Maryamah Karpov

*Sumber Pic : http://masanam.co.cc/*

Tak dapat kupungkiri bahwa Maryamah Karpov adalah masterpiece-nya Pak Andrea Hirata. Sungguh menderu-deru hatiku saat membaca kata per kata yang tersaji dalam novel itu. Melayu sangat…! Mirip dengan apa-apa yang dulunya pernah diceritakan ibundaku. Tak jemu-jemu aku membolak-balik halaman, semata-mata untuk menikmati makna kata dan memahami kembali maksud kalimat itu.

Terus terang, sebelumnya aku sudah membaca tiga buah novel Pak Andrea, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Maka favoritku dahulu adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor…Namun setelah Maryamah Karpov ku-khatamkan, kupikir favoritku akan berubah, Laskar Pelangi (Novel ini tetap nomer satu buatku :D), Maryamah Karpov, Sang Pemimpi dan terakhir (tapi takkan berkurang sedikitpun kecintaanku pada karya beliau di novelnya yang ini) Edensor.

Laskar Pelangi menjadi nomer satu buatku, karena karya inilah yang membuatku berani menegakkan kembali mimpiku, harapanku akan pencapaian diriku sendiri. Mimpi yang akan menjadi penyemangat buatku untuk tidak memadamkan kobaran cita-cita.

Bagi Sobat yang sudah membaca Maryamah Karpov barangkali ada sensasi berbeda saat menelusuri kata demi kata novel itu. Begitu pun buatku….bagiku Maryamah Karpov lebih melayu daripada Laskar Pelangi ataupun Sang Pemimpi (aku tak bisa memasukkan Edensor dalam kategori melayu, karena pembahasaannya lebih meng-internasional).

Pertama kali membaca Maryamah Karpov aku seakan tersedot dalam komunitas melayu kepulauan, kampung ibunda tercintaku (meski latar belakang semua novel Pak Andrea adalah Melayu Belitong). Kampung yang selalu ia ceritakan pada kami di setiap waktu luangnya bahkan di sela-sela mati lampu. Benar pula kata Pak Gangsar Sukrisno, CEO Bentang Pustaka, yang menuliskan komen di cover belakang buku Maryamah Karpov ini bahwa Maryamah Karpov (dan karya-karya Pak Andrea yang lain) adalah cultural literary non fiction, yakni non fiksi yang digarap secara sastra berdasarkan pendekatan budaya (mantap sangat, eui bahasanya…*Perkenankan diriku kutip, ya, Pak Gangsar :D*).

Orang manapun, dari suku apapun, tatkala membaca novel-novel Pak Andrea barangkali akan segera menjadi seorang ahli sosiolog Melayu. Apatah lagi jika ia membaca Maryamah Karpov ini. Di awal-awal kisah, Pak Andrea mengupas habis habit orang-orang Melayu, namun dalam bahasa yang menarik. Menarik, karena jika berbicara tentang budaya…hanya ada dua jenis impact yaitu, menarik hati ataukah membuat kepala senewen karena istilah aneh ataupun peradaban nyleneh.

Yang membuatku bahagia adalah..ketika kampung ibuku, tempat tinggal Nyaiku (yang berarti keseluruhan areal Provinsi tempatku berpijak saat ini) muncul bertalu-talu di dalam Maryamah Karpov. Barangkali dulu tak ada yang tahu tentang Teluk Kuantan, Singkep, Bagan Siapi-Api, Bengkalis dan Tanjung Pinang…kupikir, tidak semua orang yang senang membaca mengetahui nama areal-areal ini, sekarang para pembaca novel akan mengenal areal ini. Wilayah kerajaan Melayu yang dahulunya kesohor sampai ke negeri Jiran (Sungguh, aku sama sekali tidak narsis😀 !).

Hingga, yang paling ku kagumi dari Maryamah Karpov adalah pembahasaannya…tak lain tak bukan. Di samping, budaya Melayunya yang begitu kukenal, daya tarik lainnya adalah science. Sejak di Laskar Pelangi, Pak Andrea sudah sering memakai bahasa ilmiah untuk nama-nama tumbuhan, mungkin untuk memudahkan klasifikasi karena terkadang setiap daerah menjuluki nama yang berbeda untuk satu jenis tanaman. Menghujani para pembaca dengan matematika, fisika, astronomi. Bahkan untuk Maryamah Karpov, Pak Andrea menambahkan ilmu engineering. Berbunga hati ini saat mendapati kata hidrodinamika di novel itu. Meski, harus kuakui hidrodinamika amat lekat dengan Teknik Sipil. Namun, mengingat kata itu, justru melemparkanku pada jenis fluida, tekanan, deretan pompa bahkan konversi satuan *Argh…Chemical Engineering sekali diriku ini..* Tapi, yang paling kentara adalah teknik perkapalan…tiada keraguan sekalipun tentang itu😀

Sudahkah Sobat membaca Maryamah Karpov ? Cobalah baca dan rasakan aura Melayu kuat mengetatkan diri dalam dunia imaji –mu…dan biarkan jiwa Pelaut membawamu ke laut lepas…Yihaaaaaaaaa !!

