Meet ‘IDOL’

Reaksi tiap orang ketika bertemu artis pujaan, orang terkenal, seleb atawa orang penting berbeda-beda. Apalagi, jika seseorang tersebut tinggal di kawasan ‘wara-wiri’nya artis. Semisalnya, masyarakat ibukota atau kota-kota besar di jawa. Mereka mungkin lebih ‘aware’ dan bisa bersikap santai meski berhadapan dengan artis sekaliber ‘Krisdayanti’, Ariel ‘Noah’ dan sebagainya. Lain halnya, (mungkin) dengan orang-orang yang berasal dari daerah seperti saia… he.. he.. Sekali ada kesempatan langsung tancap gas, he.. he.. ^_^

Yah, ini cerita mengenai saia yang mengenali seseorang yang di duga artis. Kejadiannya sendiri sudah dua tahun lalu. Mumpung masih inget detailnya, jadi saia berpikir untuk menuliskannya di sini.

Kala itu, saia berada di negeri seberang dan dalam perjalanan pulang ke Pekanbaru melalui  negeri jiran. Perjalanan dari kota tempat kampus saia berada menuju ke ibukota negeri jiran memakan waktu empat jam yang membuat saia *tanpa sadar* penasaran. Kenapa ?

Saia duduk sendirian di bangku single bus ber-AC yang berukuran cukup besar. Seingat saia saat itu penumpang tidak begitu banyak. Berhubung mengantuk maka saia mengatur sandaran kursi dudukan saia agak beberapa derajat ke belakang. Lalu tiba-tiba terdengar suara *yang kedengaran* seperti mengaduh. Reflek saia melihat ke belakang untuk meminta maaf. Kami saling pandang dan saia meminta maaf. Ia tersenyum saja. Saat saia melihat si penghuni kursi belakang saia, tiba-tiba jantung ini berdetak cepat.

Lah, wajah nya kok familiar, ya ? Haduh… siapa, ya ?

Saia benar-benar merasa pernah melihat si pemilik wajah itu sebelumnya. Ingin sekali membalik badan dan melihat jelas-jelas si penghuni kursi belakang itu. Tapi, khan malu, ya ? he.. he.. isi kepala saia sibuk mengingat kembali siapa sebenarnya pemilik wajah itu. Berulang-ulang. Buntu.
Ingatan saia samar-samar. Sampai saia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang untuk ‘mencoba’ berbicara dengan si penghuni kursi belakang. Dengan tertatih-tatih, saya mencoba berkomunikasi dengan si penghuni kursi belakang itu.

“Eh… ya ?” Matanya menyiratkan kebingungan. Bingung dengan bahasa yang saya pergunakan *sepertinya*. Lalu dia tersenyum sambil menggerakkan tangannya menyiratkan bahwa *translate-an versi saia*, ‘iya.. gak papa, saia gak kena kursi kamu, kok’.. Saia tanya lagi..

‘Are u okay?’

Dia cuma mengangguk-angguk dan sekali lagi menggerakkan tangannya. Persepsi saia kali ini adalah,’saia gak ngerti kamu ngomong apa,’. Akhirnya saia menyerah. Menyerah untuk mencoba berkomunikasi dengan si penghuni kursi belakang itu. Padahal khan lumayan ya.. cari teman ngobrol.. he.. he..

Kemudian saia memutuskan untuk tidak terlalu memperdulikannya. Saia memilih tidur meski tetap saja saia bertanya-tanya. ‘Dimana sebenarnya saia pernah melihat si pemilik wajah itu. Kok, ya, mirip artis, ya ? Tapi siapa namanya ?’

Sampai kemudian bus sudah berada di terminal. Saia turun dari bus dan menuju ke stasiun kereta. Sekali lagi saia bertemu dengan si penghuni kursi belakang itu. Kami saling pandang lagi. Kali ini saia perhatikan baik-baik dengan rasa penasaran yang ditekan-tekan. Dia melemparkan senyum ke saia *mungkin heran kali, ya.. kenapa saia ngelihatin dia mulu he.. he..*. Saia pun membalas senyumnya. Sambil membatin, seharusnya saia nekad kenalan tadi.. he.. he..

