Teknologi yang menyuntikkan semangat….

Suprised…

Hari ini, saat baru saja membuka wordpress…. ternyata sudah ada perubahan baru. Rasanya baru beberapa bulan yang lalu WP melakukan perubahan dengan settingan dashboard. Kali ini mereka memberikan sentuhan yang *according to my opinion* lebih memudahakan bagi narablog-narablog yang ingin tetap rajin menulis tapi di satu sisi gak punya banyak waktu untuk ‘stel-stel-an’ postingan.. ^_^ . Salut dah buat mas Matt Mullenweg…. *kasih jempol banyak2.. he.. he..*

Kemudahan yang diberikan oleh teknologi menjadikan hidup lebih mudah. Meski terkadang di awal2 penerimaan akan teknologi baru tersebut akan rada merepotkan.
Misalnya…jika kita baru pertama kali naik lift. Bingung harus memencet tombol yang mana untuk membuka-menutup pintu lift dan menghentikan lift adalah sebuah perkara yang biasa. Saat kita berurusan dengan mesin ATM ato mesin Deposit. Berhubungan dengan memencet kartu antrian.Mesin pembuat kopi, kartu kereta dan banyak lagi.

Awalnya ribet… terlihat menyusahkan.. karena kita belum terlalu terbiasa dengan hal-hal yang memang belum pernah kita lakukan. Perlu eksplorasi keberanian untuk mencoba :mrgreen: . Namun, nantinya.. ketika kita sering menggunakan teknologi tersebut dalam keseharian kita, ia tidak lagi menjadi sulit. Justru, kita akan merasa terbantu, menghemat waktu dan memberikan semangat.

Seperti saia.. yang mulai bersemangat lagi untuk menulis di blog kesayangan ini.. ^_^

source pic is here

Iklan

Dompet kecil Pink

Siapapun sepakat bahwa kejujuran adalah salah satu nilai luhur yang aplikasinya rada menipis di tahun-tahun belakangan ini. Tapi, adalah tak bisa dinafikan bila ternyata nilai dan aplikasi dari nilai tersebut sebenarnya akan selalu ada biarpun mungkin tidak sesubur di masa-masa dulu.

Pengantar ini aku tulis, karena aku sangat berterima kasih terhadap sesiapa-pun yang telah meng-aplikasikan dengan baik nilai dari keluhuran yang bernama “jujur” ini. Sungguh…I’m really honour to be the one who accidentially become the object of this..

Ceritanya bermula ketika aku dan dua orang teman menikmati sore di sebuah bazaar wisuda-an di kampusku. Puas jalan-jalan sembari ngelihat barang dagangan yang terjaja rapi di setiap lapak-lapak, aku dan seorang teman mampir ke salah satu lapak penjual makanan. Sementara seorang teman lainnya sedang sibuk dengan urusan yang lain. Jadilah aku dan seorang teman sibuk menunggu pesanan makanan malam. Tiba-tiba, hp-ku berdering. Temanku yang lain meminta kami untuk bertemu di parkiran. Karena kami akan segera pulang sebab hari sudah menjelang magrib. Berikutnya, aku dan seorang teman tergopoh-gopoh menuju parkiran yang jaraknya lumayan jauh dari tempat membeli makanan. Dompet kecil pink yang seyogya-nya aku pegang dengan bergegas langsung aku masukkan ke dalam tas sambil berjalan cepat menuju mobil.

*ini hanya contoh warna-nya saja.. he. he.. 😀

source pic here

Keesokkan harinya, aku menghadiri sebuah acara yang pada kesempatan itu aku bertemu dengan seorang teman yang meminta sebuah catatan kecil. Catatan kecil yang sudah jauh-jauh hari aku siapkan itu tersimpan dalam dompet kecil pink yang sehari sebelumnya aku pakai ketika membayar makan malam ku di bazaar wisuda. Aku sibuk menjelajahi tas yang kukenakan. Tas yang sama seperti yang kubawa ketika pergi ke bazzar wisuda di hari sebelumnya. Aku menjadi panik karena dompet itu tidak kutemukan di dalam tas.

