Penyanyi Jalanan


pic: http://www.istockphoto.com
Kotaku beberapa tahun yang lalu tak sepadat dan seramai tahun-tahun belakangan ini. Begitu banyak kendaraan pribadi berkeliaran, melintang-lintang di pinggiran jalan. Mulai dari sepeda motor, mobil sampai bermacam-macam angkot dan bus. Satu hal yang sering kali tidak kita sadari adalah kita jalanan mulai ramai oleh kendaraan, di saat yang sama ‘penghuni lainnya’ pun akan ikut tumpah ruah di sana. Coba saja, ada tukang koran, pengemis, tukang bersih-bersih dadakan, penjaja makanan kecil keliling dan pengamen. Ketika lampu merah meradang, mereka akan menyerbu jalanan menjajakan barang bawaan mereka dan ‘jasa’ mereka.

Kali ini aku lebih menyoroti para seniman jalanan yang terakui sebagai ‘pengamen’. Para pengamen cilik biasanya hanya membawa kerencengan (sebuah alat yang hanya terdiri dari sebuah papan berukuran kecil yang di salah satu ujungnya ditempeli genta *aku lebih sering melihatnya menempel di alat musik ibu2 qasidahan*) lalu berdiri di samping mobil kemudian memperdengarkan suara cilik mereka. Ada yang suaranya bagus namun ada juga yang suaranya pas-pasan, parau, seperti tercekik *barangkali karena sudah terlalu sering ngamen*. Miris melihat bocah-bocah berusia muda itu hilir mudik di jalanan pada malam hari. Terkadang pada pukul 9 malam pun mereka masih beredar di jalanan, berusaha mencari segenggam uang atau mengharap belas kasihan para pengemudi jalanan. Apakah mereka bersekolah di pagi harinya ? Kenapa mereka tidak membuat pe-er mereka ? Tidakkah mereka merasa lelah ? Hidup terkadang membuat mereka harus mengambil pilihan yang sulit buat mereka.

Pengamen-pengamen yang lebih besar justru terlihat di dalam bus-bus kota sambil menenteng gitar. Para pemuda itu (jika tebakanku benar, banyak diantara mereka yang seusia denganku, lebih muda sedikit atau lebih tua beberapa tahun), akan berdiri di muka bus sambil menyanyikan lagu-lagu yang sedang trend. Ada juga yang menyanyikan lagu daerah, misalnya lagu Minang, Batak (padahal keduanya khan bukan lagu rakyat daerahku..he..he..) dan lagu melayu (aku hanya sekali mendengar seorang pengamen menyanyikan lagu Lancang Kuning). Ada yang tampilannya memang seperti pengamen (anak jalanan, red) tapi ada juga yang terlalu ‘necis’ untuk disebut pengamen. Ia memakai sneaker yang menarik, dengan kaos bersih dan penampilan apik…*jika saja ia tidak berdiri di depan para penumpang dan memegang gitar, mungkin ia bisa di daulat jadi cover boy*.

Pengamen muda ini biasanya lebih mengontrol tone nada mereka…hingga tak jarang diantara mereka yang bersuara bagus..Mereka tampaknya lebih senang pamer suara di dalam bus kota ketimbang mengikuti kontes-kontes yang akhir-akhir ini marak. Tapi, menurutku, seorang pengamen juga harus mempunyai etika..
Salah seorang pengamen yang menurutku ‘sangat kasar’ adalah ketika aku menemukan seorang pengamen yang dengan ‘angkuh’nya membuang uang receh dari kantong pengamennya di depan para penumpang bus. Ia berdiri di antara koridor bus dan membuang uang receh-receh itu….*Ntah, yang dibuang uang receh palsu ataukah uang receh yang sudah tidak laku lagi?*. Menurutku, sikap itu sungguh sangat tidak pantas…dan arogan sekali…dan sangat tidak respek…
Seberapa pun, toh…itu juga rezeki, khan ?
Bener, kan ?

33 pemikiran pada “Penyanyi Jalanan

  1. @mas hari di atas : itu di bandung mana tuh…???? jangan2 di dalem kafe😛

    anyway…

    pengamen emang kadang nyebelin jugak… udah suaranya sember… nyanyi seenaknya… kalo ga apal ganti2 syair malah jadi porno kadang *ini kaenya yg terlalu kreatip* … udah gitu penampilannya sangar… maksa minta duit lagi…

    tapi emang paling asik kalo ketemu yang musikalitas nya bagus, dandanannya asik… udah gitu mukanya ceria, ga sangar… jadi ngasi nya juga jadi ikhlas:mrgreen:

    ngasih kok milih2…??? ya gimana dong… klo ga enak diliat ato didenger pan buat apa ngasi pan?😆

    • hayah, aku ndak pernah ke kafe mbak :p
      pengamen di bandung yang kutau yg didalem bis damri. Rata-rata suaranya bagus, main musiknya jg. Yg lucu kadang2 sampe lupa kalo bis udah nyampe dia masih asyik nyanyi😆

  2. Jd ingat waktu di Mdn dulu. Di persimpangan lampu merah Iskandar Muda-Jamin Ginting ada pengamen yang suka nyanyiin lagu2 Ebiet G. Ade atau Iwan Fals. Suaranya jg mirip Kang Ebiet.. Jadi ngademin pas siang2 di dlm angkot.. He2.
    Di persimpangan lampu merah yg lain, ada pengamen ‘plus-plus’. Kalo gak lg ngamen mereka pd asyik masyuk ‘ngelem’ lem cap kambing.. >,<

  3. Salam kenal,

    Hati-hati mbak, jangan sampai naksir pengamen. Sebagian dari mereka mahasiswa juga, cakep-cakep lagi. Namun mereka bisa dij8umpai pada saat musim liburan mahasiswa, hari-hari biasa … pengamennya payah-payah dan nyebelin.