Barulah di kemudian hari saia menyadari, wajah familiar siapa yang saia kenali pada si penghuni kursi belakang itu. Si penghuni itu berwajah mirip seperti idol yang satu ini…he.. he…  :mrgreen:

Jung Yong Hwa (Leader of CNBlue)

The Charisma of Sport Group

Apa bedanya antara olahraga keroyokan alias beramai-ramai atau kelompok dengan perseorangan ?

Selain dari segi jumlah, tentu saja aturan main, kesolidan pribadi dalam satu kelompok akan menjadi permasalahan sendiri. Tetapi saia tidak membahas tentang kelebihan dari olahraga beregu atau perseorangan.

Kita melihat bagaimana pesona sepak bola menjadi magnet yang luar biasa untuk menarik ribuan orang mengisi stadion yang luar biasa besarnya. Mengisi kursi-kursi kosong di tribun yang bahkan tanpa atap. Seperti juga bagaimana baseball, kriket, football (ala Amerika), basket mampu melimpahruahkan jalanan dengan fans mereka. Menjubeli tiap sudut gelanggang dengan remaja tanggung, anak-anak dan tentu saja orang dewasa yang dengan semangat menggebu mereka duduk di setiap tribun sambil minum cola, kerupuk, snack ringan, aksesoris klub dan keriuhrendahan mereka. Luar biasa, menarik dan unik.

Gambar

Sumber gambar dari sini

Unik, karena….sepengetahuan saia, baru sepak bola, basket dan beberapa olahraga beregu lain yang ‘menang-kalah’nya mampu mengubah keceriaan fans nya menjadi kekerasan. Pengrusakan, hancurnya benda-benda di sepanjang stadion, keributan, perkelahian antar fans sehingga muncul hooligans (di Inggris), bonek (di Indonesia). Satu hal lagi, kerusakan ini bukan hanya ‘mungkin’ terjadi ketika klub pujaan mereka kalah bahkan tatkala klub mereka menangpun keributan bisa muncul.

Menurut pandangan saia, olahraga beregu berhasil memberikan aura ‘kejamakan’ mereka kepada penonton sehingga penonton merasa bagian dari kemenangan atau kekalahan klub tersebut.

Saia memang belum pernah berada di tribun penonton. Beramai-ramai dengan fans atau suporter lain meneriakkan yel-yel atau menyanyikan lagu semangat untuk tim yang didukung. Tapi, adalah luar biasa,  (bagi saya), melihat keramaian yang tidak saling kenal itu bisa saling berpadu padan untuk kemudian berdiri bersama, bertepuk tangan mendukung klub yang sama.

Kesamaan, kekompakkan menjadi sebuah benang merah pemersatu. Dan saia merasa, olahraga beregu ini.. somehow punya karisma tersendiri…. ^_^

First Lecturing

Sebenarnya rada malu menuliskan ini…karena, pengalaman pertama berada di depan kelas yang penuh dengan murid dan wajah tegang si pengajar, ‘which is Aye’, agak berasa makan strawberi he.. he..

Adalah sebuah kesempatan baru buat saya untuk berdiri di depan kelas dan berlaku sebagai pengajar. Aktifitas yang sama dulu pernah saya lakukan ketika KKN (kuliah kerja nyata) semasa kuliah (berarti bukan pengalaman baru, dong, ya.. :D ). Perbedaan mencolok antara kedua aktifitas ini adalah umur dari murid yang diajar.

Dulu, saat KKN, saya mengajar murid SD yang sebelumnya memang sudah saya kenal. Saya tinggal di lingkungan mereka, bermain bersama mereka dan bahkan mengajari mereka secara privat.

Tapi, sekarang…. murid-murid yang saya hadapi adalah hampir dua kali usia murid-murid saya ketika KKN dulu. Yang, tentu saja secara pemikiran jauh lebih berkembang, lebih tinggi, tapi uniknya lebih pemalu.. (karena kalo ditanya atau diminta maju ke depan pada pake tunggu komando dulu he.. he..).

Saya-nya?

Sudah siap secara materi, siap dengan slide-slide yang akan saya tampilkan. Fisik

Fisik?… oke, pake baju yang nyaman… dan saya sudah disiap. Rasanya sudah Full Gas.

