Suatu Siang di Ramadhan

*Sebuah obrolan ringan di panasnya siang*

*sumber pic: http://istockphoto.com*

Aku tersenyum saat menatap wajah yang sama dengan wajah yang duduk disampingku tadi pagi. Gadis bertas hijau itu memang sebangku denganku saat aku berada dalam bus kota yang bergerak menuju kampusku tadi pagi. Saat itu, ia hanya bertanya tujuanku dan menanyakan lokasi kantor pos. Berhubung aku tidak tahu *sepertinya saat itu aku lupa kalo di wilayah kampusku ada kantor pos :D* maka aku tidak terlalu banyak komentar.  Pertemuan kami berakhir saat si gadis turun di persimpangan sementara aku sibuk memejamkan mata untuk sesekali mencuri waktu untuk tidur.

Siang itu tanpa sengaja kami bertemu lagi, dan entah sedang great mood ato apa, tanpa sengaja aku menyapa gadis itu,

“Eh, yang tadi pagi, khan ?”

Ia melihat ke arahku dan mengenali tampang lecekku, karena cuaca hari itu agak panas. Ia tersenyum dan dengan sok akrab aku mengambil tempat duduk di samping  sisi kanan si gadis alias di seberangnya, lalu berujar,

“Ketemu kantor posnya ?”

“Iya…” Lalu kami saling tersenyum…Berikutnya justru dia yang memulai pembicaraan.

“Asli Pekanbaru ?”

Aku mengangguk, “Kalo mbak ?”

“Semarang…”

“Oh…jadi di sini tinggal sama keluarga?”

“Iya…sama oom….”

Gadis itu melihatku sambil tersenyum sambil mengeluhkan tentang cuaca Pekanbaru,

“Pekanbaru panas, ya ?”

“Iya…Soalnya dibawahnya khan ada minyak…”jawabku

“Begitu, ya?” Wajahnya kelihatan berpikir. Aku mengangguk takzim, kupikir tampang sok engineeringku mulai kelihatan..he..he..

“oh, ya…saya Putri…” aku menjulurkan tangan memperkenalkan diri. Ia pun menyebut namanya..

“Mischa…”

Obrolan terus berlanjut…kami memakai sapaan, “mbak”. Aku memanggilnya ‘mbak’ dan iapun demikian. Ntah terasa aneh atau bagaimana, tiba-tiba saja ia menanyakan tahun kelahiranku…Aku menyebutkan sebuah puluhan dan satuan. Ia tersenyum menatapku dan mengatakan bahwa kami sebaya jadi cukup memanggil nama saja…

“Kalo begitu sudah punya abang, dong, ya ?” tanyanya lagi

Panasnya cuaca membuat otakku terasa tak karuan. ‘Aku khan tidak punya abang kandung..pun maksudnya ini abang yang mana satu, ya ?’ Di tengah keraguan itu aku menjawab seadanya…

“Tidak punya…”

Ia tampak terkejut….

“Bukan tidak mungkin…tapi belum….” Ralatnya….Tiba-tiba koneksi kecerdasanku melaju..aih…ternyata maksudnya ‘abang’ yang itu….Oalah….

Aku kembali nyengir dan jiwa ingin tahuku tiba-tiba meletup,

“Kalo mischa ? sudah ada calon ?”

Sejenak tertangkap raut malu di wajahnya,

“Sedang dalam proses seleksi….Kita khan pengin dapat yang terbaik…”jawabnya diplomatis
Aku menunggu kelanjutan jawabannya…

“Kita khan ingin mencari yang rajin sholatnya, baik dalam dan luarnya serta tidak merokok…”

Ia menjawab sambil tersenyum, aku tidak tahu apa makna senyumannya. Apakah ia sudah menemukan seseorang seperti itu ataukah belum…tapi aku bisa merasakan bahwa ia pun sedikit malu-malu menjawab pertanyaanku itu.

“Usia segini inih..sudah didesak-desak menikah….”sambungnya lagi.. Ia menatapku. Kupikir ia ingin aku menyambung ucapannya…tapi sungguh aku bingung ingin berkata apa. Akhirnya yang keluar dari mulutku hanya ucapan ‘hm..hm..’

