Red Moon

Entahkan ini memang bulan terang ato apa…Yang  jelas suasana saat itu masih aku ingat dengan jelas…………..

“I want to reschedule our class…” adalah kata pembuka dari lecturerku siang itu. Teman-teman yang lain telah berkumpul dan bersiap menerima pelajaran pada siang itu. Cuaca memang agak panas. Aku, Dini dan Wafa masih membawa serta keringat kami ke dalam kelas. Kami baru saja duduk..mengatur nafas dan mengeluarkan alat tulis saat kata-kata itu keluar dari mulut sang lecturer.

Beberapa teman sekelas yang lain sibuk mengatur jadwal. Aku, dan kedua temanku masih kalem..menyaksikan mereka saling melempar argument tentang waktu yang pas untuk perubahan jadwal. Aku masih saja tenang…saat Wafa mulai tidak tenang.

“Jer.. kalo malam..nanti tak ada bas ..payah-lah..”ucap gadis itu bersuara. Aku dan Dini saling pandang.

“Bilang-lah, Fa…kasih tahu mereka ..kalo bisa tak usah malam belajarnya…” ucapku.

Wafa berdiri…dan meminta agar rekan-rekan yang lain mempertimbangkan kondisi asramanya yang sulit bus saat malam hari. Tapi, yang lain tidak menggubris ucapan gadis itu…Mereka masih saja sibuk dengan jadwal mereka tanpa sama sekali mengindahkan ‘permintaan’ Wafa.

Alur diskusi masih seputar-an para mahasiswa saja…lecturer sama sekali tidak ikut campur..karena masing-masing dari kami memiliki jadwal yang berbeda…dan sang lecturer telah memberikan beberapa jadwal yang ia bisa ia pertimbangkan. Sayangnya…dengan diskusi yang sedemikian  alot dan tidak ada yang mau mengalah…atau bahkan ‘berbaik hati’ mempertimbangkan kondisi Wafa..Aku sudah mulai kesal dengan diskusi yang sama sekali tidak fair ini.

Tiba-tiba Dini berdiri…dan

“I think you guys should consider Wafa…She can lost her bus if she went late..”suara gadis itu masih normal di telingaku…

Namun, respon dari teman-teman yang lain sungguh tidak mengenakkan…mereka sama sekali tidak memandang apa yang dikatakan oleh Dini dan juga Wafa..Siddiq bahkan mencoba menolong Wafa dengan ikut mendukung apa yang dikatakan oleh Dini…

“Try to find another days…”ucapnya…Tapi..entah mengapa, usulannya dianggap angin lalu..

“You can’t be so egois…somebody should come here just to attend one class in Monday..”ujar seseorang..”Ia-lah yang meminta kelas dimulai saat sore mulai larut. Aku melotot…lalu bagaimana dengan kami yang juga hanya menghadiri satu kelas pada satu hari dan kami sama sekali tidak protes…Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat…???

Aku mulai gerah dengan suasana ini…Padahal sebelumnya kami sudah mulai mempunyai titik terang…Tapi, ada yang tidak puas dan permasalahan kembali muncul…dan tetap saja…mereka tidak mempertimbangkan kondisi Wafa. Meskipun, kami pulang pukul 7 malam (jika nanti jadwal yang diributkan ini bakal terealisir…), Wafa tetap saja akan sampai ke asrama pukul 10.30 malam. Itu karena bus yang menuju ke asramanya tidak begitu banyak. Begitu ia kehilangan bus pada pukul 6.30..maka ia harus menunggu bus berikutnya pada pukul 9 (atau paling lambat pukul 10) malam. Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Dini sudah mulai berbicara di kelas ini. Padahal dia sebenarnya tidak begitu ingin ‘ngotot-ngototan’. Aku sudah ingin berdiri dan mengatakan sesuatu saat kulihat sekelebat bayangan berdiri dan dengan nada suara yang perlahan meninggi memecah kesemerawutan kelas..

“What is the matter with you ???!!!!”

“Can’t u consider her…(Dini menunjuk Wafa)..She can’t catch up the bus…” kali ini suara gadis itu membesar (bukan meninggi…)

“If you guys keep insist with that time…” suaranya masih tinggi…Aku bahkan bisa melihat ada perubahan mimic wajahnya..Ia semakin tegang…Kurasa ia tak kuasa menahan emosinya yang meluap..

Beberapa orang terdiam…suasana kelas menjadi semakin tegang..dan kelam..Lecturer pun segera mengambil langkah bijak…Ia langsung ke depan dan memerintahkan untuk vote…Ku rasa kelas ini sama sekali tidak mengenal kata musyawarah mufakat…Mereka tidak menghargai apa-apa yang telah disepakati sebelumnya..Ingin kuajarkan sila ke-4 itu pada mereka..Atau perlu kupinjam suara besar Dini untuk mengucapkan butir-butir sila ke-4…hufh…suasana sore itu memang tegang.

Bahkan, usai kelas kami masih membahas hal yang sama. Wafa mengatakan bahwa Dini sampai pada fase ‘tak kuasa menahan amarah’…Aku mau tidak mau agak sepakat dengan Wafa…Dini memang emosional…dan agak sulit mengukur level emosionalnya..apakah masih di level intermediet, medium ato high. Meski Dini mengaku bahwa ia sama sekali tidak marah…ia hanya menaikkan volume suaranya..Beberapa orang di kelas hanya mengenal Dini dengan suaranya yang pelan hingga mereka terkejut ketika tiba-tiba Dini menaikkan volume suaranya…Aku mengenal Dini..dan aku tahu bahwa saat itu ia tidak marah…kesal mungkin tapi kalo marah…hm..hm…aku sendiri masih penasaran dengan gaya marah bocah itu.

Hasil diskusi kelas tidak terlalu banyak memberikan keuntungan pada kami, meskipun sampai ada insiden ‘suara besar Dini’. Karena begitu keputusan telah diambil dan keputusan itu sedikit banyak memberikan kebaikan buat Wafa…seorang teman langsung mengatakan bahwa ia tidak bisa menerima keputusan itu karena dia ada kelas lain…Dini sudah mengkerut, dan kening Wafa sudah berlipat-lipat…Aku ? Aku justru emosi….setelah sekian lama kami meributkan hal ini kenapa baru sekarang ia mau protes….Akhirnya keputusan diubah…tidak begitu baik buat kami..tapi kupikir kami sangat gentlemen…Kami menerima keputusan bersama dengan legawa dan berhati besar….

Dari kelas ini aku tahu…ternyata tidak mudah menerapkan Musyawarah mufakat itu..jika setiap kita tidak mempunyai komitmen untuk melaksanakan apa-apa yang telah kita sepakati bersama….

5 pemikiran pada “Red Moon

  1. kadang aku jg suka terkejut dengan keegoisan sebagian orang. pernah mengalaminya soalnya.
    kalau hanya mengambil resiko “hanya satu kelas dalam satu hari” mestinya tidak sebesar resiko “wanita pulang malam sendirian”…
    sangat tidak peka😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s