EyE WitNeSS

Kamis sore itu langit menyisakan mendung. Semilir angin, membuat perjalanan pulang hari itu sedikit lebih baik. Aku dan adikku sedang asyik berbincang. Ketika motor yang kami kendarai melewati rektorat kampus, beberapa kendaraan mengambil posisi ’kencang’. Jalanan lurus dan terkadang sepi menggoda pengendara manapun untuk memacu adrenalin mereka. Beberapa pemuda sedang jogging sore beberapa meter di depan. Tak ada yang aneh sore itu. Semua berjalan sebagaimana biasa.

Aku sedang menatap pepohonan di sebelah kiri jalan saat kudengar adikku beristigfar..

”Astagfirullah …!”

Reflek aku menatap ke arah kemudi yang berada di sebelah kanan badanku, *saat itu posisi dudukku menyamping*

Plek..!, seorang pemuda tergeletak di jalan dalam posisi yang mirip dengan posisi orang-orang yang baru saja jatuh dari ketinggian. Sebelah kakinya lebih tinggi dari kaki yang lain. Sejurus kemudian seorang pengendara motor berjuang mempertahankan kestabilan kendaraannya. Ia berusaha keras namun tampaknya ’goncangan’ itu tak kuasa ditahannya. Motornya oleng. Pengendaranya ’melompati’ motor yang tergolek beberapa meter dari pemuda yang tergeletak di jalanan itu. Ia langsung menghantam aspal, entah apa yang terlebih dahulu mendarat ke bumi. Helmnya menjadi pelindung kepalanya yang mencium aspal. Namun tampaknya, momentumnya begitu ’pas’ hingga ia kembali mental. Kali ini helmnya terlepas dan kepalanya langsung menggantikan posisi helm, kepala bagian samping, lebih tepatnya. Aku ngeri melihatnya. Ya, Allah …!
“Mbak, kita berhenti ?”
“Ya…berhenti, Ti…”
Kami turun dari motor.

Teman-teman si pemuda yang jogging itu segera memindahkan temannya yang tergeletak di jalan. Mengangkat si pengendara motor, yang seorang wanita, memindahkan motornya, helm dan tasnya.

Detik berikutnya, aku melihat si pemuda duduk di sebelah kanan jalan bersama temannya. Kurasa ia menenangkan diri. Sementara si mbak terduduk dengan kaki yang berselojor lurus. Aku melihat kakinya yang terluka, dibagian bawah hidungnya berdarah. Adikku sibuk menanyakan bagaimana lukanya dan memberikan tisu untuk menghentikan darahnya. Suasana agak kalut saat itu. Beberapa orang berhenti, sibuk menanyakan apa yang terjadi. Dan seperti sebuah harmoni…aku dan adikku tidak terlalu memperdulikan pertanyaan mereka. Aku memperhatikan luka-luka si mbak dan mengatakan dengan nada menenangkan..

“Gak pa-pa, kak..!” dan si mbak kemudian tidak terlalu memperhatikan lukanya…yang menurutku sebenarnya ‘lumayan’. Yah. Setidaknya ia tidak mencemaskan lukanya…karena kupikir rasa cemas justru memperparah kondisi fisik dan mental seseorang.

Orang-orang mulai mengerubungi kami..lalu petugas security pun datang. Ia mulai menanyakan siapa korban dan siapa ‘yang dapat ditunjuk hidungnya’. Jika melihat kondisi yang terjadi..si mbak bakal didaulat menjadi korban..lalu siapa yang bakal menempati posisi yang ‘satu’nya ? Kurasa saat itu belum ada yang menjelaskan duduk perkaranya..Tapi, aku segera berkata ke si pak security..

“Pak..kakak ini harus dibawa ke rumah sakit…” Si bapak mengangguk…dan kami pun segera menghentikan sebuah mobil..Alhamdulillah, bapak si empunya mobil yang baik hati itu bersedia mengantarkan si mbak…Beberapa orang naik ke mobil itu..si mbak, beberapa temannya si mbak yang sudah datang karena sebelumnya sudah dihubungi. Kecuali si anak laki-laki yang tadinya terbaring di jalan…

Beberapa saat sebelum kami menghentikan mobil, adikku terlihat emosi saat berbicara dengan seorang pria, yang datang entah dari mana. Ia bahkan menunjuk ‘hidung’ adikku. Kontan adikku membela diri dan menjelaskan kejadiannya…Ia agak panas..aku melihat dari kejauhan dari caranya berbicara. Saat itu aku sedang berbicara dengan pak security..

