Cinta itu dari Food…. !!! That come from it !!

Aha…!! Benar…?

Ntah lah… Ide ini terbentang ketika aku membaca komen seseorang di salah satu jejaring social tentang merasakan ketulusan dari pemberian seseorang. Kebetulan saat itu pemberian tersebut berwujud makanan
Benarkah kita bisa merasakan ketulusan dari makanan yang diberikan oleh seseorang?

Ini masalah hati….ketulusan….keridho-an… dan keikhlasan..

Maka rasa tidak hanya terukur dari lidah dan mata saja… tapi juga dari kedalaman sensitivitas hati seseorang. Jika perasaan adalah listrik maka (aku mengasosiasikan) ketulusan akan merambat melalui perantara (dalam hal ini adalah makanan) berikutnya akan mengalir dan ter-resonansi dengan hati si penerima.
Hm….
Karena…. Aku selalu percaya, keikhlasanketulusan… akan selalu terasa di dalam hati oleh si penerima tanpa perlu diungkapkan.

Itu…terjadi pada diriku juga…

Idul Adha lalu….
Usai sholat Eid, aku menempatkan diriku dalam kamar single di salah satu pojokan kampus. Suasana sepi… tidak terdengar riuh rendah tetangga blok yang biasanya mampir ke jendela kamarku. Nyaris setengah penghuni asrama pulang kampung. Merayakan Idul Adha bersama keluarga tercinta. Hanya beberapa pelajar yang masih tetap berada di asrama. Itupun karena kampung halaman mereka yang nun jauh di sana. Plus selang beberapa hari lagi akan ada ujian semester. Hingga tetap berada di asrama termasuk pilihan yang cerdas meski terlihat agak menyedihkan… he..he..
Siang itu, aku tengah duduk di depan komputer saat pintu kamarku diketuk seseorang…

“Hi, putri….Ini untuk kamu…”

Seraut wajah cantik menyodorkan satu buah piring yang di dalamnya ada roti, kue muffin dan kuaci. Aku tersenyum…

“Terima kasih…..Tidak perlu repot-repot….” Ucapku sambil menerima piringnya.
Dia tersenyum hangat….

“Gak pa-pa, kok…Inih..ambil-lah…”

Aku masuk ke kamar dan menyalin makanan tersebut ke dalam piringku. Lalu mengembalikan piring tersebut kepadanya.

“Hari ini kamu ulang tahun?” Tanya-ku lugu

Ia kembali tersenyum…..

“Bukan…. Hari ini khan, Idul Adha, Putri….!”

Ada yang bergetar dalam hatiku…..Subhanaallah…

“Oh, ya…. Terima kasih banyak, teman…! And Happy Eid …!” balasku tersenyum
Ia membalas senyumku dan kembali ke kamarnya meninggalkan diriku.

Di daerah-ku….di kawasan tempat aku tinggal bersama orang tuaku. Kebiasaan bertukar makanan adalah hal yang lumrah. Sudah menjadi kebiasaan….

Tapi di tempat aku tinggal sekarang…

Sebagian dari kami menjadi lebih individualis…. Bahkan aku terkadang lupa nama tetanggaku sendiri karena kami jarang bertemu. Saat aku pulang, aku hanya menemui pintu-pintu kamar berwarna coklat yang menunjukkan punggung mereka. Bertegur sapa seperlunya dengan tetangga saat kami tanpa sengaja bertatap muka.

Syukurlah…setidaknya aku masih tidak sendirian di asrama ini. Meski beberapa orang teman se-asal juga memilih pulang kampung saat hari raya tapi ada juga yang tetap tinggal di asrama. Berada bersama teman yang se-asal membuatku lebih tenang…. Apatah lagi ada tetangga yang meskipun berbeda asal denganku namun tetap ramah dan menjaga silaturahim. Subhanaallah…

Indahnya ketulusan….. lewat senyuman….lewat tindakan…lewat bantuan…. terlebih lagi melalui makanan…..:mrgreen:
It’s love…. And also Sincerity

"Sate Home-Made".. Bentuk cinta yang tiada mati-nya... ^_^


20 pemikiran pada “Cinta itu dari Food…. !!! That come from it !!

