Sebuah awal dan sebuah akhir

Terlahir pada tanggal 8 Juni 1921 di sebuah desa bernama Kemusuk,Argomulyo, DIY, ayahnya adalah seorang petani yang bertanggung jawab dalam masalah irigasi di desa tersebut. Tiada yang menyangka bahwa ia akan menjadi penguasa nomor wahid di bumi pertiwi, ya, dialah H.M. Soeharto, Presiden ke-2 RI, Jenderal besar berbintang 5, satu dari 3 jenderal berbintang lima, Jend. AH.Nasution dan Jend. Sudirman.

Memimpin negara ini lebih dari tiga dasawarsa bukanlah perkara gampang. Pak Harto sendiri, menurut pak Siswoyo Yudhohusodo dalam wawancaranya di Metrotv dan Trans7 , sudah mengindikasikan bahwa ia lelah memimpin negara ini. Sayangnya elite politik justru terus mendesak Beliau untuk terus menjadi presiden. Puncaknya saar moneter meneror bangsa ini. Akhir 2007, rupiah turun drastis, harga bahan pokok melonjak dengan tinggi. Mahasiswa bereaksi, demonstrasi besar-besaran terjadi. Gedung MPR pun di’sandera’. Akhirnya pada tanggal 21 mei 1998, pak Harto mengumumkan pengunduran dirinya pada pukul 10 lewat 8 menit pagi WIB….

Pak Harto kemudian tak lantas menghadapi hidup yang adem ayem pasca “lengser ke prabon”. Beliau menghadapi serangkaian tuntutan hukum. Mulai dari tuduhan korupsi, masalah yayasan supersemar, bahkan keabsahan ‘kisah’ supersemar…Belum lagi berbagai permasalahan putra-putrinya. Perceraian, ribut-ribut dalam pernikahan, tuntutan hukum putra bungsunya, Tommy…dan lain-lain.

Pak Harto menikahi bu Tien pada tanggal 26 November 1947 di Solo. Keduanya mempunyai 6 orang anak, 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.

HM. Soeharto memulai karir militernya pada tahun 1940. PETA, KNIL, BKR dan TNI telah menjadikan beliau seorang tentara yang mapan dibidangnya. Serangan umum 1 maret 1949 adalah titik tolak karir militer Pak Harto. Pada serangan ini DIY berhasil dikuasai TNI selama 6 jam. Kejadian ini menunjukan pada dunia bahwa TNI NKRI masih eksis. Satu lagi kejadian yang identik dengan ke’hero’an Pak Harto adalah saat beliau berhasil menumpas pemberontakan G-30 S/PKI, mengamankan kondisi negara yang saat itu mulai tidak terkendali. Hingga kemudian Presiden Soekarno (Presiden RI saat itu) memberikan mandat kepada Bapak Soeharto dengan mengeluarkan Surat Perintah yang dikenal dengan nama “SUPERSEMAR”, yang salah satunya berbunyi bahwa Pak Harto dipercaya untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk mengamankan kondisi negara. Pada tahun 1966 itulah Presiden Soekarno mengangkat Pak Harto menjadi MenHanKam sekaligus Panglima TNI. Dua tahun kemudian, maret 1968, sidang MPRS yang dipimpin Jenderal AH. Nasution, menolak pertanggungjawaban Presiden Soekarno dan mengangkat Pak Harto sebagai Presiden RI. Saat itulah babak baru dinasti Cendana dimulai.

Pak Harto menerapkan sistem pembangunan berjangka yang dikenal dengan nama PELITA (Pembangunan Lima Tahun ). Setiap Pelita mempunyai target pembangunan tersendiri. Ketika sempat mengalami bencana kelaparan pada dekade 70-an, Indonesia justru meraih swasembada pangan pada tahun 1986. Di zaman Pak Harto, Indonesia setidaknya 7 kali menjadi juara umum di SEA GAMES, yakni sejak 1977 sampai 1991 (kecuali SEA GAMES tahun 1985). Beliau sangat mementingkan harga diri bangsa.