Mental ? Menurut saya, sih, sudah ok. Toh, yang dihadapi adalah ‘adik-adik’ sendiri, jadi insyaallah gak masalah…

Ternyata…..

Hari pertama

Saya berhasil masuk kelas dengan selamat. Lancar sampai membuka slide dan memperkenalkan diri. Berikutnya, saat saya melihat wajah-wajah mereka yang memandang dengan penuh fokus tiba-tiba saya merasa grogi. Kecepatan saya berbicara bertambah dan ujung-ujungnya kelas selesai  30 menit lebih cepat.

Hari Kedua

Saya pikir, lewat sudah hari pertama maka hari kedua tentunya tidak ada masalah… insyaallah. Saya merasa lebih siap karena persiapan yang saya lakukan dua kali lebih banyak.

Tetapi, saya membuat sebuah kesalahan di slide saat mengajar yang membuyarkan konsentrasi yang sudah ‘jauh-jauh waktu’ saya persiapkan. Alhasil saya malah murmuring di depan kelas dengan keringat dingin yang menetes-netes (untung juga saat itu AC kelasnya mati he.. he..).

Gak tahu, deh, seperti apa opini murid-murid saya waktu itu. Saya pikir saya mesti banyak belajar, banyak observasi dan harus lebih tenang lagi.

Mudah-mudahan… insyaallah.. ^_^

Nervous ~ Berlari

Dulu aku pernah membaca sebuah novel remaja yang pesan moralnya kurang lebih, ‘Perlu keberanian untuk menundukan ketakutan diri sendiri.’ Dalam novel itu, dianalogikan tentang seekor kuda yang sebenarnya merupakan kuda tunggang kokoh namun sulit untuk dijinakkan. Si tokoh utama kemudian menyadari bahwa si kuda memerlukan ‘perlakuan khusus’ sebelum kuda tersebut diikutkan dalam peragaan kuda. Peragaan kuda di sini adalah bagaimana joki bisa menunggangi kuda sambil melompati rintangan dan memberikan berbagai berbagai perintah kepada kuda tersebut. ‘Perlakuan khusus’ yang tanpa sengaja ditemukan si tokoh utama adalah si kuda harus terlebih dahulu dipacu berlari sekencang yang si kuda inginkan untuk menghilangkan ke-nervous-an si kuda menjelang tampil ataupun berkuda bersama jokinya.

Yah, kurang lebih semacam penyaluran energy nervous yang berlebihan sehingga bisa lebih tenang. Beberapa orang mungkin cukup hanya memejamkan mata, memikirkan hal-hal positif, berzikir untuk menenangkan pikiran yang terkadang di saat kritis justru melanglang buana entah kemana-mana. Selebihnya mungkin memerlukan ‘pacuan kencang’ seperti si kuda..he.. he..

Dalam beberapa drama, terkadang ada yang melampiaskan energy  nervous ‘berlebih’ itu dengan olahraga. Main squash, sepertinya juga bisa menyalurkan energy tersebut. Saia pikir, karena itulah aktifitas hidup kita perlu dihiasi dengan yang namanya aktifitas fisik. Karena dengan bergerak kita bisa mengeluarkan emosi kita dengan lebih baik (he.. he… sok tahu banget, yah, saia ?). Sebenarnya ini pengalaman pribadi, sih. Ketika saia dengan seimbang (baca: menyempatkan diri) untuk memukul-mukul cock atau berlari, saia merasa lebih segar tidak hanya fisik tapi juga kejiwaan. Apalagi setelah akhir2 ini saia menyadari bahwa sifat nervous berlebihan (biasanya muncul kalau saia terlalu excited :D ) yang kadang muncul bisa saia reda dengan berlari di tempat..he.. he…

Bagaimana dengan anda ? Apa perlu ‘perlakuan diri secara khusus’ dulu atau memang termasuk dalam orang-orang yang bisa mengendalikan diri dengan baik.. ?