*Mohon maklum jika tulisanku kali ini rada bernuansa melayu…Aih…ter-influence rupanya tulisanku ini dengan Maryamah Karpov itu…. :D*

Ditengah keprihatinan mendalam untuk saudara-saudaraku di Pariaman, dan sekitarnya di areal Sumatra Barat yang terkena Gempa dengan besaran 7.6 Skala Richter pada pukul 17.16 WIB….Getarannya terasa sampai di ruang tamu tempatku membaca Maryamah Karpov…Semoga penanganan untuk korban Gempa ini segera dilakukan dan ditangani…Semoga diberi kekuatan dan ketabahan…

23 pemikiran pada “Maryamah Karpov

  1. Turut Prihatin dengan Gempa yang terjadi di Sumatera Barat
    Semoga semuanya diberi kekuatan untuk menerima cobaan ini

    Mengenai Maryamah Karpov ??
    Sudah … saya sudah membaca …
    Yang ada banyak Mozaik …
    Penggalan-penggalan cerita itu kan ?
    And yes … kental sekali budaya lokal …
    plus perilaku masyarakat di sana …

    Salam saya

  2. Melayoeeeeeeeee banget ….
    bayar hak cipta tuh ma malaysia hahaha

    ya mz andrea hirata memang cukup fenomenal, ogut juga sempet terbawa ma alur buku2nya..

    Seneng orang melayu kembali eksis di sastra .. (tp knp yg ini di ChemEng yah!!!)

  3. yupZ,twothumb for andrea hirata..
    **jempol lah pokoknamah..🙂

    well..sory to hear thats….smo9a ALLAH memberi kekuatan pada sodara2 kita di sumbar dans sekitarnya amien..

  4. @Gempurr
    Masih belum puas ama soal Hak Paten yang kemarin, ya ?
    Masa’ mo dibahas lagi…ckkk…ckkk…

    Pak Andrea emang Keren….!!

    he..he…
    Doakanlah orang melayu yang ini sukses besar di CheMeng..Amin..Amin.

    Seneng orang melayu kembali eksis di sastra .. (tp knp yg ini di ChemEng yah!!!)

    @wi3nd
    Mbak Wiend pun sepakat [lagi] sama Putri, ya..he..he..

    Very..very..deep grieve at this disaster…

  5. hai Putri, as always you’re good at writing, keep the good work and thanks for sharing.

    wah, jd pengen baca juga nih novel, cmn skrg kyknya kesibukan tbh banyak aja dek, jd waktu baca jg berkurang banget

    btw Minal Aidzin Wal Faidzin Putri🙂

  6. Di awal-awal kisah, Pak Andrea mengupas habis habit orang-orang Melayu, namun dalam bahasa yang menarik.

    Banyak orang menyangka kalau Andrea Hirata menulis memoirnya dalam tetralogi LP dengan unsur non fiksi. Tapi bagi aku yg lahir besar dan memang orang dari Belitung, lebih dari setengah isi karya bang Andrea adalah metafora dan penuh dengan fiksi. Tapi memang harus diakui kalau ingin membuat buku lebih menarik, unsur fiksi memang harus kental dimasukkan, kalau tidak buku akan jatuh menjadi dokumentasi atau pun biografi.

    Beberapa “kebiasaan” orang melayu belitung memang benar dilukiskan disana seperti suka senda gurau (orang belitung bilang rio campo), di kedai kopi ngomong hal yang dibesar-besarkan (ki’ bera, walaupun bohong tp lebih krn buat bercanda).

    Tp hal seperti suka memberi nama julukan sepertinya ditempat tinggalku tak pernah ada FYI, aku dulu tinggal di belitung barat (Kampong Parit) dan tengah (Kelapa Kampit). Terus budaya suka taruhan? Hmmmm koq aku lbh merasa ini budaya orang minang jaman sebelum perang padri, krn dikampung2 kecil di belitung sana aku jarang lihat orang taruhan.

