Belajar Lebih Hidup

Setiap kita mempunyai  liku kehidupan yang terkadang dipenuhi beling-beling kilauan yang disatu sisi bisa merobek kulit kaki kita namun di saat yang lain bisa menjadi batu yang indah di jemari kita. Tantangan hidup memacu kita untuk pandai memilah jalan dan bertahan dalam perjalanan yang kita tempuh. Meski terkadang, kita ingin sekali berbalik arah, kembali menuju titik awal kemudian mengulang kembali perjalanan kita dengan jalan yang baru.

Aku hanya berada di sana dalam hitungan jam tetapi aku telah banyak belajar dari tempat itu juga dari orang-orangnya akan pentingnya rasa bersyukur, akan berharganya waktu yang kita jalani saat ini dan juga akan pentingnya orang-orang di sekitar kita.

Aku kembali diingatkan tentang nikmat hidup, nikmat kesehatan , nikmat orang-orang yang mengasihi kita..bahkan nikmat kewarasan.

Sehat takkan kembali berulang ketika kita menyadari bahwa kita telah sakit. Saat salah satu organ di tubuh kita tidak lagi berfungsi sebagaimana biasanya. Karena kita, mau tidak mau akan menge-rem setiap aktivitas yang dapat memberatkan tubuh kita. Tubuh yang dahulunya ‘baik-baik’ saja saat kita bawa ‘marathon’ di kantor mulai dari jam 8 pagi sampai jam 8 pagi berikutnya. Mata yang sehat-sehat saja tatkala dulu kita jejali monitor computer-tivi-computer secara estafet lebih dari 24 jam. Otot-otot berjejalan yang dulu memanggul berkilo-kilo beban. Allah SWT Maha sempurna untuk setiap ciptaanNya. Ia menciptakan dengan detail setiap inchi dari tubuh kita lengkap dengan alarm-alarm alaminya. Ketika tubuh mulai mengeluarkan sinyal, pegal-pegal, lelah, lemah, lesu, berdenyut-denyut, barangkali tidak ada salahnya jika kita beristirahat sejenak. Melarikan tubuh dan pikiran kita pada nikmat waktu luang untuk rehat dari hentakan aktifitas yang bergunung-gunung.

Juga nikmat rasa sayang dari ayah-ibu,kakak-adik, kakek-nenek, paman-bibi, pakde-bude  dan anak-anak kita.

Nikmat anak…..

Hari ini aku belajar….memahami orang tua yang begitu merindukan anak…yang begitu menyayangi anak-anaknya, yang bersedih tatkala anaknya berjauhan darinya…yang rindu ingin memeluk anaknya…

Aku belajar dari orang yang meninggalkan anaknya begitu saja …

Bayi mungil manis itu terbangun tatkala aku dan temanku datang…ia baru beberapa bulan saja…dan ia sangat mungil….Ibu yang berada di sana bercerita bahwa bayi itu ditinggalkan ibunya di rumah sakit karena si ibu malu. Bayi mungil itu hasil hubungan gelap dengan orang asing.

Setiap anak berjalan dengan dibimbing oleh tangan-tangan orang tuanya, orang yang mengasihi mereka. Yang akan mewarnai hidup mereka…membawa mereka ke jalan yang baik ato justru membawa mereka ke jalan yang berlawanan arah dengan fitrah mereka sebagai seorang anak.

Bayi-bayi itu memang tidak tahu siapa ibu mereka, siapa yang merawat mereka…tapi mereka mengenali limpahan kasih sayang setiap orang-orang yang ada di sekitar mereka dari sensor yang berasal dari hati mereka…hati putih bersih yang belum terkontaminasi oleh noktah-noktah dosa. Aku bisa melihat senyum bayi mungil itu tatkala ia diberi susu botol oleh ibu yang ada di tempat itu. Aku melihat senyum dari balita yang ada di sana. Senyum tulus mereka tatkala ada yang menggendong ataupun bermain dengan mereka..

Seperti ini lah perasaan setiap orang tua…mereka mencintai anak-anak mereka, buah hati mereka dengan sepenuh hati. Allah melimpahi hati setiap orang tua dengan begitu banyak kesabaran dengan begitu banyak ruang-ruang kasih sayang yang seolah tak pernah habis. Aku belajar…menjadi seorang anak yang bersyukur mempunyai orang tua yang baik, orang tua yang merindui –ku meski mereka hanya mengatakannya lewat tatapan mata ato pelukan hangat. Semoga Allah SWT melimpahkan setiap orang tua di muka bumi ini dengan Ar-Rahim-Nya….kebahagiaan dan keberkahan…Amin

 

10 pemikiran pada “Belajar Lebih Hidup

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Nikmat pemberian Allah melimpah ruah terbentang di atas buminya. Heran, masih ada saja yang tidak mampu menikmati nikmat itu dengan membuang anak begitu saja😦

  2. sungguh perkataannya menyentuh hatiku saat membacanya. setiap orang tua hanya memiliki tujuan untuk berusaha sebisa mungkin membahagiakan anak-anaknya dan memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.

    sungguh mulia hati dan jiwa orang tua kita yang mengcurahkan seluruh kasih sayang dan perhatian untuk kita tanpa mengharapkan imbalan apapun dari kita.

  3. sungguh mulia hati yang didalam ada kasih sayang ,apalagi terhadap seorang anak yg bukan anak sendiri, bahagialah mereka yg dirahmati Allah krn hatinya penuh cinta.
    salam

    iya, bu….
    Hati yang masih hidup….

    salam kembali, bu.. ^_^

  4. Seperti ini lah perasaan setiap orang tua…mereka mencintai anak-anak mereka, buah hati mereka dengan sepenuh hati

    jadi inget bapak ibu saya😦
    semoag mereka berdua selalu sehat dan bahagia😀

    salam kenal

    Amin…
    Put rasa semua orang tua punya perasaan seperti itu, bu…
    Jikapun misalnya ada sesuatu dan lain hal yang membuat mereka berubah…Setidaknya dahulu, mereka punya cinta dan cinta itu tetap akan ada. Meskipun saat ini sedang berhibernasi..

  5. Hallo Putri…maap baru sempat berkunjung nih…!
    Saya tertarik bagian yg menjaga kesehatan aja deh…cocok banget sama kondisi badan yg lagi capek fisik dan psikis…sebelum semuanya terlambat (baca:sakit), hak tubuh untuk berisirahat atau mengerjakan hal-hal yg menyenangkan perlu diperhatikan, itu juga salah satu cara menjaga kesehatan kan…?

    Selamat beraktifitas…sukses selalu ya…!

    hallo juga, mbak… ^_^
    bener….hak badan juga perlu dijaga..gak cuma diforsir doang..he..he..

  6. oke oke..
    klo menikmati sebuah yg memang disebut sebagai nikmat sudah umum.
    skrg gmn dengan berusaha menikmati sebuah hal yg sering disebut dengan ‘keburukan’.
    misal: menikmati musibah, menikmati kesempitan, menikmati sakit, dll.

    hehehehe
    ‘menikmati’ hal yang disebut keburukan seperti yang ditulis gado2 sepertinya adalah bahasa halus dari menerima takdir…menjalani hidup dengan baik..Begitu bukan ?

    ttg doaya, ikut mengamni saja.
    amiiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s