Menunggu…dan Menunggu

sumber pic:http://istockphoto.com

Kami masih saja dengan sabar menunggu pria muda itu. Ia satu-satunya anggota kelompok yang berjenis kelamin pria di kelompok kami ini. Aku dan temanku saling pandang.

“Apa yang dikerjakan anak itu, sih ?” sungutnya. Kurasa ia mulai tak sabaran.

“Sabar…mungkin laporan yang harus diperbaiki banyak…”ucapku menenangkannya.

Aku, Mita, dan Didi duduk di lobi Teknik yang sepi penghuni. Ini sudah menjelang maghrib. Bahkan, para pemain sepak bola yang tadi riuh rendah di halaman depan sekarang sudah berangsur pulang. Kampus mulai sepi dan kami, para gadis ini, mulai merasa kesal.

“Kenapa pula dia susah dihubungi?” Tanya temanku yang lain. Diktat praktikum yang dibacanya sampai lusuh karena sudah terlalu sering dibolak-balik. Hari ini adalah hari respon sekaligus revisi laporan kelompok kami. Dosen pengampu yang menangani modul kami memang unik, seorang perfeksionis dan teliti. Ada saja yang salah dengan laporan yang dengan susah payah kami kerjakan. Maka ini adalah revisi yang kesekian kalinya.

“Anak itu khan gak punya hape….susah menghubunginya…”jawabku.

“Tadi aku udah menghubungi Dayat, teman se-kostnya, katanya dia lagi ngeprint laporan…”sahut Mita.

“Kita tunggu sajalah…”tambah Mita lagi. Mata kami selalu mengarah ke tembok kecil, perbatasan lingkungan teknik dengan masyarakat luar. Tembok yang selalu dilalui pria itu saat ia akan ke kampus.

“Kita sholat dulu aja-lah…Mudah-mudahan setelah magrib dia datang..”

Kami bertiga sholat di atas lantai dua gedung. Tidak ada yang menjaga pintu lobi teknik. Biasanya pada malam hari pintu itu ditutup. Dan kami sama sekali lupa bahwa ‘sudah saat’nya pintu lobi, tempat kami naik ke lantai dua, akan ditutup. Setelah salam, kami mendengar suara pintu besi digeret dan gerendel pintu yang digesekkan.

Spontan, Didi langsung berlari keluar ruangan dan berteriak dari balkon lantai dua, yang syukurnya bisa langsung terlihat dari lantai dasar.

“Pak…Pak !! Jangan dikunci..!! Kami masih ada di lantai dua !!!” teriaknya…

Si bapak melongok ke atas dan mendapati wajah keringatan Didi di balkon, berikut wajah Mita yang begitu selesai sholat langsung ngacir ke balkon, tepat di samping Didi.

“Kalian belum pulang?” Tanya si bapak dari bawah.

“Belum, pak…Sebentar lagi !” kali ini Mita yang menjawab.

“Tolong pintunya dibuka dulu, pak…”ucap Didi.

Si bapak mengangguk kemudian membuka kembali pintu lobi. Segeralah kami turun ke lantai dasar. Kembali menekuni aktifitas sebelumnya…menunggu….

Menjelang Isya, terdengar suara motor mendekat. Semakin lama semakin keras dan kemudian………..

“Hah…ini dia yang ditunggu-tunggu…Kemana aja, GI ??!!!”semprot Didi marah

“Sampai lumutan kami nunggu….!” Tambah Mita….

“Lama buat laporannya ?”tanyaku dengan nada yang ditahan-tahan karena emosi yang agak meluap.

Dengan tampang innocentnya ia cuma pias dan meminta maaf….

“Maaf, ya…Ternyata banyak yang harus direvisi…Makan waktu lama..”ucapnya merasa bersalah.

“Kenapa gak bilang? Khan kita bisa bantu…”Didi mulai reda rasa kesalnya. Barangkali ia juga merasakan rasa bersalah pria muda dikelompok kami ini.