Ketika sampai di rumah, ku cek kamar, areal-areal yang mungkin saja di-jatuhi si dompet kecil pink tersebut. Aku bahkan bertanya pada teman sekamarku kalau-kalau dia melihat dompet kecil pinkku. Nihil. Aku mulai khawatir. Tegang. Bukan masalah uang yang ada di dalam dompet itu. Tapi karena kartu pelajar dan juga KTP-ku yang ada di dalam dompet itu. Aku sudah bisa membayangkan betapa sulitnya mengurus kartu-kartu itu nantinya. Aku terus berdoa… semoga dompet tersebut ditemukan… entah di dalam kamar.. entah kemudian tiba-tiba muncul di dalam tasku. Aku takut memikirkan tentang dompet yang tercecer di bazar wisuda. Jika dompet sudah tercecer di tempat keramaian…sesungguhnya, rasa pesimisku terasa lebih besar dari pada optimis akan dapat menemukan kembali kartu-kartu berhargaku 😦 .

Aku masih mencari dompet itu sampai tengah malam. Dan tertidur dengan rasa tidak nyaman.

Setengah sadar, aku mengangkat Hp yang berdering di samping tempat tidurku.

“Putri ?”

“Ya…” menebak-nebak si pemilik suara. Kenapa malam-malam begini ada yang iseng telpon, ya…

“Kamu ada merasa kehilangan sesuatu hari ini?” suara di seberang telpon masih belum bisa kutebak.

“iya.. saya kehilangan kartu pelajar dan KTP saya…. Ini dari mana, ya?”

“Ini dari tim keamanan kampus. Tadi malam kamu ke bazaar wisuda, ya? Ada seseorang yang menemukan dompet kamu di sana beserta kartu pelajar dan KTP kamu. Dan mengantarkannya pada kami.”

Demi mendengar kalimat terakhirnya.. rasanya sebuah kelegaan besar loss dari hati-ku. Luar biasa lega.

“Kamu bisa menjemput dompet ini di pos gerbang kampus.”tutup si pemilik suara

Dengan senyum kelegaan luar biasa, yang tentu saja tidak bisa terlihat oleh lawan bicaraku. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada si penelpon. Rasanya ingin aku membangunkan teman serumahku untuk segera menjemput dompetku itu. Tapi kutahan. Besok pagi,..akan kuambil kartu pelajarku di pos gerbang kampus. Alhamdulillah…Sungguh, aku merasa bersyukur sekali. Allah SWT masih memberikan rezeki-ku atas dompet tersebut.

Pagi-nya, ketika aku berada di pos keamanan kampus, pak security menunjukkan isi dompet ku. Semuanya lengkap, uang, KTP, kartu pelajar, catatan kecilku bahkan flask disk. Kulihat laporannya di log book. Tidak ada nama si penemu. Aku tidak tahu kepada siapa harus berterima kasih. Pak security menerima ucapan terima kasih dan senyum kelegaan yang luar biasa dari diriku. Alhamdulillah…

Sampai tulisan ini publish… aku belum menemukan orang yang berbaik hati mengembalikan dompet kecil pink-ku kepada tim security kampus.

Terima kasih banyak atas ketulusan dan kebaikan yang telah diberikan…

Semoga Allah SWT memberikan kebaikan yang lebih untuk anda….Aamiin..

I’m envy…

Awalnya aku tidak bisa mengkategorikan resapan perasaan yang diam-diam menyelinap dalam hatiku. Ketika bocah-bocah itu saling melayangkan tangan mereka, bergelut dengan mulut yang belepotan makanan. Acungan tangan yang satu naik ke atas di arahkan terpisah dari bocah yang lain, yang lebih kecil. Mereka sedang berkelahi. Sedang memperebutkan sesuatu. Mereka bersaudara, terikat dalam darah dan batin.