  1. kupikir “dari mata jatuh ke perut”. Hubungan laki-laki dan perempuan untuk jatuh cinta kan bisa lewat perut juga hehehe

    EM

    he.. he….
    Kalo edisi yang seperti ini.. ada kemungkinan… “Dari Perut jatuh ke Hati“, mbak… he.. he..😀

  2. katanya kueeee???? kok gambarnya sate??? wkakakaakaka…
    ya sudah besoka ku bawain kuaci ya mbak… wuakakakakak… *kuaci yang kulitnya tebel, asin poll tapi dalemnya tipis… wkakakaakak….

    he…he…
    Kuenya gak bisa disimpan ampe 6 bulan, prim…😛
    Yang ada cuma foto Sate Idul Adha… :))
    Kuaci ? beneran, ya… tak tunggu lho, prim.. he..he.. ^_^

  3. Semakin metropolitan suatu kota, memang kecenderungan menjadi individualis tinggi sekali. Saya juga merasakannya waktu baru pindah dari Biak ke Medan. Di Biak kita biasa saling bertukar makanan dan saling mengunjungi, tp di Medan semua milih-milih.

  4. Ini juga salah satu untuk mencairkan suasana Put. Ajak makan bareng, atau kirim makanan heheh .. logikanya makanan itu membuat darah dipaksa untuk bekerja keras mencerna makanan, sehingga bagian tbuh lain kurang darah. Otomatis emosi yng naik darah jadi turun heheh…

    • Mas teguh…
      Bukannya darah itu lebih mirip dengan alat transportasi buat oksigen, ya ? he..he…

      Yang paling penting itu, khan.. niat baiknya…
      masalah “enak ato gak enak” nya itu adalah bonus…
      Bener, gak?😀

      • iya, dan butuh alat transportasi yg banyak untuk mencerna makanan …

        tp saya paling seneng ditraktir coklat : ) *sapataumonraktir


        :))
        bagian yang terakhir itu lho, mas… gak nahan…
        Oke-lah… jadi kapan mo traktir makan coklat sama kue tart ?? … :))

  5. Kalau kita berkunjung ke daerah pedesaan, di sana nuansa kekeluargaannya sangat kental. Di daerah tempat saya tinggal hal seperti ini sudah bukan lagi barang aneh, karena dengan memberi berarti kita menabung kebaikan. Suatu saat kebaikan itu akan berbalas dengan kebaikan pula.


    menabung kebaikan sekaligus silaturahim… ^_^

  6. segala sesuatunya jika tulus itu emang indah ya put….🙂

    hwaaaa..sate plus bumbu kecap..heemm yummyy….


    Iya, mbak… tulus.. ikhlas.. selalu berbuah indah… ^_^

    he.. he… kelihatannya enak, ya, mbak… :ngiler[dot]com:

  7. salam kenal juga put🙂

    iya nih hiatusnya kelamaan, harus mulai nulis lagi, masa kalah sama bunda mahes

    Salam kenal kembali banker… ^_^
    ayo, banker…
    menulis… menulis… pacuan dengan bunda mahes.. he..he..😀

  8. Waktu tinggal di sebuah pulau sana sih Idul adhanya sepi😀

    *fotonya bikin laper*

    Pulau yang pantainya indah itu ya, Ru ?😀
    *mau ?
    kayaknya nunggu Idul Adha dulu, deh.. ato tinggal beli di tukang sate..he..he… ^_^

  9. Dan hal ini menjadi berlipat-lipat lebih dalam maknanya
    ketika kita semua sedang di negeri orang

    salam saya Put


    Bener, pak….^_^
    Pak NH mengerti sekali perasaan orang-orang perantauan ini.. T.T

  10. ketepu ama judul, kirain tadi drama satu babak tentang percintaan lewat makanan hahaha
    salah saya yang berimajinasi sendiri ya😀

    individualisme sepertinya sudah lumrah terjadi di kota, banyak penyebabnya, tapi minimal kita bisa menjaga silaturahim aja, jgn mpe saling sikut sesama tetangga🙂

    itu sate kambing? pass deh, g suka saya hehehe

    he..he…

    itu bukan sate kambing, mbak… tapi sate sapi…😀

  11. oalah, nama mbak “putri” juga yah? sama dong *toss* heheheh

    semua yg diberikan penuh keikhlasan pasti akan sampai ke hati *tsaaaaaaahh*


    *toss*
    yippieee, Put… ^_^

    betulll…. semua yang diberikan dengan hati ikhlas.. akan selalu indah… ^_^

  12. Sebagai orang yang jauh dari keluarga, dan gak bisa pulang waktu hari raya. Saya juga sering merasakan hal yang sama.
    Tetangga menjadi keluarga.


    bener, pak…
    tetangga menjadi saudara terdekat kita, ya, pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s