Perjalanan 17-an

Tatkala riuh rendah suara kebahagian terpekik nyaring dari mulut anak-anak yang sedang ikut perlombaan 17-an membahana, kami sekeluarga justru berada dalam perjalanan ke Bengkalis. Setelah mengikuti upacara bendera di kantor, kami sekeluarga memulai perjalanan menuju Bengkalis. Nyai-ku, nenek dari pihak ayah, tinggal di sana. Kupikir selain tempat tinggal nyai, Bengkalis hanyalah ibukota dari sebuah kabupaten di provinsi Riau. Bengkalis dilihat dari wikimapia.

Dahulu, saat aku dan adik-adikku masih kecil, kami mudik ke Bengkalis dengan speed boat, membelah sungai Siak dan Bengkalis. Aku dan adik-adikku sangat menyukai perjalanan laut dan sungai, mungkin karena kami adalah anak-anak laut (ca’elah..gayaku..he..he..). Belakangan, Bengkalis tidak hanya bisa ditempuh via sungai tapi juga lewat darat. Berhubung seiring perjalanan waktu aku dan adik-adikku telah beralih menjadi anak-anak darat (karena kami tidak lagi mabuk darat jika menempuh perjalanan darat😆 ) maka kami pun mengikuti rute terbaru.

Berikut adalah rute perjalanan darat menuju Bengkalis :

♣ Pekanbaru – Simpang Lago – Siak – Sei. Pakning = rute ini memakan waktu kurang lebih 4 jam

♣ Pekanbaru – Perawang ( 1 jam ) ◊menyebrang sungai via ferry kecil → Perawang – Tl. Mesjid ( 2 jam ) menyebrang sungai via ferry kecil→ Tl. Mesjid – Sei. Pakning (1 jam)

♣ Pekanbaru – Simp. Beringin (Perbatasan Pelalawan) – Siak (melalui Bungai Raya) – Sei. Pakning = rute ini memakan waktu cukup 3 jam saja.

Dari Sei. Pakning ke Bengkalis kita harus menyebrang dengan menggunakan roro (kapal yang bagian geladaknya bisa mengangkut mobil dan motor). Jika arus dan angin lancar maka perjalanan hanya memakan waktu 0,5 jam saja. Tapi jika buruk…siap-siap mengarungi sungai Bengkalis selama 45 menit atau bahkan satu jam.

Penyebrangan di Tl. Mesjid

Biasanya kami memilih rute kedua jika ingin bepergian ke Bengkalis namun kali ini Bapak ingin mencoba rute yang lain, yakni rute ketiga. Rute ketiga ini tidak harus menyebrang sungai seperti rute kedua. Meski sebenarnya aktifitas menyebrang adalah salah satu ‘seni’ dalam mudik. Karena beberapa waktu lalu saat kami sekeluarga mudik ke Bengkalis harus ngantri berjam-jam di penyebrangan ferry tsb (Phuff..melelahkan sekaligus menyenangkan😀 )

Rute ke tiga ini menyuguhkan pemandangan yang berbeda. Sekeliling jalan hanya ada areal perkebunan kelapa sawit. Kiri-kanan jalan hanya ada sawit. Sepanjang jalan mata memandang hanya ada sawitsawit dan sawitTerus terang sebagai anak teknik kimia, sisi komersilku sangat senang dengan hal ini. Tapi, sungguh, dari batinku yang terdalam, pemandangan sawit terus-menerus bukanlah referensi yang mengasyikan..he..he..Sangat kontras dengan rute kedua yang agak bervariasi, sawit dan pipa minyak….(engineering sekali, khan ?😆 ). Pemandangan menarik tersaji saat kami melewati Desa Langkai. Sebuah mesjid tanpa dinding berdiri megah di antara areal persawahan dan kebun warga. Masjid itu bernama Masjid Ar-Rohim satu komplek dengan pesantren Babusalam.

Sawit..Sepanjang mata memandang

Sawit..Sepanjang mata memandang

Pipa-pipa minyak bagai ular panjang...

Pipa-pipa minyak bagai ular panjang...

Masjid tak Berdinding

Masjid tak Berdinding

Selain itu, pemandangan Jembatan Siak dan masjid raya siak sedikit menyejukkan setelah sekian lama hanya berteman hutan dan sawit sepanjang perjalanan….😆

Jembatan Siak Sri Indrapura

Jembatan Siak Sri Indrapura

Masjid Raya Siak

Masjid Raya Siak

Untunglah hari itu adalah tujuh belas agustus. Di beberapa kantor camat/lurah yang kami lewati terpancang pohon pinang yang sudah siap untuk dipanjati. Rumah-rumah penduduk semarak dengan bendera merah putih dan umbul-umbul. Rasanya ini adalah perjalanan tujuh belasan yang meriah. Apalagi saat perjalanan balik ke Pekanbaru kami sempat melihat perlombaan panjat pinang di dekat penyebrangan Perawang (saat pulang, kami hampir memilih rute kedua..tapi karena antri menyebrang akhirnya kemudi mobil berputar arah mengambil rute ketiga).