Ingatanku melayang ketika usiaku baru belasan tahun, masih sangat terobsesi dengan panjat memanjat dan semua jenis kartun. Sebuah remote kontrol selalu menjadi ‘korban’ pertarungan antara aku dan adik-adikku. Channel tv yang (waktu itu) hanya 3 biji itu saja menjadikan rumah kami yang tidak begitu besar itu ribut dengan suara teriakan-teriakan kami. Atau ketika mata kami saling menjeling untuk ‘memata-matai’  kue oleh-oleh yang biasa dibawa oleh ibuku dari bepergian. Atau ketika kami saling bergelut karena ada salah satu dari kami ‘berusaha bermain dengan lebih cerdik’ dari yang lain :mrgreen: . Ketika yang kalah kemudian berlari meringkuk dalam dekapan ibu sementara yang menang tetap saja merasa kalah karena tidak bisa dipeluk ibu..  😀 .

Ah… masa kanak-kanak…

Rindu dengan masa-masa kanak dulu… Aku (benar) merasa sudah besar sekarang …[Ketika kanak-kanakku telah menjelma menjadi kenangan]    

*Yang jelas.. saat tulisan  ini dibuat… aku benar-benar rindu adik-adikku….Miss you a lots, bro, sist… 

 

 

 

Kejutan di Hari minggu

Agak terburu-buru aku membuka pintu kamar…

Masih setengah belepotan karena sebelumnya aku baru saja nyantai-nyantai sambil nonton CONAN…  😀

“Sebentar…..” sahutku dari balik pintu kamar. Tak ada jawaban dari luar kamar. Hari minggu seperti ini biasanya aku jarang terima tamu…he..he.. padahal hari-hari biasanya juga jarang, sih..  :mrgreen: . Sambil mikir-mikir, siapa sebenarnya yang berkunjung aku pun segera membuka pintu.

Seorang pria muda, putih, cakep…dengan tersenyum-senyum menatapku. Tangannya memegang boneka. Terus terang.. ini kunjungan yang agak diluar kebiasaan. Tapi, demi melihat senyumnya yang aduhai, reflek aku pun ikut tersenyum…

“Aiiii.. Aa.. apa kabar..?” *Segera beraction, sok ngerapi-rapiin pakaian..  😀

*source pic from here

“Hayuk atuh… dikasih bonekanya… jangan dipegang saja..” Teh ranny meminta pria muda itu menyerahkan boneka yang sedari tadi dipegangnya. Aa masih tersenyum sambil malu-malu ia menyerahkan boneka itu kepadaku.

Hatiku berbunga-bunga… baru kali ini ada pria berdiri di depan pintu kamarku sambil menyerahkan boneka padaku. * Jyaaaaaaaaaaaah… berasa terbang dah…  😀 *

Pun dengan malu-malu aku terima boneka itu…

“Terima kasih, Aa...teh, ayuk masuk dulu…?”

“Gak papa, put… kita lagi buru-buru…Terima kasih banyak, ya…. ” ujar si teteh

“yah, teh.. harusnya mah put yang terima kasih sudah dikasih boneka segala…”. Aku dan teh rany tersenyum.. Pandangan mataku dan Aa bertemu…kemudian saling melempar tersenyum.

“Aiaiai.. gak papa lagi.. santai aja….Ayuk, Aa.. kita pulang.. Pamitan ama tante Putri, ya !” ajak Teh ranny… memanggil pria muda tampan yang berdiri di sampingnya..

“Dadadada.. tante Putri… Salamualaikum…” pria muda yang amat muda itu melambaikan tangannya tanda berpisah dan mengucapkan salam dengan lidah yang agak cadel…

Mereka kemudian beranjak pulang…..