Memasuki tahun 1996, sebuah kegoncangan besar melanda keluarga Cendana, Bu Tien Soeharto meninggal dunia. Beliau kemudian dimakamkan di Astana GiriBangun. Astana Giribangun adalah pemakaman keluarga Cendana yang terletak 666 km di atas permukaan laut. Kompleks pemakaman ini berada di atas sebuah bukit dibawah komplek pemakaman keluarga Mangkunegara. Kompleks Astana Giribangun ini dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan pada tahun 1976. Astana Giribangun terdiri dari beberapa level. Level tertinggi adalah cungkup argosari yang merupakan tempat makam kedua orang tua Bu Tien, kakak tertua bu Tien dan kemudian makam bu Tien sendiri, dan sebuah liang yang diperuntukan bagi Pak Harto di sebelah barat makam bu Tien. Berikutnya emperan cungkup argosari yang diperuntukan untuk anak-anak Pak Harto (konon begitu…), halaman cungkup argosari, cungkup argokembang dan emperan cungkup argokembang. Menurut informasi, Astana Giribangun ini dapat memuat setidaknya 2000 orang pelayat.

Umurnya yang telah sepuh tak lagi kuat dalam menopang derasnya terpaan goncangan. Pak Harto berkali-kali masuk rumah sakit karena berbagai permasalahan salah satunya pendarahan usus. Pada tahun 2004, usus Pak Harto dipotong. Namun, ia kembali pulih. Pak Harto bahkan sempat menghadiri pernikahan dua orang cucunya, Gendis, putri dari Bambang TriHadmodjo dan putra mbak Tutut dengan Lulu Tobing. Ia kelihatan bugar dalam usia yang memasuki 86 tahun. Empat belas tahun menjelang seabad umurnya.

Namun, sebuah awal baru akan dimulai. Awal dari kehidupan yang jauh lebih nyata dan abadi….

Tanggal 4 januari 2008 Pak Harto dibawa ke RSPP karena kondisi kesehatannya yang memburuk. Para pejabat dan mantan pejabat di era kekuasaannya berdatangan, Pak Moerdiono, Tri Sutrisno, bahkan sahabat Pak Harto dari Singapura, mantan PM Singapura, mantan PM Malaysia, Mahathir Muhamammad, putra Norodom Sihanouk dari Kamboja. Tak ketinggalan Aa Gym pun turut menjenguk. Kondisi kesehatan Pak Harto yang fluktuatif menyebabkan maraknya pemberitaan tentang beliau di tv. Hampir seluruh masyarakat Indonesia jadi hafal dengan istilah medis yang berkenaan dengan penyakit Pak Harto. Setelah beberapa waktu berjuang dengan waktu. Akhirnya waktu itupun datang juga.

Tanggal 27 Januari 2008, kira-kira pukul 13.30 menit, acara “Selebriti Anak” yang disiarkan secara live di RCTI langsung berubah haluan. Penonton terkejut, seolah tak percaya dengan apa yang disaksikan. Dokter kepresidenan bersama mbak Tutut, serta kedua adiknya duduk dalam sebuah konferensi pers. Ketua tim dokter kepresidenan menyatakan bahwa Bapak HM.Soeharto telah berpulang dengan tenang pada pukul 13.10 WIB. Mbak Tutut dengan wajah sembab menahan kesedihan yang mendalam menyampaikan kepada khayalak tentang wafatnya Sang Bapak Pembangunan, HM. Soeharto.

 

Indonesia menangis. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan berita duka cita tersebut dan mengumumkan hari berkabung nasional selama 7 hari dengan mengibarkan bendera setengah tiang.

Jenazah Pak Harto kemudian dibawa ke rumahnya di Jalan Cendana No.8 untuk kemudian disemayamkan sebelum akhirnya dimakamkan di Astana Giribangun, KarangAnyer, Jawa Tengah. Sampai malam hari, pelayat terus berdatangan dan menyolatkan jenazah. Tepat pukul 7 pagi WIB tanggal 28 Januari 2008, jenazah Pak Harto diserahkan ke Pemerintah melalui rangkaian upacara militer yang dipimpin ketua DPR, Agung Laksono. Tiga puluh menit kemudian, jenazah dibawa ke LANUD HALIM PERDANAKUSUMA untuk diterbangkan ke LANUD ADI SUMARMO, Solo. Sepanjang perjalanan, masyarakat terus memberikan penghormatan terakhir kepada mantan Presiden RI ke-2 ini. Mulai dari Gatot Soebroto, Rasuna Said sampai MT.Haryono, masyarakat berdiri di paru-paru jalan bahkan berada di tengah jalan untuk sekedar melambaikan tangan pada iring-iringan jenazah. Jembatan penuh dengan orang yang berdiri sambil mengabadikan moment bersejarah ini. Karyawan di gedung berlantai dua bahkan tegak turut menyaksikan iring-iringan. Empat buah bus besar yang memuat keluarga Cendana yang penuh haru mendapat lambaian dari masyarakat.