Panjat pinang di penyebrangan Perawang

Panjat pinang di penyebrangan Perawang

Saat memasuki areal kelapa sawit menuju Simpang Beringin jalan yang dilalui masih dalam tahap pengerasan. Batu-batu kerikil bertebaran di jalanan merah yang berdebu. Setiap kali ada mobil yang berpapasan maka keduanya akan saling bertukar debu. Atau jika ada kendaraan di depan maka ia akan mewarisi kendaraan yang di belakangnya rangkaian debu merah bata yang tidak menyenangkan. Jalanan ini ditempuh 40-50 km/jam (entah kenapa aku sangat intens melihat speedometer mobil yang dikendarai oleh bapak-ku itu😆 ). Lebih lambat dari pada saat kami berada di jalanan aspal yang lurus, kecepatan bisa mencapai 120 km/jam (rata-rata hanya sekitar 100-110 km/jam saja, sih he..he..). Uniknya (mungkin seharusnya menyedihkan...) ada pengendara sepeda motor yang juga melewati rute ini. SI pengendara motor dan penumpangnya (bahkan ada yang membawa anak kecil) akan ikut menikmati debu-debu itu. Ugh…sungguh tidak menyenangkan..Jika saja jalan itu di aspal lebih cepat….hm…

Well, itulah dia sekelumit kisah tentang perjalanan tujuhbelasanku…Berbeda serunya dengan perjalanannya mang kumlod, mbak Carra, mas Tigis dan bahkan mbak Yella (mana foto2 pernikahannya, mbak..he..he…). Tapi, aku menikmati perjalanan tujuhbelasanku kali ini….😆

PS: Sebagian besar foto diambil dari dalam mobil yang sedang berjalan…Jadi mohon dimaklumi kalo gambarnya kurang begitu ‘pas’…

32 pemikiran pada “Perjalanan 17-an

  1. Ehemm ahem…. ladi seneng jalan2 nih… ikutan dwonggg
    Kalo lewat laut aku pasti kliyengan pas nyampe darat…..
    Perjalanan penuh liku yaa hehe…. Tapi Asyiiik tentunya….Kalo yang lari 40-50km/lam setelah berjalan jauh?? yang ada bikin pinggang dan dudukan tambah panas, secera kapan nyampenya gituloch hehe…..:D

    Wui….BU Rita anak darat ternyata..he..he…
    Tul, Bu….apalagi kalo jalannya berbatu…tapi, ya..dinikmati aja..pose duduknya bermacam-macam, biar gak capek….he..he..

  2. Wah klien ogut dulu plg banyak di daerah Sumatra, baca postingan ini bikin kangen … hmmm..
    btw, mana foto orangnya niy ?? ogut berusaha liat spion..tp ga jelas..

    Oya, dah ogut ikutin tuh di doanya wi3nd.. bae ya ogut …

    Yang empunya blog sibuk ngelihatin kiri kanan perjalanan, mas Gempur..he..he..

    IYa…mas Gempur emang bae, deh..he..he..

  3. Sekali-sekali pengen juga ke Bengkalis…
    Panggilan neneknya sama dengan Madura… “Nyai” ya…

    Come on, mbak Nin..sesekali jalan2 ke sana😀
    Bukan…NYai, panggilan nenek dalam bahasa Palembang…Ayah dari pihak Bapak orang Palembang. Jadi, manggil neneknya….”nyai” he..he..

  4. jadi pengen jalan2 ke sumatera nih…
    pinang yang kanan kok dipayungin? ga bakal ngaruh atuh kalu ujan juga… *oon mode on* kekekekek…8x

    he..he…Mudah2an mang kumlod seneng ama pemandangan sawitnya..😆
    Oh..iya..iya..bener juga😀

  5. perjalanan yang melelahkan tapi menyenangkan sangat ! tiada perjalanan tanpa ada yang bisa ‘ditangkap’🙂 eh jadi ingat saat masih bolak-balik surabaya-banjarmasin 20 jam -itu juga kalo lancar dan cuaca bagus- pakai kapal laut, dan tak pernah membosankan bagi saya🙂

    20 jam ? Lama sekali, ya…
    Tapi yang namanya perjalanan laut memang selalu mengasyikkan…:D

  6. wah pemandangan di jalannya kebon sawit melulu ya, bosen deh, panjat pinangnya kayaknya seru yah

    Yah, begitulah, wi…Sawit dimana-mana…Maklum sekarang khan lagi trend perkebunan sawit..he..he..

  7. hmm,
    jadi bisa mengenal negeri tercinta ini di belahan yang lain,
    lewat foto-foto yang bercerita,….

    jadi kangen nuansa perjalanan….
    sukses yach!!🙂

    Mas Rahmadi kudu sering jalan-jalan nih, tampaknya😆
    Terima kasih…

  8. daerah nya bagus ..
    ongkos nya berapa yah ke siak?? kalo dari jakarta

    Wah..kalo dari Jakarta…eng…saya kurang tahu pasti..
    Yang Jelas kudu singgah ke Pekanbaru dulu, pak…Baru deh dari Pekanbaru lanjut ke Siak..

