This is about Shoes and others

source pic from here

Beberapa dari kita barangkali pernah mendengar perkataan seperti ini…

“Sampai sandal pun tipis…”

Tentu saja maksud dari perkataan ini adalah bahwa tapak sepatu kita menjadi tipis…(peng-artian sebenarnya dari maksud kalimat tersebut😀 ). Terus terang aku belum pernah (secara sadar) memperhatikan tapak sandalku. Apakah ia benar-benar telah tipis karena dimakan usia ataukah karena penggunaan secara ‘sembarangan’ oleh kaki  pemiliknya.

Dahulunya sepatu kets yang sering kupakai belum mengalami ‘degradasi’ tapak kecuali sepatu yang beberapa waktu ini menemaniku. Sekarang sepatu putih itu harus pensiun dini karena selain tapaknya yang menipis karena digerus waktu dijahit, ia mengalami apa yang kusebut  ’ tak kuasa menahan  gempuran’.  Sepatu itu sudah mengalami jahitan pertamanya untuk mempertahankan performanya. Dengan kata lain, ia diberi enhancement selain lem pertamanya (lem dari pabrik aslinya he..he..). Nasib malang sepatuku adalah…selain ia memperoleh penguatan..ia juga ‘mau tidak mau’ mengalami ‘penggerusan’.  Aku menatap malang pada tapak sepatu putihku itu.

Berikutnya adalah kondisi jahitan karena memang kondisi jahitan pertama yang ‘memilukan’.  Ia perlu dijahit sampai dua kali dan ketika ia memerlukan jahitan ketiga….Sudah saatnya aku mengambil keputusan yang mandiri. Kupikir, sepatu itu telah bekerja ‘diluar kemampuannya’. Ia kupakai saat ke kampus, saat bepergian jauh dan bahkan saat aku berlari-lari di lapangan hijau. Aku benar-benar memaksimalkan fungsi sepatuku itu. Maka, jadilah ia harus mem-pensiunkan dirinya secara dini.

Nasib yang tak kalah serupa adalah sandal jepitku.. Baru beberapa hari belakangan ini aku benar2 memperhatikan kondisinya. Ntahkan karena karetnya yang terlampau lentur, ntahkan karena tekanan gravitasiku yang terlampau berat. Ketebalan sandal jepitku mulai berkurang. Hm…..kondisinya..mulai melempem. Aku menyebut kondisi itu…”penyek”.

Syukurlah aku masih bisa menggunakan sandal jepit itu. Setidaknya, ia masih belum perlu aku pensiunkan secara dini. Mengingat ‘masa baktinya’ belumlah terlalu lama…. ^_^

Sebuah cerita sederhana tentang alas kaki, tempat kita mempercayakan langkah-langkah kita menjejak di bumi….

21 pemikiran pada “This is about Shoes and others

  1. mungkin tapaknya menipis karena sudah letih beradu dengan aspal, pertanda minta diganti dengan yang baru😀

    he..he…
    barangkali demikian adanya, mbak…
    *nyengir-nyengirgaktentuarah*😀

  2. Kisah sederhana tapi bermakna
    ..
    Menarik put^_^

    kakakakakakakak..
    akhirnya berkunjung ke blog sederhana putri..🙂
    terima kasih atas kunjungannya, kak…
    Silahkeun…ada sebuah ‘teh hangat’ untuk kakak… ^_^

  3. pake swall*w paling mantab ^^, tahan banting disegala kondisi🙂
    sandalku yg sekarang udah hampir 3 tahun umurnya, masih sehat walafiat ^^

    nah lho, nra..
    di taiwan ada Swall*w juga ??
    Sandal jepitku juga ada turunan swall*w juga…..

  4. Wah…perkara sepatu/ sandal jepit jangan dianggap remeh, Put. Bisa berabe kalo sepatu/ sandal tiba2 lepas waktu kaki melangkah….Ya, setidaknya, Putri lebih sedikit perhatian gitu sm sepatu/ sandal ^^

  5. Alas kaki adalah yang terpenting. Dulu ada teman saya suka bilang untuk apa beli sepatu ato sendal mahal-mahal toh hanya untuk mijak kotoran. Mungkin dia menganut filosofi bahwa bagian kaki bukanlah yang terpenting. Padahal sesungguhnya kaki adalah tonggak penting tubuh ini. Dia yang membawa kita kemana-mana, dia yang menopang badan kita, jadi selayaknya kita merawat kaki kita dengan baik, termasuk juga menghadiahkan dia sepatu ato sandal yang nyaman.

    Ayooo ayooo pada cek kaki masing2… kuku bersih gak, telapak kaki kapalan gak…. hehehe…

  6. dulu waktu masih SD kakak sepupu menjuluki cara berjalan saya seperti “garobak osoh”. bahasa minang yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai “gerobak yang diseret”. saya hobi menyeret2 sandal, menghasilkan bunyi “sret! sret!”😀

    tapi sekarang udah nggak lagi. gara-gara waktu SMA ikutan ekskul paskibra, jalan saya udah bener dikit.😀

    sekarang waktu sering jalan-jalan, yang sering jadi korban adalah sandal jepit. bukan karena menipis, tapi karena talinya putus.😀

  7. kakiku termasuk “ganas” makan sepatu…ditambah lagi aku orang yang paling “rajin” ngerawat sepatu, makanya kalo beli sepatu atau sandal yang tahan banting….makanya modelnya ditanggung ngga ada yang “up to date” yang penting fungsinya “Tahan disegala medan”

  8. Entah kenapa dari sandal jepit yang pernah gue punya, yang sekarang ini yang paling gue suka.
    Walaupun warnanya udah gak jelas, tapi berasa nyaman aja dipake😀

  9. kalau mau sandal yg umurnya lama dan peduli lingkungan,,,
    pakai tuh mbak sandal dari BAN mobil

    di jawa kusebutnya sandal SAPI karena SaPI sandalnya pakai itu..
    atau Sandal BAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s