Pukul 8.30 WIB rombongan tiba di LANUD HALIM PERDANAKUSUMA. Jenazah Pak Harto akan diterbangkan dengan pesawat Hercules A-1341 sementara keluarga akan dibawa dengan pesawat komersil Pelita Air dan Transwisata. Kira-kira 8.50 WIB Hercules lepas landas di runway terbang menuju Solo. Hampir pukul 10, dua pesawat yang membawa rombongan jenazah landing di LANUD ADI SUMARMO, Solo, (tidak diketahui dengan jelas apakah salah satu dari pesawat tsb adalah pesawat Hercules) kemudian jenazah beserta rombongan keluarga melanjutkan perjalanan ke Astana GiriBangun yang diperkirakan memakan waktu 45 menit.

Perjalanan dari LANUD ADI SUMARMO menuju Astana Giribangun ternyata memakan waktu lebih dari sejam dikarenakan banyaknya kerumunan massa yang ingin memberikan penghormatan terakhir buat Pak Harto. Menjelang pukul 12 jenazah sampai di Astana Giribangun dan pelaksanaan upacara pemakaman pun dimulai.

Sebuah liang lahat berkedalaman 2,5 meter dengan lebar 1,5 meter dan panjang 2 meter telah siap untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir Pak Harto. Sebelum dikuburkan, jenazah Pak Harto diubah posisinya menghadap Kiblat. Upacara pemakaman yang diinspekturi Presiden RI ke-6, Pak Susilo Bambang Yudhoyono, berlangsung khidmat di dalam cungkup Argosari. Pelayat yang diperkenankan berada dalam cungkup Argosari ini hanyalah Presiden, wakil Presiden, menteri-menteri, tamu negara dan keluarga inti pak Harto. Sementara pelayat yang lain hanya diperkenankan berada di cungkup argokembang.

Menjelang liang lahat ditutup, mbak Tutut menaburkan bunga, Sigit, adiknya meletakkan tanah bahkan Presiden SBY secara simbolik turut meletakkan tanah. Pemakaman Pak Harto berlangsung pukul 12.15 WIB, waktu yang pas sesuai dengan wasiat beliau, bahwa ia ingin dikuburkan sebelum waktu zuhur.

Kini, Sang Pembangun itu telah menghadap Khalik sambil membopong setiap amal baktinya beserta amalan-amalannya selama hidup. Ia tak lagi berbaring sakit dengan ventilator terhubung ke tenggorokannya. Ia sudah tenang bersama Robb pencipta-Nya. Ia akan berhadapan dengan Sang Maha Rahim, yang Maha Tahu sampai setiap detak nafas yang terhembus baik yang pelan ataupun yang tak terlacak.

INNALILLAHI WA INNAILAIHIROJI’UN……….

SELAMAT JALAN PAK HARTO………

SEMOGA AMAL BAKTI-MU DITERIMA DI SISI ALLAH SWT

 

SEBUAH AWAL BARU DARI PERJALANAN PANJANG AKAN DIMULAIKETIKA ENGKAU MENGAKHIRI JALAN YANG PENUH KEFANAAN INI

 

                                          SUMBER : dihimpun dari berbagai sumber media eletronik yang begitu gencarnya menyiarkan berita wafatnya Pak Harto….plus buku pintar edisi XV yang telah bertahun-tahun lalu kumiliki…..

 

 

 

“Bermohon maaf jika ada info yang disampaikan disini tidak terlalu tepat…Mohon koreksinya…….”

3 pemikiran pada “Sebuah awal dan sebuah akhir

  1. Ternyata si bapak masih begitu kuat pengaruhnya ya?
    Saya sendiri sejujurnya ngga begitu mengidolakan beliau, terlebih karena th 97 lalu saya pernah ikut berpanas2 menuntut beliau mundur. Tapi ya sudahlah apappun itu biarlah si bapak pergi dengan tenang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s