  4. Jadi ingat pas waktu aku lagi makan di warung sama ca-is ku kemaren ada pengamen saya kasih uang receh Rp100. Kalo d pikir2 Kasian juga ya..
    O ya salam kenal buat yang punya blog

  5. Ada yang sopan dan ada yang arogan. Pengamen arogan kagak sadar bahwa uang 9950 tidak akan menjadi 10000 bial kurang 50, niali yang kecil memang untuk saat ini tapi tetap aja namanya uang

  6. Barang kali karena para pengamen jalanan itu berpikir bahwa itu adalah jalan termudah mencari uang, dan memang sepertinya itu memang benar2 mudah. Hanya saja sayangnya mereka hanya berpikir untuk itu. Coba jika mereka mau mengumpulkan uang hasil ngamen untuk biaya sekolah. Dalam beberapa tahun maka kehidupannya akan berubah..

  7. Kadang saya sudak dengar suara mereka, namun saya kadang juga membenci mereka disaat mereka meminta uang pada pendengarnya secara paksa… dikasi Rp 500 tidak mau, mintanya Rp 1.000

  8. Salah seorang pengamen yang menurutku ‘sangat kasar’ adalah ketika aku menemukan seorang pengamen yang dengan ‘angkuh’nya membuang uang receh dari kantong pengamennya di depan para penumpang bus. Ia berdiri di antara koridor bus dan membuang uang receh-receh itu….*Ntah, yang dibuang uang receh palsu ataukah uang receh yang sudah tidak laku lagi?*. Menurutku, sikap itu sungguh sangat tidak pantas…dan arogan sekali…dan sangat tidak respek…

    setuju🙂
    males banget kalo ngebuang duit yg dikasih, tau gitu mending ga usah dikasih sekalian… (pengalaman pernah liat, bukan saya tapi:mrgreen: )
    dan juga harap punya kemakluman, misal sebelumnya udah “dibombardir” oleh pengamen2 lainnya dan duit receh kita habis, ya jangan ngambek kalo ngga dikasih😉

  9. @UchiE
    ironis, ya, chi..
    But, life always lies in two side, ya ?
    @afwan auliyar
    pengamen zaman sekarang pake ‘tarif’ he…he..
    @emfajar
    itu dia ‘side job’ yang sama sekali gak mengenakkan..hiiiii
    @Muzda
    he…he..
    bukannya yang ngamen emang rata2 masih muda, ya, Da ?
    @ari
    yippi, ri..
    jika mereka ingin ‘karir’ yang rada bagusan…😀
    @Puspita W
    he..he..
    mbak Puspita rasanya punya pengalaman seru ttg pengamen, nih..he..he..
    @partonoblog
    salam kenal kembali
    @Artha
    betul sekali, pak…
    Gak cuma pengamen, sih..kita juga perlu menghargai ‘besar-kecil’nya nilai uang…😀
    @Wempi
    Harus di warning, nih..he..he..
    @habib
    improvisasi yang kebablasan, ya, mas…
    @buJaNG
    indahnya jika setiap pengamen bisa berpikir seperi itu…
    Akan lahir intelektual muda dari dunia jalanan..
    @mamas86 S
    he..he..
    Mereka sudah berani ‘memasang’ tarif atas suara mereka..he.he..
    @Arm
    he…he..
    @buJaNG
    mudah2an saja berkembangnya ke arah yang positif..😀
    @cahjoker
    semoga saja para pengamen mendengar harapannya mas blue…
    @galih
    he..he…

  10. ternyata para pengamen memiliki tujuan yang berbeda saat ngamen.
    ada juga yang hanya tes keberanian, dengan disaksikan oleh teman-temannya.
    selain pengamen yang buang uang receh, ada juga pengemis yang menolak diberi uang ratusan rupiah, mintanya minimal seribu rupiah. sombong…..

  11. hmmmm gue bingung mau komentar apa. Tp emang sih jarang nemu pengamen yg bener2x berbakat. Kebanyakan cuman bekal suara pas2xan dan main musik yg jg pas2xan.

  12. iyah betul,dan aku apsti nda akan respeck sama pen9amen yan9 seperti ituh..
    ada loch put yan9 cakep dan suarana ba9us,kadan9kala suka nun99uin heheh..
    tapi miris ju9a klu liat bocah bocah itu😦

    kmraen baru ketemu pen9amen y9 mirip pasha tp lebih tin99i dan cakep putih bersih dan bajuna ju9a ba9us😀

    hebat..!!
    Jangan2 suaranya juga ngalahin pasha ungu..he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s