Mari sempatkan olahraga biarpun itu hanya berupa jalan kaki….. ^_^

Titik itu adalah HPLC

source : here<

Aku ingat. Menjelang pertengahan tahun lalu, aku masih duduk di depan komputer yang terhubung ke alat analisis yang kugunakan untuk riset. Bolak-balik dari lab ke tempat analisis, mencek data dan hasil analisis, diskusi dengan teknisi lab dan ngobrol dengan sesama pengguna alat analisis yang sama. Ya, alat analisis yang kugunakan, High Performance Liquid Chromatographi atau yang lebih dikenal dengan singkatannya HPLC, mempunyai antrian pengguna yang lumayan banyak. Alat ini biasa digunakan untuk menganalisis jenis senyawa yang terkandung dalam cairan dengan bantuan larutan standar. Jadi, setiap mahasiswa yang punya sampel berupa cairan akan menggunakan HPLC sebagai alat analisis mereka.

Kebetulan saat itu, bukan hanya lab kami saja yang menggunakan HPLC, tapi juga beberapa penghuni lab lain. Wajah-wajah tegang karena menunggu antrian untuk memakai HPLC selalu terlihat di awal-awal perjumpaan kami. Karena masing-masing dari kami ingin segera menggunakan HPLC dan memperoleh hasil analisisnya secepat mungkin.

Pernah suatu ketika, aku melihat seorang gadis duduk di dekat meja HPLC sambil menekuri laptopnya. Aku pikir, pasti gadis itu menunggui sampel yang telah dianalisis. Setelah beberapa hari kemudian aku masih melihat gadis itu duduk di sana maka aku putuskan untuk menyapanya. Ternyata benar, dia juga menunggui sampel. Sayangnya, bukan sampelnya yang sekarang sedang di analisis tapi justru sampel teman se-labku. Kami ngobrol panjang lebar. Dari obrolan itulah aku baru tahu, bahwa gadis itu malah mendapat giliran analisis setelah diriku. Setiap kali kami bertemu di lab analisis, kami akan membicarakan tentang sampel-sampel kami atau mengenai riset yang kami lakukan. Sampai suatu ketika, lingkaran pelaku obrolan tentang sampel ini bukan hanya kami berdua saja, beberapa orang bergabung menjadi satu. Teman mengobrol kami bertambah karena pengguna HPLC saat itu juga ikut bertambah. Ketika kami saling melirik HPLC maka kami akan sama-sama tahu bahwa antrian HPLC akan meng-ular he..he…

Aku bersyukur bahwa pengguna HPLC saat itu sangat friendly satu sama lainnya. Meskipun, kami mempunyai kepentingan yang sama dan juga mendesak (karena beberapa dari kami sedang berkejaran dengan waktu) setidaknya kami masih bisa saling bertegur ramah dan menjalin hubungan baik di luar kepentingan analisis.

Satu hal yang menarik adalah jika kita mau ternyata kita bisa menjalin pertemanan hubungan baik dengan siapa saja. Memulainya dari titik mana saja di belahan bumi ciptaan Tuhan yang begitu luas ini…. ^_^

Selamat memulai pertemanan…

200 Broke

source pic here

Setelah menunggu beberapa lama.. tembus juga angka 200 itu… ^_^

Postingan pertamaku.. *setelah mengaduk2 blog ini he. he..* adalah sebuah puisi yang mencitrakan tentang kondisiku saat dalam keadaan me-L.A.P.A.R.. he.. he.. Aku mengkategorikan puisi-puisiku rada kontemporer. Karena meng-hiperbola sekaligus meng-asosiasikan apa yang kurasakan.. Meski tulisan berikut2 nya justru lebih kepada wacana-wacana dan pemikiran pribadi terhadap suatu hal.

Lama sekali menanti tulisan ke-200 ku ini..dan memerlukan waktu yang lumayan lama.. lebih dari 4 tahun..

Blog ini akan menjadi catatan ku…perekam alur proses pemikiranku akan masa yang telah terjadi….

Teknologi yang menyuntikkan semangat….

Suprised…

Hari ini, saat baru saja membuka wordpress…. ternyata sudah ada perubahan baru. Rasanya baru beberapa bulan yang lalu WP melakukan perubahan dengan settingan dashboard. Kali ini mereka memberikan sentuhan yang *according to my opinion* lebih memudahakan bagi narablog-narablog yang ingin tetap rajin menulis tapi di satu sisi gak punya banyak waktu untuk ‘stel-stel-an’ postingan.. ^_^ . Salut dah buat mas Matt Mullenweg…. *kasih jempol banyak2.. he.. he..*

Kemudahan yang diberikan oleh teknologi menjadikan hidup lebih mudah. Meski terkadang di awal2 penerimaan akan teknologi baru tersebut akan rada merepotkan.
Misalnya…jika kita baru pertama kali naik lift. Bingung harus memencet tombol yang mana untuk membuka-menutup pintu lift dan menghentikan lift adalah sebuah perkara yang biasa. Saat kita berurusan dengan mesin ATM ato mesin Deposit. Berhubungan dengan memencet kartu antrian.Mesin pembuat kopi, kartu kereta dan banyak lagi.

