Mozaik Mulai Berpadu

*Seri Perantau*

Aku selalu bahagia jika bertemu sesama orang Indonesia di sini…Serasa bertemu dengan saudara tua yang telah lama menghilang. Ketika di sepanjang kelas, aku dan Sora hanya diam terpaku karena tak seorangpun ‘welcome’ dengan keberadaan kami. Karena kami selaku mahasiswa baru, tak berkesempatan untuk membentuk sebuah koloni baru. Kalem dan senyap. No response yet….

Padahal kali ini kami mengincar sesama warga negara Indonesia di kelas ini. Tak seorangpun berwajah Indonesia yang kami temui di kelas ini. Beberapa orang Timur Tengah, warga asli dan keturunan. Sora yang selalu bersemangat dengan perkuliahan pun tampaknya tak terlalu menyenangi situasi ini, terlebih lagi aku…(he…he…). “Tak begitu bersemangat, ya, Din ?” Aku menatapnya dan hanya memberikan jawaban dengan wajah yang lebih lesu dari dirinya…sama sekali tidak memberikan pengaruh positif.

Ketika kelas bubar, dan Siddiq mengajak Sora berbincang di saat itulah seseorang dengan cerianya menyapa kami. Di tengah arus keluar yang rada rame….ia menyapa kami dengan sapaan khas yang biasa aku sebutkan tatkala bertemu dengan rekan setanah air.

“Dari Indonesia, ya ???????”

Aku tersenyum, merekah dan mulai lebar….

“Iya…Indonesia ?” Ia mengangguk….Sora dan aku berpandangan…Betapa leganya kami…Ia adalah orang Indonesia pertama yang kami temui secara langsung di fakultas ini. Orang Indonesia yang juga satu jurusan, bahkan satu kelas dengan kami…Alhamdulillah…

Cepat, kami berkenalan…saling bertukar nomor telpon dan saling bercerita ala kadarnya. Tak banyak yang diceritakan karena masing-masing kami sibuk. Aku tahu Sora juga senang bertemu dengan pria muda itu. Ada aura semangat mulai memancar. Kami tahu bahwa kami tidak sendirian ‘tersesat’ di sini.  Dan entah mengapa, aku mulai merasa semakin mencintai tanah airku Indonesia…Barangkali karena aku berada tidak lagi di tanah yang sama dengan yang dipijak Pak SBY, meski kedua tanah ini amatlah dekat….

Seperti halnya di kelas yang lain..saat aku mendapati seorang gadis native duduk sendirian di kelas yang hanya dihuni beberapa orang rekan kelas. Satu-satunya native asli di antara mahasiswa asing.

“Hi…sudah masuk ke ?” tanyaku berbasa-basi.

Dia menggeleng dan dengan senyum lebar ia mengatakan, “Belum…Lecturer nya belum datang..”

Aku melihat ke arah depan, tempat favorit sang dosen. Ia native pertama yang dengan amat welcome menyambutku…Kebiasaanku saat bertemu orang yang ramah adalah mengajaknya ‘ngobrol’. Dan itulah yang aku lakukan. Aku berkenalan sambil memanggil Sora yang duduk beberapa kursi di sampingku. Dari sana aku tahu, bahwa ia satu semester lebih ‘tua’ dibandingkan kami berada di jurusan ini dan kami bakal banyak sekelas dengannya. Well, actually kami selalu sekelas dengannya😀. Ia adalah teman sekelas kami. Gadis ramah itu bernama Wafa.

Hal menarik lainnya adalah, Wafa juga memperkenalkan teman satu semesternya yang lalu. Pemuda itu berasal dari Timur Tengah, ia memanggilnya Ayat…..dan Ayat juga adalah teman sekelas Wafa yang artinya juga akan menjadi teman sekelas kami…

Sampai sekarang aku bahkan tak percaya, dualism, kami (baca: aku dan Sora) dengan cepat berkembang menjadi sel-sel baru yang semakin kokoh. Kami menjadi suatu kelompok yang kompak;  Sora, Aku, Wafa, Siddiq, bahkan Ayat. Aku tahu bahwa kami adalah PBB baru di kelas ini….he…he…

17 pemikiran pada “Mozaik Mulai Berpadu

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Indahnya ketemu saudara sebangsa setanah air di negeri rantau laksana ketemu saudara kandung yang lama dirindu

    *kondisi aman terkendali, pak..(insyaallah)*
    Tak terkirakan..betapa berseri2nya Sora dan Dini saat mengalami hal ini…🙂
    Terima kasih atas responnya, pak…

  2. Jangankan di negara lain, sis… di kota lain yang masih Indonesia saja… bila kita bertemu yang satu daerah, rasanya hepi banget hehehe… bertanya “Ende mananya?” atau “di jalan apa rumahnya?” dan rasanya mustahil bisa nggak kenal dia padahal Ende kecil😀

    btw, met wiken, sis🙂

  3. Jangankan di negara lain, sis… di kota lain yang masih Indonesia saja… bila kita bertemu yang satu daerah, rasanya hepi banget hehehe… bertanya “Ende mananya?” atau “di jalan apa rumahnya?” dan rasanya mustahil bisa nggak kenal dia padahal Ende kecil😀

    btw, met wiken, sis🙂

    (tadi komentnya waktu masih ter-log-in pake komunitas Spendu di wordpress hahahahaha :D)

    Benar, mbak…100 % bener..

    aih ? he..he..
    btw..mbak tuteh masih inget contain comment yang sebelumnya dengan baik, ya..:D

  4. Salam kenal…
    Jauh dari tanah air membuat kita lebih menghargai negeri kita…. banyak yang dikangeni di sana… for better or worse..🙂

    Salam kenal kembali, mbak..
    Itulah yang dirasakan oleh Dini dan Sora, mbak…🙂

  5. Bulan lalu saya mengunjungi negara yang tak berjilbab, sebagian besar beragama non muslim, kemudian saya bertemu dengan orang malaysia … duh rasanya senang bukan kepalang.

    kami berkenalan karena kerudung indah kami🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s