Let the Shouts Be Down

Bersuara besar atau kecil seakan mendapat pengaruh besar dari kondisi emosional dan lingkungan seseorang. Seperti halnya perbedaan geografis, budaya dan kebiasaan. Orang-orang yang tinggal di gunung dan tepi pantai cenderung bersuara besar *atau bervolume besar* dari pada orang-orang yang tinggal di dataran rendah. Begitu juga dengan kultur orang Batak dan Jawa. Orang Batak mempunyai ’tone’ yang lebih besar daripada daerah Sumatra lainnya..Seperti halnya orang Sulawesi dan Papua.

Salah seorang teman yang menetap di Bandung menceritakan perbedaan budaya yang ’mencolok’ di kost-kostan mereka. Ia menceritakan betapa ’tinggi rendah’ nada suara menjadi suatu hal yang ’berbeda’. Bersuara besar dan terkesan cuek dengan ‘tone’ keras seakan menjadi ciri khas para mahasiswi dari Sumatra *Ia mengakui bahwa ia dan teman-temannya sesama Sumatra terkadang berbicara dengan suara di atas ambang batas telinga orang Jawa pada umumnya he..he..*. Sementara teman-temannya yang berasal dari Jawa dan Sunda justru mempunyai tone yang lemah lembut dan terkesan bervolume kecil. Terkadang teman-teman se-kostnya yang Sunda *ato Jawa* terkejut-kejut saat berbicara dengan dirinya atau teman Sumatra lainnya sementara para mahasiswi asal Sumatra itu harus menajamkan telinga atau berkali-kali meminta lawan bicara mereka *yang asalnya Sunda atau Jawa* mengulang kembali perkataan mereka.
Tapi, tentu saja bersuara besar tidak identik dengan berkata kasar, ya, tho ?
Beberapa temanku yang kuliah di Jawa bahkan jadi bertutur lebih lembut *atau tepatnya semakin halus😀* saat kembali ke kampung halaman. Nah, senior-seniorku yang asal Jawa justru terkontaminasi dengan sikap terbuka dan ’volume’ keras orang-orang Sumatra. Pernah suatu ketika aku berkata kepada seniorku yang asli Jawa dan bertutur pelan,
”Kak…agak dikerasin lagi suaranya…Gak kedengeran…” Karena saat kami berbincang-bincang ia bersuara pelan sementara di sekitar kami ’dengungan’ keramaian mengiang-ngiang.
Dan ia pun langsung memukulku pelan…serasa tersenyum-senyum…
”Ini juga udah keras, Put ..!”
Berikutnya giliran diriku yang tersenyum-senyum mendengar perkataannya…

Jadi, apa sih inti dari tulisan ini Put ?
He…he…Bukan apa-apa, sih…Tulisan ini muncul karena aku tiba-tiba saja mendengar seorang wanita yang berkata kasar tanpa menyadari jika ’perkataan’nya itu kasar. Aku harus melipat keningku berulang-ulang karena wanita itu terus saja mengucapkan kata-kata yang ’tidak enak didengar’ berulang-ulang seperti ia sedang makan kacang. Bagaimana bisa seseorang bisa berlaku demikian ? Entahlah…apakah lingkungan yang membentuk karakter seperti itu ataukah bagaimana ?
Yang jelas pagi ini..sungguh ber’sarapan’ yang tidak mengenakkan…

23 pemikiran pada “Let the Shouts Be Down

  1. ini namanya dah stereotype…
    susah menghilangkan atau merubah suatu anggapan/pikiran terhadap sebuah laku bila sudah tercetak tebal di otak.
    kasar atau tidak, sangat relatif.
    salam superhangat.

  2. Mmmm…. Teman yang lagi ngekost di Bandung..? Apakah daku juga mengenalnya..? Hakzhakz..

    Ngomong-ngomong soal terkontaminasi, daku adalah bukti nyata.. Enam tahun tinggal di Medan, pulang2 kadang masih terbawa logat Medannya.. Hehe..

  3. semuanya terjadi karena kebiasaan dan pengaruh lingkungan, gw (orang jawa) pernah ngekost dekat ma kost anak Batak, ternyata karena sebagian besar lingkungan disitu adalah Jawa, jadinya anak2 Batak disitu jadi lebih halus kata2 maupun perilakunya, malah kadang ngalahin orang jawa sendiri. Malah mereka banyak yg bisa omong Jawa.