#Yah.. pria muda itu adalah anak laki-laki teh ranny yang baru berumur 5 tahun.. he.. he…

*postingan gak penting ! 😀

Setiap kenangan yang tercatatkan dalam bentuk tulisan adalah sebuah kenangan indah yang terawetkan…

Ketika Mata dan Senyum bertemu

“Long time no see….” ia menyipit kemudian tersenyum…ups salah, yang benar.. ia tersenyum sehingga kedua matanya menyipit 😀

Ia melihat padaku. Aku membalas senyumannya dan menanyakan kabarnya. Ia kemudian berjalan menghampiriku sambil menjawab pertanyaan yang aku ajukan. Senang sekali bertemu pria muda itu. Barangkali karena senyumnya menunjukkan bahwa ia memang benar-benar kangen dengan suasana lab ??? *he.. he.. bener, gak, ya ?* ato setidaknya senyumnya terasa tulus..  :mrgreen:    

Aku pernah menulis tentang senyuman dan aku terkadang menilai ketulusan seseorang dari senyuman yang mereka lontarkan. Senyuman dari mata mereka… *cie.. cie… gayaku weiceh… :D. Pendapat orang banyak yang sering mengatakan bahwa mata adalah jendela hati seseorang seakan menjadi sebuah indikator pembenaran. Ketika kita merasa sedang ‘baik’, hati kita cenderung bisa merasakan mana yang benar-benar tulus dan perbuatan mana yang dibuat-buat. Kombinasi dari mata dan senyuman dapat menunjukan kedua hal itu.

Ketika aku melihat senyum seorang balita, aku melihat seluruh komponen di wajahnya bergerak. Mulai dari mata, bibir, pipinya. Semuanya tertarik ke atas. Terus terang… hatiku luruh melihat senyum bocah itu. Senyum yang muncul  di wajah setiap bayi dan anak kecil menggerakkan seluruh otot-otot wajah mereka. Kebahagiaan yang terpancar dari senyuman mereka bisa dirasakan dengan sangat hangat oleh ibu mereka, ayah, nenek-kakek.. bahkan tetangga yang mengintip kehidupan mereka dari balik jendela. Hal ini yang membuat ku cukup sependapat dengan ramuan mata dan senyum tersebut. Pria dan wanita adalah bayi dan anak kecil yang mendewasa dengan organ-organ biologis mereka namun ruh mereka, jiwa mereka adalah satu.  Sehingga tidak lah aneh, jika seorang mendewasa dengan jiwa yang sama seperti ketika mereka masih dalam buaian dahulunya.

 

 

.

source pic from here                                        

   Tersenyumlah dari hati…karena ketulusan dan kebahagiaan hati tak pernah bisa dibohongi dalam pancaran mata… 

Aku dan kuliner

Melihat menu-menu unik yang tertulis di daftar menu makanan selalu menggugah rasa penasaran. Apalagi jika kita sama sekali tidak pernah mencicipinya. Enak vs tidak enak selalu berkaitan dengan cita rasa dan lidah seseorang. Karena itu nilai rasa sebuah makanan sangat subjectif. Perpaduan ekstrak jenis makanan akan berakhir pada penilaian individu seseorang. Mungkin karena itu aku lebih suka menilai makanan dengan cita rasaku sendiri.

Meski, sering kali untuk ‘kenyamanan kantong’, aku dan beberapa orang teman yang memang sudah sering makan bersama memesan menu yang berbeda dan saling cicip. Jika beruntung, semua makanan yang kami pesan masih bisa diterima lidah atau dengan kata lain “enak” 🙂 . Dengan begitu, kami bisa memesan menu yang berbeda untuk kali kedatangan yang lain. Sehingga semua menu yang ada di daftar menu bisa terkecap di lidah kami. he.. he…

