Blessing Disguise in Friday

01-07-08_1616

Kira-kira pukul setengah satu siang, telponku berdering. ‘Tumben ibu menelpon siang-siang begini,’ pikirku saat melihat ID number di Hp tercintaku . Tanpa pikir panjang langsung kuangkat dan mendengar sapaan pertama khas dari adikku. Eh, rupanya adik bungsuku yang menelpon.

“Mbak, udah mo pulang ?”

“Belum…masih juga siang. Kenapa, Ti ?”

“Emang jam berapa pulangnya ?” [Eleh-eleh, pura-pura nanya..padahal sudah tahu aku biasanya pulang jam berapa..]

“Jam biasalah….”

“Ee.e.e….Mbak, udah makan siang ?” [Ada yang mo traktir, nih..he..he..]

“Belum…”

“Bener, nih ?” [Aih..apa aku mo dijemput, ya ? Terus kita makan bareng..uhui…lezat..lezat…! Bayang-bayang makan gratis menari-nari di serabut neuronku]

“Iya…napa ?”

“Mbak makan dimana ?”

“Di kantin”

“Pake Bon ?”

“Ya, enggaklah…bayar sendiri.”

“Gak ditraktir ?”

“Ya, enggaklah…” [Aku mulai kehilangan arah pembicaraan. Ada yang gak beres, nih…Gak jadi ditraktir tampaknya…lhu..lhu…]

“Mbak, udah lihat dompet belum ?” [Heh ? Lalu tiba-tiba pikiranku melayang pada peristiwa tadi pagi. Aku menyusun ulang bawaanku dan ada beberapabenda yang disusun ulang, yakni, dompet dan tempat Hp. Rasanya keduanya sudah dimasukkan ke dalam ranselku. Hm…ah..dompet ? Ya Allah…!!]

“Ti..dompet, mbak ?”

“Dompet, mbak tinggal…” dan ia tak kuasa menahan tawanya…Pasti ia membayangkan, aku bakal pulang kayak apa…gak bisa makan siang dan tidak ada ongkos pulang…[duh…duh..]

“Eh..iya…haduh…”. Cepat-cepat aku mencek tempat Hp-ku. Syukurlah ada sejumput uang di sana. Cukup untuk ongkos, tapi gak bisa untuk biaya makan siang. Pilihannya memang dua. Pilih makan siang ato Ongkos pulang…Miris…!

“Mbak masih ada uang….bisa untuk pulang..” Sahutku dengan suara rada lega.

“Syukurlah…Trus makan siang ?” [Adikku ini tahu betul kondisi mbaknya…he..he..]

“Tadi udah sarapan…Udahlah gak pa-pa…”ujarku digagah-gagahin.

“Bener, nih ?”

“He-eh.”

“Ya, udah…kalo gitu…Udah, ya, mbak…Assalamualaikum”

Dan telpon ditutup.

Aku hanya menatap dinding..dan memprediksi jumlah uang tersisa yang dapat aku maksimalkan. Masih cukup untuk beli beberapa gorengan. Lumayanlah, untuk pengganjal perut karbohidrat kayak aku ini..Huhm…Jadi inget, di luar sana banyak yang makan hanya dengan nasi dan tempe. Terkadang malah ada yang makannya kayak puasa Daud. Hari ini makan besok off. Terkadang malah tidak sarapan pagi, semacam nasi goreng, roti, atau nasi uduk. Pagi-pagi paling hanya minum air putih kemudian lanjut kerja mukul-mukulin jalan ato bahkan gotong-gotong batu gede. Betapa hidup membuat mereka kuat dan cerdas menyiasati kehidupan. Aku masih beruntung. Setidaknya tadi pagi masih sempat sarapan ‘berat’.

Aku salut dengan mereka yang begitu telaten memperkirakan jumlah pos-pos pengeluaran mereka. Hanya dengan upah 200-300 ribu mereka harus membiayai makan sekeluarga, uang sekolah anak-anak, uang listrik, air, uang rumah sakit dan segala urusan tetek bengek lainnya.

