HUJAN…BYUR…(-ber)

Akhir-akhir ini hujan menderu tak henti-henti. Menyumbangkan senyum berat si awan hitam ups kelabu maksudnya…Terkadang hanya menyisakan waktu sehari untuk mengeringkan pakaian dengan sinar matahari (Betapa Allah SWT Maha Baik..), lalu malamnya akan dibantai hujan petir yang menggelegar. Seingatku sekarang sudah masuk Februari, lewat sudah bulan yang berakhiran -ber. Tapi tidak demikian halnya dengan hujannya.

Pernah suatu kali, saat akan ke kampus dengan naik motor bareng adikku, kami diguyur hujan lokal. Di jalan yang sama kami mengalami 3 tahap hujan lokal. Pertama, hanya rintik-rintik..lalu mulai deras..dan terakhir…deras sekali…dan kami pun terpaksa berteduh di sebuah lapak penjual air tebu.

Hujan yang terus menerus menyebabkan sebagian kawasan terkena “side impact”, yang lebih dikenal dengan nama BANJIR. Bahkan daerah yang nyata-nyata jauh dari sungai ikut kecipratan. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini adalah betapa ‘biasanya’ mendengar kisah suram penduduk Jakarta yang kebanjiran. Banjir memang tak kenal bulu, mulai dari masyarakat kawasan elit sampai golongan menengah ke bawah. Di setiap stasiun tv akan muncul berita-berita tentang masyarakat jakarta yang kebanjiran.

Rupanya sekarang, provinsiku yang hanya punya beberapa sungai besar dan masih mempunyai persediaan kawasan hijau yang lumayan juga mulai terkena imbasnya. Banjir tidak hanya melanda daerah yang berada di sekitar aliran sungai. Bahkan kawasan perkotaan. Sungguh ironis!

Kawasan kampus ku yang masih diselimuti hutan bahkan tak kurang tak lebih ikut nongol di stasiun tv nasional sebagai salah satu kot ayang ikut terkena banjir. Jika ingin ditilik penyebabnya sebagian karena menghilangnya pepohonan besar yang dahulunya tumbuh di pinggir jalan di gerbang kampus, yang lainnya adalah karena daerah yang dulunya penuh pohon kini sudah berganti dengan pohon beton alias ruko. Tak heran kawasan kilometer 12 pada kebanjiran.

Tetangga kampus kami alias RSJ pada panik. Penghuninya (baca:orang-orang yang kehilangan kewarasannya) berteriak-teriak karena panik melihat genangan air yang lebih dari betis orang dewasa. Akhirnya mereka dievakuasi dengan perahu karet. Sekali-kalinya aku melihat perahu karet secara langsung maklum biasanya khan cuma di tv he..he..

Masyarakat sepatutnya mulai memperbaiki pola hidup. Kebersihan drainase dan tidak membuang sampah sembarangan adalah salah satu cara yang paling sederhana.Mari kita coba mempunyai sebuah atau mungkin dua buah pohon di rumah kita. Ingatkan pengembang untuk mempunyai kawasan hijau atau yang lebih dikenal “Daerah Resapan Air”. Jangan tebang pohon -pohon besar yang berada di sekitar anda. Lakukan demi anak cucu anda…!

Save the Earth !!

5 pemikiran pada “HUJAN…BYUR…(-ber)

  1. saya setuju dengan anda… bagaimanapun… bumi yang kita pijak… pohon pohon dan tanaman disekitar kita adalah titipan untuk “anak cucu kita”… patutkah kita merusak dan membiarkannya terbengkalai begitu saja….

  2. nah.. tapi kesadaan sendiri tanpa adanya dukungan dari pihak yang etrkait juga sama sama boong kan… harusny aterjadi keterjalinanya kerjasama untuk membenahi sektor hutan dan kondisi sungai yang baik… sehingga di waktu hujan… tidak akan seperti ini

    “Tepat sekali, mas!”
    Everything should be on the same chain of train..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s