Aku pribadi lebih suka mempersiapkan kondisi perutku dalam keadaan aman sebelum mencicipi ‘makanan di luar kebiasaan’ (baca: kecuali nasi+laukpauk). Perut Indonesiaku selalu minta diisi nasi (sesedikit apapun itu) walau aku sudah makan berbagai macam roti he. he.. he.. Karena berhubungan dengan sesuatu yang baru erat kaitannya dengan ‘ujicoba’. Aku ingin mencoba jenis-jenis makanan yang baru tapi disatu sisi aku tidak ingin membahayakan perut dan seleraku. Setidaknya, jika makanan baru yang kucicip itu sangat tidak pas di lidahku, kondisi perutku tidak dalam keadaan terancam (baca: karena aku sudah dalam keadaan setengah kenyang he.. he..).

Jadi, sebelum mencoba jenis makanan baru…apa yang kawan-kawan biasa lakukan ? :mrgreen:

 

Bersabar… dan dengarlah

Barangkali ada baiknya diam sejenak untuk mendengar kemudian baru bergerak untuk mengambil keputusan…

hufh… seharusnya aku seperti itu… walaupun untuk beberapa detik…demi mendengar suara operator provider kartu SIM ku berceloteh… 😦

Ceritanya dimulai setelah aku  terbangun di pagi hari. Dengan setengah malas aku mengetik sms, meminta tumpangan pada seorang teman labku. Sms gagal. Kucoba berulang kali… tapi masih gagal. Aneh! padahal semalam aku masih bisa sms.

‘Hm… barangkali ada masalah jaringan, kalo begitu beberapa waktu lagi sajalah aku sms’, pikirku menghibur diri. 10 menit dari jam biasa keberangkatanku, aku meng-sms teman sekali lagi. Masih gagal. Kemudian aku ganti haluan. Kali ini, aku mencoba menelponnya. Pulsaku masih cukuplah untuk sekedar MC. Tapi baru 1 detik koneksi mengudara yang terdengar malah suara operator. Segera kututup telpon.  Aku sangsi. Jangan-jangan HP temanku itu mati. Aku beralih ke seorang teman lainnya yang juga serumah dengan temanku ini. Satu kali… dua kali… tiga kali…. sms-ku gagal.

OK….! Ku cek pulsaku. Tak berkurang se-sen pun.

Ku telponlah temanku ini…. Bukan nada dering sambungan yang terdengar tapi denting operator provider.  Langsung ku tekan off.. maklum pulsa nge-pas2 ini bakal tersedot banyak dan aku tidak bisa meng-sms lagi. Kecurigaanku adalah… kedua hape temanku ini tidak aktif. Aku kemudian pasrah tidak dapat tebengan hari ini. Meski, harus kuakui rasa penasaran dan ketidakpuasanku menggantung-gantung. Kenapa bisa samaan gitu, ya.. tidak aktifnya ? Aku masih berpikir.

Sebuah ide tiba-tiba meluncur.  Kali ini aku benar-benar menelpon mereka. Tahu tidak apa kata si operator? Begini katanya…

“This is your H**L**** service.. please top up to make more calls”.

source pic from here

Aku terdiam sejenak…. lalu perlahan nyengir garing….Ampun dah.. ternyata bukan hape kedua temanku itu yang tidak aktif… Tapi nomorku yang sudah tidak aktif masa berlakunya. Untuk memperpanjang masa aktif, aku harus mengisi pulsa terlebih dahulu. :mrgreen:

Ckkk… ckkk… walaupun hanya perkara telpon dan pulsa, aku bisa melihat sisi positif kejadian ini. Jika aku lebih bersabar sedikit mendengar celotehan operator mungkin aku sudah bisa mengetahui permasalahan sebenarnya dari “kegagalan pengiriman sms” yang sebelumnya. Sebenarnya, sih…maksud pengecekan telpon dengan mendengar nada dering adalah untuk MC dan mendengar lebih lama nada dering operator bisa akibat ‘penyusutan’ pulsa. he.. he..