Kesabaran menjalani hidup justru membuat mereka besar. Tidak saja secara rukhiyah tapi juga secara lahiriah. Banyak orang-orang besar yang hidup dari kesederhanaan paling kecil. Harus membanting tulang untuk membiayai sekolah. Sekolah di waktu pagi kemudian harus bekerja pada malam hari. Namun, tak pernah se-inci pun menyurutkan langkah mereka untuk maju dan berkembang. Kesabaran menggiring mereka pada kemakmuran hati, kesejahteraan hartawi hanyalah bonus dari setiap kerja keras mereka.

Sebuah pemahaman panjang dari hikmah Jum’at ini…

27 pemikiran pada “Blessing Disguise in Friday

  1. Pengalaman yang pasti sangat berharga ya put🙂, pengalaman adalah guru yang sangat berharga😀,pernah ari juga begitu, uang hanya pas untuk ongkos, lupa bawa dompet hiks..hiks…tapi alhamdulilah bisa pulang dengan selamat hehehhe

  2. Adikmu baik banget Put. Terus makan siangnya kenapa nggak nyari traktiran? hehehehe..

    Kok aku kebayang betapa perut itu cobaan yang besar buat manusia, pertama kalau teringat daya tampungnya yang luar biasa hingga ada orang yang merasa perlu mengecilkan usus supaya nggak lapar terus menerus, kedua, perut yang kelaparan bisa membuat kepala hilang akal dan mata gelap, lantas terjadi tindakan yang mengganggu.

    Bersyukur ya mengalami kejadian tempo hari, sepertinya kemarin itu memang waktunya untuk merenung.

    Malam Put.

  3. Ketauan jarang ketinggalan dompet nih putri, kalau gw sering ketinggalan jadi bukan hal heboh yang mesti diceritakan di blog… hehehe…8x

  4. keliatannya memang kebutuhan manusia itu ga akan pernah berhenti ya Put. Hanya keterbatasan penghasilanlah yg bisa membatasi itu (meskipun sayangnya msh ada yg justru nekat menghancurkan batas itu dgn cara2x yg ngga halal). Saat penghasilan cuman 300 rb mgkin sodara2x kita yg ga beruntung bisa bergerak dgn fleksibel menyesuaikan diri dgn kebutuhannya. Sama jg utk mereka yg berpenghasilan 1 jeti, 10 jeti, 100 jeti, dll. Mgkin cara yg paling baik spt yg ditulis Putri itu, utk urusan dunia selalulah ngeliat ke bawah jadi kita bisa terus menerus bersyukur

    kyk Kiai ya gue:mrgreen:

  5. @ari
    Kita punya pengalaman yang sama, ya, ri..
    Segala sesuatunya memang harus dilihat dari berbagai sisi ya, Ri..
    @yodama
    he…he..
    Gak berani ngebon, mas…Takut kelupaan bayar..😀
    @agoyyoga
    Maunya minta traktiran mbak Yoga..tapi kejauhan..he..he..

    Benar, mbak…Demi perut terkadang seseorang jadi gelap mata…rela melakukan apa saja
    Bersyukur sekali, mbak.
    @mangkum
    he…he…
    Mangkumlod…hanya ingin melihatnya dari sisi yang lain, mang..
    @Tigis
    Siapa bilang kayak kyai ?
    Bukannya emang kyai…:mrgreen:
    @fittra
    Sama-sama, ya, fit…

  6. Mampir lagi..
    Jadi ingat jaman2 masih b’status anak kos dulu. Kejadian ‘ketinggalan’, ‘kelupaan’ kek gini bkn sesuatu yg baru. Tp bkn berarti sering lho..! He he..
    Waktu ‘nyadar’, Ci b’usaha u/ tetap ‘tampil cool’.. *di’cool-cool’in maksudnya* sambil b’doa semoga Allah m’berikan kemudahan.. Alhamdulillah, seingat Ci, kejadian spt ini, justru ‘jalan keluar’nya itu dari hal2 yg tdk Ci duga sebelumnya..😉 Kadang jg dpt diduga, misalnya dibayarin sobat dulu pas makan siang, besok baru dibayar utangnya.. Qiqiqi.. Itulah gunanya teman kan?