Awalnya ribet… terlihat menyusahkan.. karena kita belum terlalu terbiasa dengan hal-hal yang memang belum pernah kita lakukan. Perlu eksplorasi keberanian untuk mencoba :mrgreen: . Namun, nantinya.. ketika kita sering menggunakan teknologi tersebut dalam keseharian kita, ia tidak lagi menjadi sulit. Justru, kita akan merasa terbantu, menghemat waktu dan memberikan semangat.

Seperti saia.. yang mulai bersemangat lagi untuk menulis di blog kesayangan ini.. ^_^

source pic is here

Dompet kecil Pink

Siapapun sepakat bahwa kejujuran adalah salah satu nilai luhur yang aplikasinya rada menipis di tahun-tahun belakangan ini. Tapi, adalah tak bisa dinafikan bila ternyata nilai dan aplikasi dari nilai tersebut sebenarnya akan selalu ada biarpun mungkin tidak sesubur di masa-masa dulu.

Pengantar ini aku tulis, karena aku sangat berterima kasih terhadap sesiapa-pun yang telah meng-aplikasikan dengan baik nilai dari keluhuran yang bernama “jujur” ini. Sungguh…I’m really honour to be the one who accidentially become the object of this..

Ceritanya bermula ketika aku dan dua orang teman menikmati sore di sebuah bazaar wisuda-an di kampusku. Puas jalan-jalan sembari ngelihat barang dagangan yang terjaja rapi di setiap lapak-lapak, aku dan seorang teman mampir ke salah satu lapak penjual makanan. Sementara seorang teman lainnya sedang sibuk dengan urusan yang lain. Jadilah aku dan seorang teman sibuk menunggu pesanan makanan malam. Tiba-tiba, hp-ku berdering. Temanku yang lain meminta kami untuk bertemu di parkiran. Karena kami akan segera pulang sebab hari sudah menjelang magrib. Berikutnya, aku dan seorang teman tergopoh-gopoh menuju parkiran yang jaraknya lumayan jauh dari tempat membeli makanan. Dompet kecil pink yang seyogya-nya aku pegang dengan bergegas langsung aku masukkan ke dalam tas sambil berjalan cepat menuju mobil.

*ini hanya contoh warna-nya saja.. he. he.. :D

source pic here

Keesokkan harinya, aku menghadiri sebuah acara yang pada kesempatan itu aku bertemu dengan seorang teman yang meminta sebuah catatan kecil. Catatan kecil yang sudah jauh-jauh hari aku siapkan itu tersimpan dalam dompet kecil pink yang sehari sebelumnya aku pakai ketika membayar makan malam ku di bazaar wisuda. Aku sibuk menjelajahi tas yang kukenakan. Tas yang sama seperti yang kubawa ketika pergi ke bazzar wisuda di hari sebelumnya. Aku menjadi panik karena dompet itu tidak kutemukan di dalam tas.

Ketika sampai di rumah, ku cek kamar, areal-areal yang mungkin saja di-jatuhi si dompet kecil pink tersebut. Aku bahkan bertanya pada teman sekamarku kalau-kalau dia melihat dompet kecil pinkku. Nihil. Aku mulai khawatir. Tegang. Bukan masalah uang yang ada di dalam dompet itu. Tapi karena kartu pelajar dan juga KTP-ku yang ada di dalam dompet itu. Aku sudah bisa membayangkan betapa sulitnya mengurus kartu-kartu itu nantinya. Aku terus berdoa… semoga dompet tersebut ditemukan… entah di dalam kamar.. entah kemudian tiba-tiba muncul di dalam tasku. Aku takut memikirkan tentang dompet yang tercecer di bazar wisuda. Jika dompet sudah tercecer di tempat keramaian…sesungguhnya, rasa pesimisku terasa lebih besar dari pada optimis akan dapat menemukan kembali kartu-kartu berhargaku :( .

