Rindu

Duhai angin yang gemerisik

Sampaikan salam atas kerinduanku

pada Juwita Malam

Yang Jelita

Harum

Semoga Ia diberkati

5 pemikiran pada “Rindu

  1. Daun Daun Cahaya

    Saat akarnya mulaimenebar semesta sinar
    Akan kau rasakan sejuknya mengalir di kedua tubuhmu
    Yakinpun matahari tak mampu lontarkan lentera keringnya dipelataran bumi.
    Angkara dukapun tak sanggup merobek dinasti sucinya

    Sampai semua sarinya membentuk kokoh batang nurani.
    Anginpun akan bertiup kepenjuru tujuh langit
    Yaitu saat dimana angkasa cinta bertahta
    Ampas dukapun tak lagi bersisa
    Nur kenganggunan telah tertunjuk jelas dan
    Gemuruh halilintar sambut gejolak cintaku

    Elok gemulai bayanganmu lantunkan gemericik buaian
    Membuatku tertarik dalam sebuah kisah sejarah panjang
    Inikah awan – awanmu yang terbakar ?
    Lupakan dukamu, kan kubangun sejuta cinta dibalik awan
    Yakini hatimu, kan kuselipkan nafas asa dibahu surya hatimu.

    Sukmaku kini tertawan di seribu nada asmara jingga
    Erosi jiwaku, kerontang hitam hidupku tlah kau warnai dengan noda kasihmu.
    Laut, masihkah kau persilahkan aku tuk mencicipi ombakmu ?
    Angin, dapatkah kau tuntun aku menuju dasar cinta yang tak berujung ?
    Luapan setia, akankah keluar aku dari penjara duka ?
    Usai sudah pengelanaanku di daun-daun cahaya.

    words & poets by:
    Zulham Effendi

  2. Sungguh…
    ketika masih ada makhluk Tuhan yang Agung di bumi ini
    Ketika ia masih bersujud di gersangnya dataran ini
    Ketika lantunan doanya masih melewati pintu langit

    Bumi khan tenang
    Bumi dan langit kan setia

    Saat manusia masih setia memegang janjinya
    ‘tuk memanggul amanah ini

    (masih belum sebanding dengan puisinya mas Zulham, nih😀 …Puisiku masih dasar…:))

  3. Sama, saya juga masih awam sebenarnya ! Panggil saja saya Effendi. Zulham nama yang kebanyakan. Tapi bukan berarti saya tidak suka. Puisi putri juga sangat menggugah relung, menyobek keheningan.

    Oh..ok, mas effendi…
    Terima kasih atas pujiannya…’menggugah relung, menyobek keheningan’..apa rasanya tidak berlebihan..? eng..jadi malu, nih…he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s