Sore makin menanjak….sebelum mobil yang berbaik hati itu berangkat, aku meminta si anak laki-laki *ato tepatnya pria muda* yang tadi tergeletak di jalan *aku bahkan menduga ia pingsan* untuk ikut masuk ke mobil.
“Kamu itu perlu dicek, dek”
“Gak pa-pa, Kak ”
“Ikut aja…gak pa-pa…Tadi khan kamu jatuh…”sambar adikku..Secara ia yang melihat dengan jelas kejadiannya..
“Gak pa-pa, kak…” ia tetap menolaknya…Kami bahkan berulang-ulang memintanya ikut..Aku sampai bosan…dan akhirnya berkata..

“Gak usah mikir yang macam-macam…Yang penting sehat…!” Wajah piasnya membuatku melontarkan perkataan yang barangkali hanya ‘nyambung’ oleh dia dan adikku. Ergh…

Dan ia tetap keukeuh…aku dan adikku berpandangan..lalu kami memutuskan untuk membiarkan anak itu dengan keputusannya…

Sepanjang perjalanan bahkan setelah sampai di rumah, adikku (dan kurasa aku juga😀 ) masih membahas permasalahan yang sama…Adikku bahkan menyimpulkan..[sepertinya dari hasil debat dia dengan si pria yang seenaknya menunjuk ‘hidung’nya]

“Seseorang takut menjadi saksi mata karena khawatir salah menjelaskan…atau bahkan khawatir bahwa ia yang dituduh sebagai pelaku”
“Dalam kejadian itu…sulit memberikan ‘telunjuk’ siapa yang korban dan tersangka…”
“Dua-duanya salah…yang satu…jogging sampai memakan badan jalan dan yang satu ngebut..”
Aku hanya manggut-manggut..

22 pemikiran pada “EyE WitNeSS

  1. yah … emang begitulah hukum di Indonesia,
    terkadang gak bisa memberikan ‘keadilan’. tapi tenang aja … klo gak bersalah gak usah takut, yg penting korban selamat.

    Sepakat bener, nra..
    Pokoknya selama “benar” dan “ngikut aturan”..tidak ada yang perlu dikhawatirkan😀

  2. Jadi inget, kalo ngga salah november lalu. di outer ringroad menuju jatibening. Ada mobil honda mewah (baru, masih kinclong!), ngebut zig-zag, dari jalur kiri ke jalur kanan bolak-balik. Sempet ngomel juga aku.
    Kira-kira 5 menit kemudian lalu lintas jadi lambat. Wew, ternyata mobil yang tadi kuomelin nabrak pemisah jalan, sampai roda depan kananya lepas dan posisi mobilnya berbalik menghadap arus.
    Suamiku berhenti, juga satu mobil lainnya. Mereka terus mbantuin si supir (anak muda) nyari kacamatanya yg lenyap. Lumayan lama kita disana, sekitar 20 menit. Sampai dateng polisi dan mobil derek. Akhirnya suamiku dan mas-mas dari mobil yang juga berhenti balik ke mobil masing-masing dan ngelanjutin perjalanan.
    Tiba-tiba suamiku ketawa, “wah, baru inget, aku kan ngga bawa SIM yak! Untung polisinya ngga nanyain!”
    Ckckckck….:)

  3. Mhh… itu sebenernya saat terbaik ntuk ngetes emosi seseorang Put .. termasuk emosi kita .. Sekuat mana konsistensi emosi kita bereaksi atas pengaruh luar. Biasanya akan terlihat pada hasil akhirnya..
    Salah satu contoh terbaik yang pernah ogut liat adalah saat bang Anas Urbaningrum berdebat panas di era 97-98… emosinya tetep konsisten.. salut

    Moga aja ada hikmah yg diambil…

  4. Ko tulisan judulnya pake gaya anak ABG sih Put? UntUNg jUduLNyA aJA ga semua tulisan di blog ini begitu, bisa pusing daku bacanya…

    Jadi saksi mata di negara kita mesti bener2 punya nyali. Selain harus siap kalau diteror pihak pelaku, juga harus siap kalau nanti malah dituduh pelaku sama oknum Polisi. Tapi kalau untuk kasus di atas, ya kenapa takut?

    Berani karena benar takut karena salah (Duh… PMP banget sih?)