“Ia..setidaknya bilang, dong, kalo bakal lama…Khan kita bisa pulang dulu sebentar..Ke tempat Didi dulu misalnya..”ujar Mita. Dari ketiga gadis dikelompok ini, hanya tempat kost Didi yang berada di dalam kawasan kampus. Sementara, tempat kost Mita berada di luar kampus. Aku sendiri…? Rumahku jauh nun di kota sana. Sangat tidak mungkin pulang ke rumah dulu.

Sogi, satu-satunya pria di kelompok kami itu hanya menunduk…

“Maaf, ya ??”ujarnya meminta maaf dengan tulus..

“Sudahlah…yuk kita menghadap pak Dosen…Nanti makin malam, nih…!” ajakku.

Kami pun segera beranjak menuju lab tempat dimana dosen kami biasa ‘ngetem’.

‘Mudah-mudahan saja beliau masih ada di lab.’begitu harap kami dalam hati.

Dalam perjalanan menuju lab kukatakan pada Sogi,

“Lain kali, kalo diperkirakan laporan ini selesainya malam, tolong kasih tahu kami, ya…? Setidaknya jangan biarkan kami menunggu sampai begini malam..Kami ini khan perempuan.”ucapku pelan dengan suara ‘yang kuharap’ Mita dan Didi tidak mendengarnya. SOgi hanya menatap jalan dan mengangguk, kelihatan sekali kalo dia kelelahan dan merasa bersalah. Dan rasa kesal serta penat karena menunggu perlahan mulai menguap dari kepala kami.

19 pemikiran pada “Menunggu…dan Menunggu

  1. tapi untung teman2 perempuannya sogi ini lumayan bisa mengontrol marah ya… jadi ngga terjadi itu perang dunia ke3…:mrgreen:

    hampir aja, mbak Yo…
    Untunglah mereka gadis2 yang gampang luruh hatinya..he..he..*lebaydetected :mrgreen:*

      • @si amang,
        apa maksud perkataanmu, kisanak?
        *asahgolok*

        Mbak Yo…
        Putri gak ikut-ikutan, ya…he..he..
        *ngacircarit4persembunyianbuatnyaksiinperangsipitunglawankumpeni:D*

  2. komnikasi terputus ya begini. abis ngperintnya emang jauh kan , paling yang deket pondok muslimah. atau yang deket masjid ke arah barat yang di pojok . deket yang jual bakso , apa masih ada ya?

    de jam segitu di sekertariat masjid masih banyak orang kok. terutama penghuni dan yang mau nginep,iyakan .kan aku pernah disitu.

    aduh jadi inget lagi dah kampus Unri . kapan bisa mampir lagi

    Perhatiannya kakak ini…🙂
    btw..fak putri nun jauh di ‘pelosok’ kak…
    Sepi banget kalo malam-malam…

  3. Duh, kok aku ya kasihan deh melihat Sogie, yang udah keringatan, capek juga pastinya, dan mungkin sebenarnya dia ada niat untuk menghubungi kalian, tapi karena revisi yg terlalu banyak sehingga dia ya kelupaan deh jadinya..Tapi pastinya Sogie juga beruntung punya sahabat seperti kalian:).

    Indah ya Put mengenang cerita masa lalu, seperti apapun warna “rasa” nya yg dulu pernah ada, namun ketika dikenang kembali tetap indah rasanya dan pasti mampu mengukir seulas senyum di bibir kita, iya kan:) ?

    Mbak Rita emang baik, deh…
    Sogi pun dapat perhatian…Bisa besar kepala nanti dia…he..he…*peace, ya, om S :D*
    Iya, mbak…Masa lalu kalo dikenang memang menyenangkan he..he..

  4. Nunggu.. ? bagus.. sabar juga..
    btw, tanggung amat siy ni blog diganti2 bajunya.. sekalian aja di d****e hahaha
    *Sabar y putriq…kqkqk*

    Sabar, mas….
    Provokasi buat menD****e [insyaallah] gak bakal berhasil…he..he..
    *ighhhhhhh sejak kapan Putri jadi anaknya mas gempur…???*

  5. Ini kisah nyata bukan, terus settingnya dikampus mana? By the way cerita2 seperti ini memang menarik untuk dibaca…

    Ini kisah nyata, mbak..
    Kisah yang empunya blog….Versi aslinya malah lebih ‘parah’ dari ini..he..he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s