Ketika Mata dan Senyum bertemu

“Long time no see….” ia menyipit kemudian tersenyum…ups salah, yang benar.. ia tersenyum sehingga kedua matanya menyipit😀

Ia melihat padaku. Aku membalas senyumannya dan menanyakan kabarnya. Ia kemudian berjalan menghampiriku sambil menjawab pertanyaan yang aku ajukan. Senang sekali bertemu pria muda itu. Barangkali karena senyumnya menunjukkan bahwa ia memang benar-benar kangen dengan suasana lab ??? *he.. he.. bener, gak, ya ?* ato setidaknya senyumnya terasa tulus..  :mrgreen:    

Aku pernah menulis tentang senyuman dan aku terkadang menilai ketulusan seseorang dari senyuman yang mereka lontarkan. Senyuman dari mata mereka… *cie.. cie… gayaku weiceh…😀. Pendapat orang banyak yang sering mengatakan bahwa mata adalah jendela hati seseorang seakan menjadi sebuah indikator pembenaran. Ketika kita merasa sedang ‘baik’, hati kita cenderung bisa merasakan mana yang benar-benar tulus dan perbuatan mana yang dibuat-buat. Kombinasi dari mata dan senyuman dapat menunjukan kedua hal itu.

Ketika aku melihat senyum seorang balita, aku melihat seluruh komponen di wajahnya bergerak. Mulai dari mata, bibir, pipinya. Semuanya tertarik ke atas. Terus terang… hatiku luruh melihat senyum bocah itu. Senyum yang muncul  di wajah setiap bayi dan anak kecil menggerakkan seluruh otot-otot wajah mereka. Kebahagiaan yang terpancar dari senyuman mereka bisa dirasakan dengan sangat hangat oleh ibu mereka, ayah, nenek-kakek.. bahkan tetangga yang mengintip kehidupan mereka dari balik jendela. Hal ini yang membuat ku cukup sependapat dengan ramuan mata dan senyum tersebut. Pria dan wanita adalah bayi dan anak kecil yang mendewasa dengan organ-organ biologis mereka namun ruh mereka, jiwa mereka adalah satu.  Sehingga tidak lah aneh, jika seorang mendewasa dengan jiwa yang sama seperti ketika mereka masih dalam buaian dahulunya.

 

 

.

source pic from here                                        

   Tersenyumlah dari hati…karena ketulusan dan kebahagiaan hati tak pernah bisa dibohongi dalam pancaran mata… 

7 pemikiran pada “Ketika Mata dan Senyum bertemu

  1. semoga aku bisa selalu tersenyum dari hati poet…
    akhir-akhir ini kok aku merasa senyumku hambar😦 (Semoga tidak deh….)
    Sepertinya aku kurang bertemu teman-temanku (ggrrhhh lagi pengen kopdar, ketemuan dsb )

    Kapan ya poet bisa menilai senyumku?😉

    EM

  2. Saya setuju dengan statement …
    Tersenyumlah dari Hati …

    Yang lain pasti akan mengikuti …
    Mata … otot wajah … bibir dan sebagainya

    salam saya Poet

  3. saya suka dengan aktifitas satu ini. ntah kenapa ya??
    merasa tenang dan tak ingat lagi dengan yang namanya hutang. hehehe (aku lagi senyum nih…)


    senyum itu aktifitas mudah namun terkadang rada berat, ya?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s