Aku masih mencari dompet itu sampai tengah malam. Dan tertidur dengan rasa tidak nyaman.

Setengah sadar, aku mengangkat Hp yang berdering di samping tempat tidurku.

“Putri ?”

“Ya…” menebak-nebak si pemilik suara. Kenapa malam-malam begini ada yang iseng telpon, ya…

“Kamu ada merasa kehilangan sesuatu hari ini?” suara di seberang telpon masih belum bisa kutebak.

“iya.. saya kehilangan kartu pelajar dan KTP saya…. Ini dari mana, ya?”

“Ini dari tim keamanan kampus. Tadi malam kamu ke bazaar wisuda, ya? Ada seseorang yang menemukan dompet kamu di sana beserta kartu pelajar dan KTP kamu. Dan mengantarkannya pada kami.”

Demi mendengar kalimat terakhirnya.. rasanya sebuah kelegaan besar loss dari hati-ku. Luar biasa lega.

“Kamu bisa menjemput dompet ini di pos gerbang kampus.”tutup si pemilik suara

Dengan senyum kelegaan luar biasa, yang tentu saja tidak bisa terlihat oleh lawan bicaraku. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada si penelpon. Rasanya ingin aku membangunkan teman serumahku untuk segera menjemput dompetku itu. Tapi kutahan. Besok pagi,..akan kuambil kartu pelajarku di pos gerbang kampus. Alhamdulillah…Sungguh, aku merasa bersyukur sekali. Allah SWT masih memberikan rezeki-ku atas dompet tersebut.

Pagi-nya, ketika aku berada di pos keamanan kampus, pak security menunjukkan isi dompet ku. Semuanya lengkap, uang, KTP, kartu pelajar, catatan kecilku bahkan flask disk. Kulihat laporannya di log book. Tidak ada nama si penemu. Aku tidak tahu kepada siapa harus berterima kasih. Pak security menerima ucapan terima kasih dan senyum kelegaan yang luar biasa dari diriku. Alhamdulillah…

Sampai tulisan ini publish… aku belum menemukan orang yang berbaik hati mengembalikan dompet kecil pink-ku kepada tim security kampus.

Terima kasih banyak atas ketulusan dan kebaikan yang telah diberikan…

Semoga Allah SWT memberikan kebaikan yang lebih untuk anda….Aamiin..

I’m envy…

Awalnya aku tidak bisa mengkategorikan resapan perasaan yang diam-diam menyelinap dalam hatiku. Ketika bocah-bocah itu saling melayangkan tangan mereka, bergelut dengan mulut yang belepotan makanan. Acungan tangan yang satu naik ke atas di arahkan terpisah dari bocah yang lain, yang lebih kecil. Mereka sedang berkelahi. Sedang memperebutkan sesuatu. Mereka bersaudara, terikat dalam darah dan batin.

Ingatanku melayang ketika usiaku baru belasan tahun, masih sangat terobsesi dengan panjat memanjat dan semua jenis kartun. Sebuah remote kontrol selalu menjadi ‘korban’ pertarungan antara aku dan adik-adikku. Channel tv yang (waktu itu) hanya 3 biji itu saja menjadikan rumah kami yang tidak begitu besar itu ribut dengan suara teriakan-teriakan kami. Atau ketika mata kami saling menjeling untuk ‘memata-matai’  kue oleh-oleh yang biasa dibawa oleh ibuku dari bepergian. Atau ketika kami saling bergelut karena ada salah satu dari kami ‘berusaha bermain dengan lebih cerdik’ dari yang lain :mrgreen: . Ketika yang kalah kemudian berlari meringkuk dalam dekapan ibu sementara yang menang tetap saja merasa kalah karena tidak bisa dipeluk ibu..  :D .

Ah… masa kanak-kanak…

Rindu dengan masa-masa kanak dulu… Aku (benar) merasa sudah besar sekarang …[Ketika kanak-kanakku telah menjelma menjadi kenangan]    

*Yang jelas.. saat tulisan  ini dibuat… aku benar-benar rindu adik-adikku….Miss you a lots, bro, sist…