Aku dan kuliner

Melihat menu-menu unik yang tertulis di daftar menu makanan selalu menggugah rasa penasaran. Apalagi jika kita sama sekali tidak pernah mencicipinya. Enak vs tidak enak selalu berkaitan dengan cita rasa dan lidah seseorang. Karena itu nilai rasa sebuah makanan sangat subjectif. Perpaduan ekstrak jenis makanan akan berakhir pada penilaian individu seseorang. Mungkin karena itu aku lebih suka menilai makanan dengan cita rasaku sendiri.

Meski, sering kali untuk ‘kenyamanan kantong’, aku dan beberapa orang teman yang memang sudah sering makan bersama memesan menu yang berbeda dan saling cicip. Jika beruntung, semua makanan yang kami pesan masih bisa diterima lidah atau dengan kata lain “enak”🙂 . Dengan begitu, kami bisa memesan menu yang berbeda untuk kali kedatangan yang lain. Sehingga semua menu yang ada di daftar menu bisa terkecap di lidah kami. he.. he…

Aku pribadi lebih suka mempersiapkan kondisi perutku dalam keadaan aman sebelum mencicipi ‘makanan di luar kebiasaan’ (baca: kecuali nasi+laukpauk). Perut Indonesiaku selalu minta diisi nasi (sesedikit apapun itu) walau aku sudah makan berbagai macam roti he. he.. he.. Karena berhubungan dengan sesuatu yang baru erat kaitannya dengan ‘ujicoba’. Aku ingin mencoba jenis-jenis makanan yang baru tapi disatu sisi aku tidak ingin membahayakan perut dan seleraku. Setidaknya, jika makanan baru yang kucicip itu sangat tidak pas di lidahku, kondisi perutku tidak dalam keadaan terancam (baca: karena aku sudah dalam keadaan setengah kenyang he.. he..).

Jadi, sebelum mencoba jenis makanan baru…apa yang kawan-kawan biasa lakukan ?:mrgreen:

 

12 pemikiran pada “Aku dan kuliner

  1. saya mah ga harus ketemu nasi sih
    jadi klo pas wiskul ya ga masalah klo udah kenyang dengan jajanan
    yang penting perut kenyang,
    soal oleh nasi atau yang lain, no problemo😀

  2. To Be Honest to You …
    Saya bukan seorang Petualang Kuliner …

    (saya rasa Poet udah tau nih …)

    Kalau saya lagi Travelling … Semua Indera saya manjakan … kecuali satu … Lidah … !!! (ahahaha)

    Salam saya Poet

  3. wah aku tidak pernah persiapkan apa-apa untuk mencoba makanan baru. Paling cuma siapkan dompet yang berisi hihihi
    Aku memang petualang makanan, mau mencoba meskipun untuk satu kali, dan bukan pertu jawa yang harus nasi. Aku bisa makan ramen/spaghetti 1 minggu tanpa ketemu nasi. Tapi kalau roti seminggu sih ngga bisa. Waktu ke belanda, makan siang di rumah org belandanya cuma roti dan sup, padahal musim dingin. Masuk angin deh pulangnya hihihi

    EM

  4. Wah, sebelum mencoba menu baru ya…. ngapain yah… hmmm ya mempersiapkan batin aja deh.😆
    Saya rasa, saya mampu kalo semisal suatu hari nanti tak ada nasi. Maksudnya, jika saya hidup di tempat atau negara yang makanan utamanya bukan nasi, saya yakin saya bisa bertahan. Toh ada penggantinya, jagung atau kentang.😀 Kentang enak juga lho.:mrgreen:

  5. kalau perut sih ya jangan sampai full, terus tanya ke temen2 yg udah nyoba ‘makanan target’ dan minta rekomendasi dr yang lain😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s