  9. busyet… berjam-jam di perjalanan gak teler tuh

    btw, bengkalis cukup maju juga ya…

    Alhamdulillah enggak…
    Kalo mas Herry nanya-nya sepuluh tahun yang lalu..mungkin Put sudah teler dengan perjalanan yang begitu jauh…he..he..

    Lumayan-lah…namanya juga ibukota kabupaten😀

  10. dah lama nggak nonton panjat pinang nih🙂

    saya juga, mbak…
    Saat perjalanan pulang kemarin itulah saya menyaksikan panjat pinang he..he..

  11. ingin sekali ke Sumatera, sekali-sekali..

    hm, kemarin bawa2 bendera Indonesia ga? sekalian touring kemerdekaan, h2

    Ayo…ke sumatera, dong….banyak lokasi2 wisata yang bagus di sini…:D
    Ah..sayangnya enggak…Saya ingetnya justru dalam perjalanan pulang…Kendaraan kami bahkan gak pake bendera he..he…

  12. Assallammualaikum.
    hmm..putri makin asyik aja nulis. kalau aku..wah..lagi sibuk buat wordpress theme sendiri. Emily..aku pending. senang setting interface sih. btw. ntar saya bagi kan deh kalau dah jadi.. mau kolaborate sama Ara di WWA Magazine. MOga berhasil.
    Keep in touch.

    Waalaikumsalam
    Pantesan…Put sering mampir ke ‘rumah’nya mas efendi..tapi masih belum ada up date-an terbaru..😦
    Sip, deh…Pokoknya Put tunggu ‘produk’ jadi-nya..he..he..
    Sukses selalu..
    Wassalam

  13. saya pernah berkunjung ke Bengkalis….sea food nya itu lho yang bikin kangen hehe…salam kenal ya….

    OH, ya…wah..seru dong, ya…😆
    Setiap nyampe di sana saya selalu makan makanan rumahan, pak…Jadi malah jarang makan sea foodnya..:)
    salam kenal kembali

  14. Kau di Riau ya Syl? Bisa menghubungi IKHSAN 081365609191. Alternatif lain, beli langsung ke kami sesuai petunjuk di “pembelian buku”.

    Kalau ingin “TERCERAHKAN” tentang problem dunia, baca “Demokrasi Tersandera?” Betapa masalah dunia yang sangat rumit terurai menjadi sangat sederhana dan gampang dipahami.

    Yupe…saya di Riau, pak BigBang
    hem…seperti itu, ya…hem…….

  15. kok dibangu serep… saya ngesot aja deh… wkwkwkwkwk…………

    Weu…dikasih bangku serep gak mau…malah ngglesot..ckk..ck…emang aneh, nih..mas degan…

  16. emmm…seru yakh perjalananya?asyiik pastinya..:)
    *membayangkan*
    daku nda bisa meliput apapun saat ituh,terbaring tak berdaya pada sebuah Rumah Putih[allaaah kok malah curhat]
    mana oleh2nya put heheh..


    Duh…mbak wi3nd..Put jadi ikutan sedih..
    Tapi sekarang udah baikan, khan ? Udah minum obat belum ?
    Oleh-olehnya….eng..eng…
    *menggaruk kepala, bingung mo jawab apa..:D

  17. wah foto mesjid tanpa dindingnya keren tuh. Tp beneran tuh ya tanpa dinding? koq bisa aman ya sound systemnya kagak digondol orang:mrgreen:

    Mesjidnya hanya ditopang pilar-pilar, mas…Sepertinya aman…Soalnya berada dalam kawasan pesantren…:)

  18. Wah perjalanan jauh buat 17-an
    Kalau aku malah nyangkul di PT…..
    Gedhean mana jembatan Sri indrapura dengan barelang 1 ?

    Wah..saya belum nyampe di Jembatan Barelang 1, pak..Jadi, gak bisa kasih perbandingan…:lol:
    Tapi kalo di bandingkan dengan AMPERA di Palembang, masih besar AMPERA…

  19. salam kenal …mbak
    photo2nya bagus banget,,,,,,,,,,,,,,,,

    Salam kenal…argobel..

    Terima kasih…
    cuma, ya..harap maklum…’capture’ gambarnya dalam mobil yang sedang bergerak…jadi ada sebagian yang rada burem😀

  20. Poet …
    Ini laporan perjalanan yang simple tapi menarik …
    hhhmm …
    jadi pengen ke kabupaten siak nih …
    keknya unik …

    Wah..senangnya dipuji ama pak trainer yang udah kesohor…😀
    Boleh, pak…Silahkan…Kalo ke sana jangan lupa mampir ke Istana Siak yang kesohor itu, ya, pak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s