  7. @anto84
    Syukurnya masih bisa dikendalikan, mas anto😀
    @emfajar
    benar sekali, jar…
    @kishandono
    Let’s thankfull…Alhamdulillah..
    @achoey
    Iya, kang….benar sekali
    Apa kabar, kang ?
    @Muzda
    he…he…
    @galih
    nah..membiasakannya itu erlu usaha, lih..
    @UchiE
    Sisi lain dari “pertemanan”, ya, chi…😆

  8. jadi nda makan sian9 put?
    napa nda bilan9 tau 9ituhkan aku traktir put…

    kebetulan aDa rejeki..🙂


    Ah, mbak Wiend beraninya jarak jauh…ke sini, dong, mbak..
    Sekalian kopdar-an😀

  9. membiasakan hal baik sejak awal itu akan bermanfaat dimasa mendatang dan saat ini saya ma istri sedang seperti itu, ibaratnya susah sekarang senang kemudian

    memulai untuk melakukan kebiasaan baik memang tidak semudah embalikkan telapak tangan, pak..
    Tapi outputnya begitu menakjubkan..

  10. Yg kepikiran ialah si adek ngebayangin mbanya makan gitu mau mbayar dompetnya ra’ono hehe….. smua pasti tau gimana rasanya khan hehe…..Tpi bener mba dalam hal ini kita hendaknya “melihat kebawah”…..Allaahu akbar

    he..he..
    begitulah, bu..😀

  11. kadang kita perlu berada pada situasi tertentu untuk menjadi lebih peduli dan sensitif pada sekitar. Kalau nonton reality show di Tv kadang perasaan jadi campur aduk ga karuan, masih ada saudara kita yg hidup dengan penhasilan 2000-3000/hari dan harus menghidupi 3 – 5 orang anggota keluarganya. Semoga kita selalu diingatkan untuk berbagi. So. jadinya ga makan siang yah? next time ada baiknya taruh uang barang 5-10rb di laci kantor…buat jaga2 ajah…atau ditas tapi bukan dalam dompet

  12. Ada tiga cara untuk bisa menghemat Put..
    1. Disiplin
    2. Disiplin
    3. Displin
    Sepintar apapun orangnya, kalo belum memenuhi ketiganya akan sulit deh..hehe ogut baru mencapai yang poin 1 Put, poin 2, 3 suka lupa ..

  13. mampir ahhh, udah lama gak singgah nih🙂
    hohoho… tenang put, klo buat balik kerumah masih ada 1000 jalan. Taxi dan ojek masih ada tuh, whehehe🙂
    atau tele minta jemput.

  14. hmmm ya itu bisa menjadi pemikiran yang dalam sekali put.

    tapi untung adikmu telepon loh

    aku pernah kejadian, nyari2 dompet ngga ada, pikir ketinggalan di rumah…sampe telpon ke rumah segala (jaman belon ada HP kan nyari telpon umum susyah),
    tahunya di copet hehehe

    EM

  15. @1nd1r4
    Iya mbak..hal-hal kecil yang membuat kita mengingat hikmah dari setiap kejadian.
    Put, sih begitu, mbak..meletakkan beberapa lembar uang di tempat lain…Permasalahannya uang yg di dompet lebih banyak ketimbang yang dit4 lain :Dkantor
    @Gempurr
    Yang jadi masalahnya itu..”Ingatan, mas…”
    Kadang suka LUPA ..erh…erh…
    @Kill_puTra
    he..he…Pengalaman yang empunya log, Put..
    @bluethunderheart
    Enggak, om…Enggak tega soalnya makannya banyak he..he…😀
    Salam hangat selalu
    @bolang
    he..he..
    Senasib kita rupanya, mbak…
    trus, siapa yang bayarin angkotnya, mbak ?
    @nRa
    Iya, nih, pak nra sibuk bener tampaknya…he..he..
    @Ikkyu_san
    Heh ? Wah..mbak EM ternyata pengalamannya unik juga, ya ?
    @chocovanilla
    iya, om…he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s