dalam kimia suatu senyawa yang mempunyai struktur rantai yang panjang justru relative stabil… Dan kestabilan tiap noktah itu dalam ‘menghancurkan’ dunia secara perlahan amat sangat pasti. Seperti rayap yang menggerogoti kursi dan lemari pakaian. Kita tak menyadari bahwa ‘kursi’ yang biasa kita duduki itu rapuh, dan ini kali kesekian kita duduk…yah..kali yang menyambut kita bukan empuknya busa si kursi, tapi kerasnya lantai ubin yang menyisakan sakit.
Barangkali kita harus merasakan sakit dulu, baru mengerti tentang betapa ‘egoisnya’ kita dalam menjalani hidup. Betapa apatisnya kita terhadap lingkungan dan ..hm..betapa narsisnya kita terhadap diri kita sendiri.
Mari kita sama-sama belajar menghargai diri kita..berkaca pada cermin yang baru dan menata keimanan kita dalam cara yang lebih baik…

to my friend there….060307, at Kayobi
I hope you are right..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s