    Terus pemberian nama suku sawang yg bikin ketawa arti namanya (ini sih buat olok2an Andrea doang), lalu tingkah polah orang2 bersarung (ini sebenarnya orang bugis, tp Andrea justru memberi nama mereka sesuai dgn nama orang butun).

    Memang menarik hati, tapi tak perlu dianggap seluruh tulisan bang Andrea itu sepenuhnya non fiksi. Jadi apa yang dikatakan Pak Gangsar itu memang benar.

    NB.
    1. Ki’ Bera = berasal dari nama orang Kakek (Ki’) Berahim (Ibrahim) yang disingkat. Beliau tokoh jaman dulu yg suka membual sampai orang2 tertawa mendengar lelucon bualannya sampai terpingkal2. Sekarang dipakai untuk menggambarkan orang yg suka membual berlebihan (biasanya untuk lelucon).

    2. Orang bugis hampir selalu bersarung, orang butun kadang saja (butun= orang asal pulau buton di sulawesi sana) dan orang yg memakai kata La seperti La Ani, La Emba dll adalah orang butun.

    3. Masih ada satu suku lagi yg tak pernah disinggung oleh Andrea yaitu orang buyan (asal dari kep. bawean) yg memang lbh banyak ditemukan di belitung barat drpd di timur (Gantong ada di timur) yg relatif jarang.

    4. O iya, novel favoritku justru Sang Pemimpi, karena apa yg digambarkan Andrea didalamnya banyak hal non-fiksi, dan hal ini bikin aku ingat pengalaman pribadi yg lucu jaman sekolah SMP dan SMU.

    5. Maap lahir bathin…… m(_ _)m

  7. @jingga
    Minal Aidin wal Faizin, mbak JIngga…
    Haduh..Putri jadi malu dipuji ama mbak Jingga *senyum*

    Mbak Jingga semakin sibuk, ya ? Mudah2an kalo ada waktu luang, sempat baca Maryamah Karpov…Novel ini keren banget, mbak… *promosidetected*
    @ Ando-kun
    Untungnya Putri sudah tahu dari awal kalo novel2 pak Andrea memang setengah fiksi. Pak Andrea sendiri yang mengatakan seperti itu…

    Wah..Mas Ando sampai memberikan ‘koreksi’ atas habit orang Melayu Belitong…he..he…

    Ternyata Mas Ando ini memang benar orang Melayu Belitong, ya ? Sudah lama putri menaruh kecurigaan…soalnya kalo Melayu Riau Kepulauan agak berbeda (bahasanya)…
    @diazhandsome
    Sepakat !!!
    LP emang keren
    @Huang
    Iya..turut berduka cita buat mereka..
    @Laskar Pelangi
    Terima kasih atas doanya..

  8. hoho fans tetralogi Mr. Andra Hirata juga ya🙂, sama put, ari juga sangat suka Laskar Pelangi (tetap no.satu), Endesor, Maryamah Karpov,dan Sang pemimpi juga suka, 2 jempol lagi dr utk Andrea Hirata (nambahin punya wiens😀 )

    dan utk saudara kita di Sumatera Barat semoga diberi ketabahan dan keikhlasan utk musibah ini

  9. saya malah ngelangkah-ngelangkah baca buku maryamah karpov, kurang berasa tastenya!
    wkekekekeke!

    saya merinding ternyata terjadinya gempa di padang jam 17.16 ada hubungannya dengan QS 17.16, juga gempa susulan 17.38 dan 17.58!
    Subhanllah!

  10. @afwan auliyar
    Saatnya membaca, wan…😆
    @ari
    SIp..sip…RI😀

    Amin..

    @galih
    Masa’ iya, Lih ? Tapi, biarpun bacanya tidak runut..sepertinya gak masalah, deh..he..he..

    Iya…ada kaitannya juga..Ampe buka terjemahannya…Subhanaallah..

  11. Hmm… Maryamah Karpov juga terlewatkan olehku.. Agak ‘off’ dari 3 buku sebelumnya. Mungkin karena buku 1, 2 n 3, runut menceritakan dari kecil hingga master ya? jadi sewaktu buku ke 4 bolak-balik lagi…

    Beda dengan Ando-kun.. ^.^v Like Edensor the most.. Tiga-empat chapter pertama dibaca beratus kali pun takkan pernah bosan (labaaayy)…

    • He..he…
      Kak Feather dari dulu emang udah seneng ama Edensor, ya ? he..he…

      Maryamah Karpov itu lebih banyak sastranya, kak…mungkin ‘sastra lebay’ xixixixi..
      Tapi kalo menurut Put, Edensor memang lebih ‘novel’ 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s