Memory Of gas Tank

Aku ingat ketika di awal tahun ini aku tersenyum ketika kiriman bahan kimiaku sampai dengan selamat di lab. Begitu juga tatkala aku menerima kabar bahwa gas tank (berikut gas-nya he.. he.. 😀 ) sudah bisa kuambil di pusat penyimpanan bahan di kampus, hatiku dilingkupi kelegaan… Lega karena aku akan memulai petualangan baru dengan lab namun juga khawatir alias deg-deg’an. Laboratorium dan segala pernak-perniknya sudah lama kutinggalkan. Aku ragu untuk memasuki petualangan baru karena minus pengalaman dengan test tube, reaktor-reaktor besi, lemari asam, conical flask dan juga dunia per-gas-an.

Perasaan was-was yang bercampur lega…

Kemudian petualangan ini diawali dengan menggotong gas tank dari pusat penyimpanan bahan yang berjarak kira-kira 50 meters… Sebenarnya jarak antara labku dengan kantor pusat penyimpanan bahan tidak begitu jauh. Yang membuatnya menjadi agak ‘perlu energi’ untuk berjalan adalah karena rute yang harus dilalui berupa perbukitan, naik-turun . Penggotongan atau lebih tepatnya penggerekan gas tank itu harus melalui penanjakan curam. Aku menggunakan alat bantu beroda yang biasa digunakan untuk membawa gas tank.

Sebelumnya aku menggunakan kereta dorongan gas yang ramping. Sesampainya di kantor pusat bahan tersebut, ketika temanku (Syukurlah aku datang ke sana bersama seorang teman, Alhamdulillah…) mencoba memasukkan gas tank ke dalam kereta kami, pegawai-pegawai di sana langsung memberi saran agar kami menggunakan kereta dorongan gas yang lebih besar dan dilengkapi dengan 4 roda (kereta kepunyaan kami hanya dilengkapi 2 roda). Sepertinya terlihat sekali kepayahan memancar dari rona wajah kami. hufh….

Kami pun kemudian mengganti kereta dorongan beroda 4. Sukses memasukkan gas tank ke dalam kereta adalah sebuah langkah permulaan untuk kemudian meneruskan perjuangan. Kami harus membawa kereta  dorongan gas itu mendaki tanjakan tinggi di jalanan menuju labku. Di tengah pendakian (yang hanya sedikit itu) aku berhenti sejenak mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Temanku melihat kondisiku yang agak mengenaskan. Kelelahan sudah memandikan diriku dengan keringat. Aku nyaris berhenti…Karena merasa tak kuat menggerek gas tank yang beratnya berkali lipat dari badanku sendiri…

“Ayuk… sebentar lagi kita sampai…” ucapnya pelan. Ia sendiri juga kelelahan… Ia yang kebagian tugas menarik kereta dari depan dan aku yang mendorong dari belakang. Aku menengadah sebentar.. dan melihat jalanan yang lengang dan yah… lab ku (setidaknya atapnya sudah kelihatan) dan sebentar lagi jalanan akan menurun dan berikutnya malah akan berupa jalan datar. Aku menguatkan hatiku. Meski harus kuakui energi dari sarapan pagiku rasanya sudah lenyap :mrgreen: .

Sedikit lagi…

Kami bergerak…meninggalkan jalanan yang mendaki dan memasuki jalan yang menurun berikutnya jalan yang mendatar membuat kami bisa tersenyum sambil berguyon tentang betapa beratnya pendakian yang sebelumnya.

