Titik itu adalah HPLC
Januari 11th, 2012 § 5 Komentar
source : here<
Aku ingat. Menjelang pertengahan tahun lalu, aku masih duduk di depan komputer yang terhubung ke alat analisis yang kugunakan untuk riset. Bolak-balik dari lab ke tempat analisis, mencek data dan hasil analisis, diskusi dengan teknisi lab dan ngobrol dengan sesama pengguna alat analisis yang sama. Ya, alat analisis yang kugunakan, High Performance Liquid Chromatographi atau yang lebih dikenal dengan singkatannya HPLC, mempunyai antrian pengguna yang lumayan banyak. Alat ini biasa digunakan untuk menganalisis jenis senyawa yang terkandung dalam cairan dengan bantuan larutan standar. Jadi, setiap mahasiswa yang punya sampel berupa cairan akan menggunakan HPLC sebagai alat analisis mereka.
Kebetulan saat itu, bukan hanya lab kami saja yang menggunakan HPLC, tapi juga beberapa penghuni lab lain. Wajah-wajah tegang karena menunggu antrian untuk memakai HPLC selalu terlihat di awal-awal perjumpaan kami. Karena masing-masing dari kami ingin segera menggunakan HPLC dan memperoleh hasil analisisnya secepat mungkin.
Pernah suatu ketika, aku melihat seorang gadis duduk di dekat meja HPLC sambil menekuri laptopnya. Aku pikir, pasti gadis itu menunggui sampel yang telah dianalisis. Setelah beberapa hari kemudian aku masih melihat gadis itu duduk di sana maka aku putuskan untuk menyapanya. Ternyata benar, dia juga menunggui sampel. Sayangnya, bukan sampelnya yang sekarang sedang di analisis tapi justru sampel teman se-labku. Kami ngobrol panjang lebar. Dari obrolan itulah aku baru tahu, bahwa gadis itu malah mendapat giliran analisis setelah diriku. Setiap kali kami bertemu di lab analisis, kami akan membicarakan tentang sampel-sampel kami atau mengenai riset yang kami lakukan. Sampai suatu ketika, lingkaran pelaku obrolan tentang sampel ini bukan hanya kami berdua saja, beberapa orang bergabung menjadi satu. Teman mengobrol kami bertambah karena pengguna HPLC saat itu juga ikut bertambah. Ketika kami saling melirik HPLC maka kami akan sama-sama tahu bahwa antrian HPLC akan meng-ular he..he…
Aku bersyukur bahwa pengguna HPLC saat itu sangat friendly satu sama lainnya. Meskipun, kami mempunyai kepentingan yang sama dan juga mendesak (karena beberapa dari kami sedang berkejaran dengan waktu) setidaknya kami masih bisa saling bertegur ramah dan menjalin hubungan baik di luar kepentingan analisis.
Satu hal yang menarik adalah jika kita mau ternyata kita bisa menjalin pertemanan hubungan baik dengan siapa saja. Memulainya dari titik mana saja di belahan bumi ciptaan Tuhan yang begitu luas ini…. ^_^
Selamat memulai pertemanan…
200 Broke
Oktober 24th, 2011 § 12 Komentar
![]()
source pic here
Setelah menunggu beberapa lama.. tembus juga angka 200 itu… ^_^
Postingan pertamaku.. *setelah mengaduk2 blog ini he. he..* adalah sebuah puisi yang mencitrakan tentang kondisiku saat dalam keadaan me-L.A.P.A.R.. he.. he.. Aku mengkategorikan puisi-puisiku rada kontemporer. Karena meng-hiperbola sekaligus meng-asosiasikan apa yang kurasakan.. Meski tulisan berikut2 nya justru lebih kepada wacana-wacana dan pemikiran pribadi terhadap suatu hal.
Lama sekali menanti tulisan ke-200 ku ini..dan memerlukan waktu yang lumayan lama.. lebih dari 4 tahun..
Blog ini akan menjadi catatan ku…perekam alur proses pemikiranku akan masa yang telah terjadi….
Teknologi yang menyuntikkan semangat….
Oktober 19th, 2011 § 5 Komentar
Suprised…
Hari ini, saat baru saja membuka wordpress…. ternyata sudah ada perubahan baru. Rasanya baru beberapa bulan yang lalu WP melakukan perubahan dengan settingan dashboard. Kali ini mereka memberikan sentuhan yang *according to my opinion* lebih memudahakan bagi narablog-narablog yang ingin tetap rajin menulis tapi di satu sisi gak punya banyak waktu untuk ‘stel-stel-an’ postingan.. ^_^ . Salut dah buat mas Matt Mullenweg…. *kasih jempol banyak2.. he.. he..*
Kemudahan yang diberikan oleh teknologi menjadikan hidup lebih mudah. Meski terkadang di awal2 penerimaan akan teknologi baru tersebut akan rada merepotkan.