  4. Hahaa Put ..
    Aku ni ya, kalo pulang ke Kalimantan, kadang malah kaget sendiri sama suara orang-orang di sana yang bervolume keras..
    Dan menyadari,, “dulu ya rupanya aku ngomong sekenceng itu juga..”

    Jadi, aku adalah salah satu contoh yang terpengaruh menjadi bertutur “lebih” halus ..
    Tapi bener kamu bilang, volume boleh keras, tapi aku jamin orang Kalimantan hatinya halus😀

  5. tapi punya suara bervolume keras kadang diperlukan dalam profesi tertentu. Coba deh guru kalau suaranya ngga keras, susah didengarin kan hehehhe

    (aku merasa beruntung suaraku keras, sehingga tidak perlu pakai mike kalau mengajar)

    EM

  6. Biar dari Jawa, saya juga terbiasa bersuara keras, karena rumahnya besar (kalau tak teriak yang dibelakang tak kedengaran)…apalagi di dekat kebun tebu…hahaha…
    Jadi selain, etnik tertentu, lokasi dan besarnya rumah juga mempengaruhi intonasi suara.

    Tapi lumayan, karena kalau mengajar, suara kita harus cukup keras, agar muridnya tak mengantuk (hehehe…ngeles)
    Dan di Jawapun berbeda-beda..kalau ketemu teman akrab, dan kita negur..”Jantyuk…kon isih urip ta?” Itu bukan memaki, tapi menandakan kearaban hubungan antar dua orang teman.

  7. @UchiE
    lha wong dirimu juga ada di sana waktu itu..he..he..

    Iya, nih..aku sampai suprise denger-nya…Bisa juga dirimu bilang “Bah” he..he..
    @zefka
    he..he..Gak kebayang, pak..denger orang batak berbahasa Jawa😀
    @Muzda
    he..he…
    Syukurlah..Sekarang dirimu sudah ‘berunggah-ungguh’ spt orang kraton, ya, Da?
    Aku yakinlah kalo soal itu…lha wong aku dah ketemu ama satu contoh nyatanya..😆
    @Kesepian
    Barangkali juga….:mrgreen:
    @sunarnosahlan
    Itu juga yang melatarbelakangi pemikiran Put, pak..
    @just ‘azzam
    Lain ikan..lain pula ‘kelezatan’nya😀
    @Ikkyu_san
    Bener banget, mbak..
    Tapi kok bisa begitu, ya ? he..he..
    Murid2 mesti lebih respek sama guru yang suaranya terdengar ketimbang yang suaranya halus…he..he..
    @*hari
    Sip, mas…!
    Setuju banget ….
    @edratna
    he…he…
    iya, bu…
    Sepertinya Put lupa memasukkan ‘ukuran rumah’ sebagai salah satu faktor pengaruh😀

  8. Halo semua..🙂
    Menurutku sih lingkungan sangat banyak membentuk karakter suatu individu, apalagi kalau individu tersebut memiliki filter yang gak kuat. Sehingga pengaruh lingkungan yang kental dapat dengan mudah merubah karakternya. Lingkungan disini bisa jadi lingkungan biotik dan abiotik (Oalah, koq jadi kayak belajar biologi ya..??!) Heheh…

  9. kasar tidaknya sebuah perkataan dari orang ketelinga kita itu berawal dari hati si pembicara. sekasar apapun bahasa dan logat yang dipakai namun bila hatinya bersih , maka akan terasa indah, namun sebaliknya bila hati pembicara saat berbicara tidak baik maka sehalus apapun tutur katanya malah menjadi sebuah tusukan yang menyakitkan

  10. suda dari sonona kalee ya put..
    kadan9 neeh dakus elalu terka9et ka9et klu menden9ar temen batakku bicara,kadan9 takut kiraiin marah,nda tauna meman9 seperti ituh lo9atnya..

    karena suda terbiasa den9an nada lembut kalee yaaa??maklum the djawir😀

    terbiasa dengan nada lembut?
    ehem..ehem…
    termasuk bagian ‘seneng ngelempar bakiak’, gak, mbak ?
    he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s