Si Badan Besar

Pernah melihat bus yang melintas ? Mulanya dia akan muncul perlahan, menampakkan bodynya kemudian semakin dekat dan menunjukkan body besinya yang kukuh. Body besar nan sangar itu seakan ingin menerjang setiap pejalan kaki yang berseliweran di jalanan. Namun, ia akan terus saja berjalan, berhenti tatkala ada yang menaikinya. Kemudian ia akan perlahan bergerak meninggalkan kita yang menatapnya dari kejauhan. Jauh…semakin lama semakin jauh….

*Jika diasosiasikan agak mirip  dengan teori Copernicus ^_^*

Kurasa, hal yang sama juga berlaku tatkala kita menghadapi berbagai permasalahan-permasalahan hidup. Ketika kita menyadari bahwa akan ada masalah-masalah yang muncul (masalah=bus besar, red), kita cenderung melihat betapa besarnya permasalahan itu. Menjadikannya bulan-bulanan, bahan pikiran yang senantiasa menggantung di kepala kita. Memenuhi bathin kita hingga kelapangan hati menjadi mengkerucut sesempit lift ukurun 1×1 m. Kita terlalu fokus pada ‘badan besi’ besar yang menggelayuti pikiran kita hingga satu per satu merontokkan rambut.

Barangkali ada satu hal yang terlupa pada diri kita, saat kita hanya menempatkan diri sebagai pengamat maka ‘badan besi’ itu perlahan akan menjauh. Ia akan berjalan, bergerak menjauhi kita. Tapi, tatkala kita menempatkan diri sebagai penumpang maka kita akan terus dibawa si ‘badan besar’ kemana pun ia pergi. Itu artinya kita akan selalu berada dalam masalah karena kita selalu memikirkan masalah itu sendiri.

Kurasa, ada baiknya kita memikirkan sesuatu pada saat yang tepat kemudian memutuskan untuk segera menjadi pengamat. Menyadari bahwa setiap permasalahan akan datang komplit bersama setiap solusinya sendiri. Ia akan datang kapan saja dan akan bergerak menjauh tatkala kita membiarkannya menjauh…

Maka ia adalah sebuah pilihan….

Ingin menjadi penumpang-kah atau menjadi pengamat….?

7 pemikiran pada “Si Badan Besar

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Terkadang emang ada permasalahan yang akan selesai atau pergi dengan sendirinya. Terkadang pula ‘bis itu mogok’ di depan kita dan kita harus ikutan sedikit mendorongnya…

    mendorongnya….dalam artian segera menyelesaikan masalah…put rasa itu memang perlu, mas..😀

  2. hmmm, kayanya nggak bisa juga nunggu bis (masalah) besar itu berlalu dengan sendirinya sebab sebagai pengamat, keberadaan bis besar yg sedang ngetem itu menghalangi pemandangan jadi harus dicari solusinya gimana meminggirkan bis besar itu (ato dikecilin lah klo ga bisa diilangin)😀

    he..he…
    betul-betul…
    Memang perlu melakukan aksi, mas..😀

  3. hisashiburi desu ne put, lama ari ga mampir ni, o genki desu ka? datang kesini naik bus lho😀 *just kidding*

    iya, ri..
    Sibuk, ya ?
    Genki desu …Alhamdulillah😀
    Bus-nya diparkir di lapangan mini, dulu, ya, ri..he..he..

  4. terkadan9 menjadi penumpan9 [bahkan tiap hare kan naek bus he he] terkadan9 menjadi pen9amat,semua daku alami🙂

    tapi tidak masalah.setiap masalah selalu ada jalan keluarnya..🙂

    sampai bertemu diruan9 rindu yaaa🙂

    iya, mbak…sepertinya kita perlu meyakini bahwa setiap permasalahan selalu ada jalan keluarnya…
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s