“Mudah-mudahan Mischa bisa dapat yang terbaik, ya….”ucapku lagi. Ia tersenyum dan dengan jelas meng-amin-kan doaku.

Obrolan kemudian beralih ke hal-hal ringan lainnya…Hingga kemudian aku harus turun terlebih dahulu, dan kami berpisah.

Kami baru kenal dan ia dengan ramah menceritakan seperti apa lelaki yang kelak akan mempersuntingnya. Sungguh gadis yang visioner! (Bisakah aku menggunakan kata ajaib ini untuk mewakili pendapatku?). Sekarang aku tahu, setiap orang menginginkan pasangan yang terbaik, pasangan yang keimanannya merajai dunia, yang santun dan yang tidak merokok😀. Hanya yang membuatku berpikir adalah…Sudahkah kita menjadi yang terbaik? Wallahualam

16 pemikiran pada “Suatu Siang di Ramadhan

  1. ijin pertamax dulu bos😆

    wah, si putri dari semarang yap😀

    ane kuliah di semarang ni

    Wah…Pertamax, ya….:)
    Bukan si Putri yang dari Semarang, mas..tapi Mbak Mischa-nya…:)

  2. Putri masih kuliah ya, kok udah mikirin married sih hihi..
    Putri sama mischa kok langsung akrab gitu ya, padahal baru kenal..
    Cocok keqnya sahabatan😉
    Mungkin juga itu salah satu kelebihan wanita, mudah akrab dgn kaumnya..

    -salam hangat-

  3. Assalamu’alaikum,
    “Sudahkah kita menjadi yang terbaik?” saya suka dengan pertanyaan yang menutup akhir tulisan? Memang ini yg harus kita tanyakan dengan jujur pada diri kita. Semoga Mbak bisa dapat jodoh yang didambakan, amin. (Dewi Yana)

  4. @Gempurr
    Sepertinya mas Gempur nih…yang bakal bikin petugas KUA repot..he..he…
    Kalo Putri mah..masih adem ayem aja, mas..😀
    @Ikkyu_san
    iya, mbak, mungkin karena pembawaan Mischanya yang terbuka dengan lawan bicara…Karena setelah berbicara tentang umur tiba-tiba saja pembicaraan beralih ke arah sana…

    Terima kasih, mbak EM

    @AtA chan
    He..he…
    Haduh..jadi malu, nih, Ta…
    aih…aih…
    @galih
    Baiklah..tinggal meningkatkan ke level berikutnya..ya, khan, galih ?😆
    @diazhandsome
    Siap…siap menjadi incaran para gadis…he..he..
    @jalandakwahbersama
    Waalaikumsalam wrwb, mbak Dewi
    Senangnya bisa mendapat kunjungan dari mbak Dewi…
    Amin…amin..
    Semoga demikian halnya juga mbak Dewi…🙂

  5. Diam (adem ayem), kalo ntuk seorang uhty artinya setuju puut..
    Wkwekekkekekeke…

    wahhhh..
    no comment, deh…
    Susah untuk dilawan, nih…he..he.. *pasti karena udah berpengalaman, ya? he..he..*

  6. ciiee..putrii..udah mikirin calon niyy…jangan dipikir aja put, tp diusahakan hehhehe…pissss…visit blogku ya :thenotesofme.wordpress.com

  7. @Gempurr
    Hush…jangan membuat orang berpikir aneh, mas…!!
    *gelenggelengkepala*
    @sintakhairunnisa
    Kyaaaa..yang baru ‘mempraktekkan’ ilmunya….he..he..
    Untuk saat ini..belum bisa mikir ke sana, Sin..
    Ntar kalo udah waktunya, barulah diriku minta bantuanmu..Bolehkah ? he..he..
    Masih inget ama pasangan Umirosaki, gak ? Yah..setipe-tipe itulah..cuma perlu dinasionalisasikan dalam kadar yang lumayan besar he..he….. *bercandamodeON*
    @nh18
    No body perfect..iya, pak..
    Semoga si pasangan juga mengerti bahwa pasangannya juga “Not Perfect at all”😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s