Karena Mawar itu Berduri, Sobat !!

*Seri Perantau*

Sumber: here

Tak ada yang lebih melegakan selain menyelesaikan tugas-tugas kampus yang menumpuk. Aku merasa sudah saatnya melepaskan jenuh dan segala tekanan dengan memulai perjalanan rileks…Pagi itu kami masih di pustaka. Mengerjakan tugas kelompok yang seyogyanya akan dikumpulkan beberapa hari lagi. Sebenarnya, Aku dan Wafa sudah merencanakan untuk berjalan-jalan ke salah satu Mal di kota ini sedangkan  Dini masih belum mengiyakan ajakan-ku, anak itu kelihatan begitu lelah. Lelah dalam artian betapa inginnya ia meletakkan dirinya dalam tempurung lembut bernama kasur…he..he..

“Jom..kita ke J.J…”ajakku…Wafa nyegir…dan Dini bahkan masih melayang…

“Dengan bawaan segini banyak ?” ujar Dini…Aku menatap Dini yang memanggul ranselnya, menatap Wafa yang masih setia memegang buku Matlab kesukaannya dan (syukurlah aku tak perlu memandang diriku sendiri..he…he..) ranselku yang isinya tak bisa dibilang ringan…

“Tak apelah…Ringan aja pun..”jawab gadis melayu itu singkat…

Aku nyengir…dan Dini angkat bahu…

“Okelah kalo begitu….”jawab Dini setuju…Kupikir Dini pun pengin sejenak jalan-jalan..he..he..

Kami sibuk memilih barang, pergi ke counter ini dan itu. Mencari barang-barang keperluan. Aku membeli gelas dan alat-alat kebersihan. Wafa membeli peralatan tulis dan botol air minum sedangkan Dini membeli persediaan makanan, jika bepergian gadis itu tak lupa membeli roti…Aku bahkan sudah mulai hafal beberapa kebiasaan gadis itu…

Kami masih menunggu bus kampus yang akan membawa kami pulang ke wilayah kampus. Untunglah kampus mempersiapkan bus-bus asrama yang akan membawa dan menjemput setiap mahasiswa yang bepergian ke luar kampus pada hari Sabtu atawa Minggu. Ini adalah kali pertamanya kami memanfaatkan fasilitas ini.

Dan aku, Wafa dan Dini berdiri di pinggiran trotoar menanti bus kampus. Hm…sebenarnya bukan hanya kami saja…tapi juga belasan mahasiswa lainnya. Berderet-deret dengan membawa belanjaan mereka masing-masing. Hari sudah menjelang larut. Gerombolan semakin banyak.

Kala itu, kami masih asyik berbincang-bincang saat seseorang menyenggol Dini. Pria yang kelihatannya sedang teler itu kemudian menggoda gadis yang berdiri tak jauh dari kami. Ia hendak mencolek gadis itu..Gadis itu, hanya sendirian karena seorang temannya sedang pergi ke suatu tempat, tampak agak pias. Kemudian aku mendengar suara teriakan yang agak familiar..berasal tak jauh dari diriku.

“Woi !!!!”

Kemudian sebuah tarikan keras menjambak baju si pria muda yang sedang dalam kondisi teller itu. Sebuah botol melayang ke arah mukanya…

“BUgggggggkkkkk!” keras..keras sekali bunyinya…Semua orang di sana menatap kejadian itu…dan aku terpengarah…

Kedua sobatku itu sudah berada di sana…eitsssss ralat..mereka adalah tokoh antagonisnya…Saat itu, pria muda itu sedang dipelasah oleh kedua gadis itu. Dini-lah yang menghantam muka si pria muda dan Wafa sudah bersiap-siap menyarungkan tinju kedua-nya ke perut si perusuh. Karena tinju pertamanya sudah melayang ke dada anak muda itu. Pria muda itu tersungkur…Beberapa pria Timur Tengah di sekitar kami mulai berkerumun dan berbisik-bisik. Sementara gadis itu masih pucat..Segera aku menghampirinya…

“Tak ape, ke ?”

Ia bahkan tak sanggup berbicara…masih shock kelihatannya. Aku memperhatikan kedua sobatku yang kelihatan masih kesal…

“Tak gune…Apa nak awak buat tu…Hah !!” Wafa berteriak marah..

Dini tak berkata apa-apa…tapi botol air minumnya kelihatannya ‘siap’  untuk ‘berkata-kata’ sekali lagi..

Pria muda itu bangkit dan marah…Kelihatan sekali ia marah..Tapi, demi melihat ramainya kerumunan dan beberapa pria Arab berbadan besar yang datang menghampiri juga beberapa pria lainnya…Ia hanya bersungut dan kemudian kabur.

“Pengecut !!” sungut Dini kesal…

“Kurang Ajar…!” kali ini Wafa yang bersungut…Aku menatap keduanya…Gadis-gadis itu sungguh tak kenal takut..dengan gampangnya mereka menghajar pria muda itu. Padahal, orang teller kadang tidak bisa diduga aksinya…Aku sudah khawatir pria mabuk itu menyelipkan pisau dibalik bajunya…Syukurlah, mereka tidak apa-apa dan yang paling penting gadis itu sekarang sudah agak tenang.

“What’s exactly happen?” Tanya salah seorang pria muda Timur Tengah itu…Aku ingin menjawab tapi kurasa..Wafa dan Dini lebih kompeten untuk menjawab pertanyaan itu..Dengan ringkas, Wafa menjelaskan awal mula kejadiannya pada beberapa orang yang bertanya padanya. Dini menghampiriku dan berusaha mengatur nafasnya yang kelihatan emosi.

“Untung tak Dini hajar wajahnya, Sor…”ucapnya. Aku menatap gadis itu…

“Bukannya tadi udah kamu hajar, Din..Pake botol minuman itu…”ucapku meralat ucapannya…Tiba-tiba Dini nyengir…dan berkata dengan nada bercanda..

“Maksudku..menghajar untuk kedua kali-nya…he..he…”

“Hush…udah ah…Masa’ mo menghajar lagi…Cukup sekali aja hajar-menghajarnya…Bisa-bisa ntar urusannya malah jadi berabe……Cooling down aja….”ucapku berbisik. Dini nyengir…Kelihatan kalau anak itu sudah mulai tenang…Bahkan Wafa sudah mulai tidak setegang tadi…

Kerumunan malam itu berangsur bubar.

Tak lama kemudian bus kampus pun datang…Cepat kejadian itu menjadi sama sekali tak berbekas…Tapi untuk kami bertiga, dan juga gadis itu…kejadian malam itu sama sekali tak bisa dilupakan begitu saja.

*akhirnya..publish juga inih cerita..he..he..*

14 pemikiran pada “Karena Mawar itu Berduri, Sobat !!

  1. Wah….kerennn bangt teman2 kakak…:D

    he..he…
    begitulah, ya…
    Ini khan kisah para perantau…Makanya para perantaunya terikat dalam satu ‘ikatan’😀

  2. Mungkin komentar saya tidak ada hubungannya dengan Isi …
    Namun saya tertarik dengan judulnya …
    Karena Mawar itu Berduri ?

    Mawar itu Cantik !!!
    Maka dari itu … dia perlu sesuatu untuk melindungi dirinya …

  3. Ping balik: demikian menurutku tentangmu .. dalam hal ini « komuter jakarta raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s