Hari ini aku menulis kembali tentang kisah gas tank ini untuk mengingatkanku bahwa berhenti di tengah jalan berarti aku menyia-nyiakan rasa letih yang telah menyertai perjalananku. Sekaligus memompa semangatku bahwa dibalik curaman kesulitan akan ada banyak kemudahan. Hal itu akan terasa ketika kita melapangkan hati kita dan terus (berusaha) berjalan dengan keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla takkan pernah membiarkan kita sendiri…

*Gas tank yang ku gerek itu hanya setinggi + 150 cm dengan  volume isi 10.7 m3, kalo dimaksudkan dalam bahasa sehari-hari = berat 😀

source pic from here

Tropical Storm Aere…..

source pic dari sini

Dua buah tangan tergapai-gapai ke atas, berebut hendak mengatur AC bus yang kami tumpangi. Beberapa orang juga mengambil posisi di pojokan dekat jendela yang merupakan garis lurus dari AC bus yang terpasang di bagian atas langit-langit bus (bener apa enggak, ya ? he.. he.. saia gak tahu istilahnya…itu lho yang bagian atas mobil). Nah, saia sendiri juga gak mau ketinggalan… Angin dingin dari AC itu cess-plang langsung ke badan… sejuuuuuuuuuuukkkk.. dibandingkan dengan cuaca luar yang panas…padahal sudah sore 😦 .

Beberapa hari terakhir cuaca di tempat saia memang aneh. Lebih panas dari biasanya (walaupun biasanya juga sudah panas.. he. he..). Waktu itu saia bela-bela-in lihat di google. Tapi di situ tertulis suhu sekitar 28 derajat walaupun kelembaban dan kondisi angin sangat rendah. Agak-agak tidak percaya dengan suhu-nya. Secara sebelum kondisi yang sekarang ini suhu sehari-hari saja sudah mencapai 30 lebih… Apalagi ketika seorang senior mengatakan bahwa suhu di tempat aku tinggal sekarang ini mencapai 40 derajat….(yang mana yang bener, nih ? )

Kemarin, aku menghadiri acara taklim yang kebanyakan pesertanya adalah para ibu-ibu. Mereka pun mengeluhkan tentang udara yang ‘panas’ luar biasa. Salah seorang ibu-ibu di sana mengatakan bahwa alat ukur suhu di mobilnya (aku lupa apa namanya…padahal si ibu sudah nyebut2 nama alat tersebut :D) mencatat bahwa suhu di luar adalah 41 derajat… Wewwwwwwww… panas nya… !! Terus dikonformasi oleh ibu-ibu yang lainnya…bahwa alat ukur yang mereka punya juga menunjukkan kisaran angka yang sama… Walah ndalah….

Jadilah, kali ini memanfaatkan jasa mbah google untuk melihat penyebab cuaca panas beberapa hari belakangan.. menurut sumber yang di sini, dikatakan bahwa gelombang panas yang meliputi Malaysia, Indonesia saat ini adalah efek dari Tropical Storm Aere yang melanda Filipina. Efek gelombang panas dan udara keringnya ikut meningkatkan suhu di sekitaran lautan pasifik.

Berhadapan dengan cuaca yang panas bisa menyebabkan dehidrasi. Jika sudah mulai merasakan sakit kepala, mual, lesu, kram, pusing, konsentrasi berkurang…berarti sudah tanda-tanda dehidrasi.. Segeralah memperbanyak minum termasuk di dalamnya minuman isotonik tetapi jangan minum yang berkafein ataupun alkohol. Kalau tidak terlalu penting ada baiknya tidak keluar rumah. Pun menggunakan payung dan selalu membawa air minum ketika bepergian adalah pilihan yang bijak..  😀

source pic dari sini

Berikutnya….saia lebih memilih ngaso di tempat-tempat yang AC-nya menyala ataupun kipas anginnya kencang sambil berkali-kali meneguk air putih…Semoga gelombang panas ini bisa segera berakhir… Aamiin

Isi Jeda dengan India Movies

Tunggu-tunggu…..

Ini bukan kisah Briptu Norman yang sekarang lagi booming dibicarakan seantero Indonesia…yang aksinya berjejer-jejer di stasiun TV nasional… Bukan….!

