Oplet Vs Ojek

oplet.jpg VS pbase.jpg

Hari ini sebuah pemandangan unik tertangkap oleh lensa mataku. Di dalam sebuah oplet hijau jurusan panam (warna setiap oplet berbeda-beda tergantung dari jurusan masing-masing oplet) yang sedang ngetem di persimpangan gerbang kampusku, aku mengamati beberapa penumpang yang lebih memilih menaiki ojek ketimbang oplet yang kami naiki. Padahal saat itu penumpangnya hanya tiga orang, aku, seorang mbak-mbak berkaca mata dan seorang bapak (mungkin temannya si supir, soalnya dia asyik ngobrol sama si pak supir) yang duduk di depan.

Selama ini kukira orang-orang lebih suka naik oplet karena ongkos jauh deketnya adalah ‘sama’, lebih rame, dan cenderung lebih murah ketimbang ongkos ojek. Ternyata, bagi beberapa orang justru lebih nyaman dan merasa ‘lega’ naik ojek. Terbukti , sudah empat orang calon penumpang oplet lebih memilih naik ojek. Padahal kami penumpang yang berada dalam oplet itu sudah h2C (harap-harap cemas) soalnya kami sudah berada dalam ‘opel’ itu lebih dari 10 menit. Untung saja ‘janji’ dengan dosennya jam 11 siang, sekarang masih pukul 9.45 wib.

Tiba-tiba, aku berpikir tentang dua angkutan umum yang merakyat ini. Kita mulai dari ojek. Ojek adalah kendaraan roda dua yang di’alternatif’kan menjadi angkutan publik yang hanya bisa mengangkut satu orang dewasa, beberapa belanjaan atau justru dua orang anak kecil. Mereka biasa mangkal di persimpangan jalan besar yang tak bisa dimasuki oplet, dekat gang kecil, persimpangan perumahan atau kampus. Keuntungan dari angkutan jenis ini adalah penumpang dapat segera sampai di tempat tujuan secepat mungkin tanpa harus menunggu ojeknya penuh seperti lazimnya oplet. Bahkan bisa sampai langsung di depan gedung/rumah yang kita tuju, right on the place.Pengendara ojek biasanya pake jaket parasut atau rompi, memakai helm, sepatu atau sandal seadanya. Tukang ojek biasanya ‘ahli’ dalam mengenali calon penumpangnya. Cuma bahayanya adalah ke’privasi’an antara penumpang dengan si tukang ojek. Bayangkan jika anda naik ojek malam-malam, hanya berdua dengan si tukang ojek. Alamat berbagai lintasan buruk berkelebat di pikiran kita. Perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan adalah sederat kriminalitas rutin yang dialam penumpang ojek atau bahkan si tukang ojek sendiri. Sedikit ironis memang.

Bagaimana dengan oplet ? Angkutan umum dengan jenis mobil ini setidaknya membuat kita lebih aman dan nyaman karena ongkosnya yang ‘murah’ dan banyaknya penumpang yang bisa diangkut.Kita bisa bercakap-cakap dengan teman yang pergi bareng. Bisa langsung serombongan tanpa harus terpisah-pisah.Setidaknya berada dalam kerumunan orang justru lebih baik ketimbang hanya berdua saja dengan si supir.

Hmm…sekarang tergantung kita saja mau memilih yang mana ? Oplet atau ojek. Aku pribadi lebih memilih naik oplet atau bus kota kecuali jika ada ojek wanita ()

2 pemikiran pada “Oplet Vs Ojek

  1. Lho masih ada oplet? di daerah mana itu? apa kaya oplet si Doel itu? wah lucu juga tuh kalo mobil seperti itu masih ada..


    oplet di tempatku ini adalah nama lain dari angkot. Masyarakat pekanbaru lebih sering memakai nama “oplet” untuk angkot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s