  5. @nina
    Berkah menjadi orang yang baik…bukan begitu, mbak ?
    @sunarnosahlan
    Begitu kah ?
    @Gempurr
    Hayya…tepat sekali.
    Pengontrolan emosi..baik itu berupa kemarahan atau justru rasa kesal…
    @mang kumlod
    lagi pengin acTion dikit, mang😀
    Masalahnya terkadang ada orang yang ‘asal bunyi’ hingga terjadi kesalahpahaman..Apalagi kalo main tunjuk-tunjuk….
    PMP !!!! Pancasila banget !! he..he…
    @emfajar
    sepertinya kita pribadi yang harus memulainya..sepakat !

  6. Salam
    *mengimajinasikan suasananya dulu
    Hmm… dalam keadaan kayak begitu ketenangan dan bertindak cepatlah yang terpenting je..yang jelas berani karena benar takut karena salah *halah* so.. jd saksi mata? siapa takut?

  7. Turut prihatin.. Salah2, saksi malah berubah status jd tersangka.
    Lucunya lg ada jg yg seperti ini, udah jelas memang org itu yg salah, eh malah dianya yg maki-maki si korban.. Sopir angkot di ***** ini suka kek gitu, Put.. He2.

  8. wah ngeri kalo liat kecelakaan. Apalagi kalo sampe patah2x tulang. Tp eniwei, mgkin krn kebiasaan di negeri kita utk tabrak dan langsung lari jadinya org2x kalo ada kecelakaan langsung berusaha mencari kambing yg sebenarnya biar ga sempet lari dan bisa dimintain pertanggungjwbannya.

    Org indonesia memang ga semuanya bertanggungjwb

  9. alhamdulillah masih ada yg bersimpati menolong mbak, beberapa yg lalu sy pulang kantor jg melihat orang ditabrak mobil dan tergeletak pingsan berdarah2…namun tak seorangpun yg mau menolong mengangkat ke atas mobil d antarkan ke RS…….kemana ya rasa kemanusiaan kita?? ya mungkin berbagaimacam alasan salhsatunya takut jadi saksi…padahal ini bukan masalah jadi saksi ato tidak…namun lebih kepada nyawa seseorang……

  10. Salam Timur..
    Sudah lama gak main kemari..ya put..
    Memang terkadang dijalan, banyak kecelakaan yang terjadi..jujur..empati lebih dibutuhkan daripada sekedar simpati…

    thanks ya linkku udah diubah..

    Btw..kapan buat blog dengan domain prabayar ?..ntar aku janji kalau ada aku kasih deh..themes yang oke..assallammualaikum..

  11. aduh aku ngga bisa ngebayangin deh.
    Untung ngga berdarah-darah ya…
    Om ku pernah lihat sampe otaknya berhamburan…duh
    sampai berapa bulan dia tidak bisa makan daging.
    Eh, berpuluh th berikutnya anaknya juga jadi korban tabrak lari. Hancur put… dan aku harus lihat juga hiks…
    Pokoknya hati-hati di jalan ya…please

    EM

  12. @achoey
    tepat sekali, kang
    @nh18
    Amin…
    Kalo lagi di jalan jangan ngebut2, ya, pak..😀
    @pakdejack
    seharusnya dia ntuh yang minta maaaf…😀
    erh..jangan2 kerusakan dia lebih parah, ya, pakde ?
    @wi3nd
    Kind of, mbak..
    Tapi tetep kudu lebih berani😀
    @nenyok
    Gimana hasil imaji-nya, mbak Ney ? he..he..
    He-eh…tapi gak jarang kadang rasa ngeri jugha bercampur, mbak..
    @UchiE_Ar-Razi
    Wuih..kalo sama supir angkot emang suka gitu, chi..
    Makanya aku suka merengut2 sama supir angkot yang suka sok bener ..
    @Tigis
    Semua orang Indonesia ?
    Termasuk mas Sigit, dong ?
    Kalo Ptri, sih..insyaallah enggak…*bela diri sendiri*
    @UchiE_Ar-Razi S
    Tenang chi..muncul, kok..
    @UchiE_Ar-Razi
    tuh khan..
    @kahfinyster
    oh begitu…
    sip…sip…di roger
    @Alexhappy
    Kita perlu mengembangkan rasa empati ke setiap orang..bukan begitu, mas ?
    @aCist
    he..he..
    @FnD
    Terima kasih sudah sowan kemarin mas efendy..
    Mas..alamatnya mas efendi agak ‘lambat dibuka, nih…makanya Put cuma sekedar mampir aja di sana
    @Ikkyu_san
    berdarah, sih, mbak..
    tapi masih agak lumayan…
    Yang ngeri itu cuma ngelihat ‘proses’nya..
    Syukurlah mbak itu gak pa-pa😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s