Agak mirip sedikit, sih… lha wong namanya juga ada India-Indianya.. he..he…

Ceritanya bermula dari dulu ketika saia secara tidak sengaja nonton Taare Zameen Par di TV. Karena dimulai dari yang namanya ‘kebetulan‘… jadi maksudnya saia hanya menonton dari pertengahan film. Pertengahan film ini langsung membawa saia ke inti persoalan cerita sekaligus solusinya.

Ini kisah yang unik, karena harus saia akui tidak semua film India mengangkat genre yang berbeda dari yang sebelumnya. Tema dasarnya adalah pendidikan….dengan keywords disleksia, dan Aamir Khan. 

source from here

Anak laki-laki yang gemar menggoreskan kuasnya itu selalu mendapat nilai rendah untuk membaca dan juga berhitung. Ketidaktahuan orang tua tentang ketidakmampuan si anak sehingga lebih sering menyalahkan dan men-cap anak bodoh. Padahal, si anaknya justru dalam posisi sangat membutuhkan bantuan khusus karena mempunyai kesulitan berkaitan dengan huruf dan angka. Bahkan hal ini diperparah dengan tekanan dari pihak sekolah karena sang guru juga tidak mengetahui tentang ‘disleksia‘ ini. Sampai muncullah sosok Nikumbh yang ternyata dahulunya juga adalah penderita disleksia. Ia-lah yang kemudian memberikan pemahaman kepada orang tua Ishaan (bocah yang mengalami kesulitan membaca ini) serta memberikan nuansa berbeda dalam sekolah… *spoiler ?? ini film lama, sih… mudah2an malah memberikan motivasi untuk melihat film ini dari sisi yang berbeda.. ^_^

Terus terang, saia bukanlah penggemar Aamir Khan, AmitaBachan juga Shahrukh Khan (walaupun salah satu filmnya pernah saia singgung di sini). Meski, sering kali film-film mereka bertaburan di layar televisi dan saia mau tidak mau (dan terkadang juga ikut menikmati aksi-aksi mereka he.. he..) meletakkan fokus saia pada monitor bergambar tersebut *cari alesan... :mrgreen:

Jika saia boleh menyimpulkan…dengan berbagai referensi film India yang pernah saia tonton… Shahrukh Khan dan AmitaBachan lebih sering berakting pada film-film yang mengangkat tema keluarga sebagai basis cerita. Nah, sedangkan untuk Aamir Khan akhir-akhir ini lebih concern pada dunia pendidikan. Padahal sebelumnya, om Aamir Khan ini ber-akting di film-film tipikal India banget, full cinta, musik, tarian plus aksi tendang-menendang..he.. he..Setelah kemudian sekian lama saia nyaris tidak pernah melihat aksi Aamir Khan ini karena layar kaca terlampau sering menayangkan sinetron dan juga drama-drama Korea-Jepang tiba-tiba si om ini muncul dalam Taare Zameen Par. Film yang (saia pikir) sangat bukan AamirKhan…*soktahubangetyahsaia..he..he..*. 

**saia juga seneng dengan soundtrack-nya… he..he..


Berikutnya, malah muncul 3Idiot, lagi-lagi dengan tema utama yang sama…pendidikan ato boleh saia kategorikan tentang “kritisi dunia pendidikan kampus”.  Anak-anak teknik elektro dengan sistem ngOSPEKnya yang aneh, persahabatan antar mahasiswa, kerasnya dosen-dosen teknik, dekan yang di awal cerita sangat otoriter dan sangat sok bossy lagi menyebalkan, jargon-jargon tentang ‘harus menempati tempat pertama’, Tapi, yang menarik adalah filosofi Rancho… “Aal Iz Well…, Do what you love, and success will follow “.. >>>“I likes it so much…”

source pic from here

Boleh tidak jika saia mengatakan saat ini Aamir Khan me-metamorfosis idealisme dirinya.. ehm bukan hanya dirinya tapi juga India dan kita semua… ?