Misalnya…jika kita baru pertama kali naik lift. Bingung harus memencet tombol yang mana untuk membuka-menutup pintu lift dan menghentikan lift adalah sebuah perkara yang biasa. Saat kita berurusan dengan mesin ATM ato mesin Deposit. Berhubungan dengan memencet kartu antrian.Mesin pembuat kopi, kartu kereta dan banyak lagi.
Awalnya ribet… terlihat menyusahkan.. karena kita belum terlalu terbiasa dengan hal-hal yang memang belum pernah kita lakukan. Perlu eksplorasi keberanian untuk mencoba
. Namun, nantinya.. ketika kita sering menggunakan teknologi tersebut dalam keseharian kita, ia tidak lagi menjadi sulit. Justru, kita akan merasa terbantu, menghemat waktu dan memberikan semangat.
Seperti saia.. yang mulai bersemangat lagi untuk menulis di blog kesayangan ini.. ^_^
![]()
source pic is here
Dompet kecil Pink
Oktober 1st, 2011 § 17 Komentar
Siapapun sepakat bahwa kejujuran adalah salah satu nilai luhur yang aplikasinya rada menipis di tahun-tahun belakangan ini. Tapi, adalah tak bisa dinafikan bila ternyata nilai dan aplikasi dari nilai tersebut sebenarnya akan selalu ada biarpun mungkin tidak sesubur di masa-masa dulu.
Pengantar ini aku tulis, karena aku sangat berterima kasih terhadap sesiapa-pun yang telah meng-aplikasikan dengan baik nilai dari keluhuran yang bernama “jujur” ini. Sungguh…I’m really honour to be the one who accidentially become the object of this..
Ceritanya bermula ketika aku dan dua orang teman menikmati sore di sebuah bazaar wisuda-an di kampusku. Puas jalan-jalan sembari ngelihat barang dagangan yang terjaja rapi di setiap lapak-lapak, aku dan seorang teman mampir ke salah satu lapak penjual makanan. Sementara seorang teman lainnya sedang sibuk dengan urusan yang lain. Jadilah aku dan seorang teman sibuk menunggu pesanan makanan malam. Tiba-tiba, hp-ku berdering. Temanku yang lain meminta kami untuk bertemu di parkiran. Karena kami akan segera pulang sebab hari sudah menjelang magrib. Berikutnya, aku dan seorang teman tergopoh-gopoh menuju parkiran yang jaraknya lumayan jauh dari tempat membeli makanan. Dompet kecil pink yang seyogya-nya aku pegang dengan bergegas langsung aku masukkan ke dalam tas sambil berjalan cepat menuju mobil.
*ini hanya contoh warna-nya saja.. he. he..
source pic here
Keesokkan harinya, aku menghadiri sebuah acara yang pada kesempatan itu aku bertemu dengan seorang teman yang meminta sebuah catatan kecil. Catatan kecil yang sudah jauh-jauh hari aku siapkan itu tersimpan dalam dompet kecil pink yang sehari sebelumnya aku pakai ketika membayar makan malam ku di bazaar wisuda. Aku sibuk menjelajahi tas yang kukenakan. Tas yang sama seperti yang kubawa ketika pergi ke bazzar wisuda di hari sebelumnya. Aku menjadi panik karena dompet itu tidak kutemukan di dalam tas.
Ketika sampai di rumah, ku cek kamar, areal-areal yang mungkin saja di-jatuhi si dompet kecil pink tersebut. Aku bahkan bertanya pada teman sekamarku kalau-kalau dia melihat dompet kecil pinkku. Nihil. Aku mulai khawatir. Tegang. Bukan masalah uang yang ada di dalam dompet itu. Tapi karena kartu pelajar dan juga KTP-ku yang ada di dalam dompet itu. Aku sudah bisa membayangkan betapa sulitnya mengurus kartu-kartu itu nantinya. Aku terus berdoa… semoga dompet tersebut ditemukan… entah di dalam kamar.. entah kemudian tiba-tiba muncul di dalam tasku. Aku takut memikirkan tentang dompet yang tercecer di bazar wisuda. Jika dompet sudah tercecer di tempat keramaian…sesungguhnya, rasa pesimisku terasa lebih besar dari pada optimis akan dapat menemukan kembali kartu-kartu berhargaku
.
Aku masih mencari dompet itu sampai tengah malam. Dan tertidur dengan rasa tidak nyaman.
Setengah sadar, aku mengangkat Hp yang berdering di samping tempat tidurku.
“Putri ?”
“Ya…” menebak-nebak si pemilik suara. Kenapa malam-malam begini ada yang iseng telpon, ya…
“Kamu ada merasa kehilangan sesuatu hari ini?” suara di seberang telpon masih belum bisa kutebak.
“iya.. saya kehilangan kartu pelajar dan KTP saya…. Ini dari mana, ya?”
“Ini dari tim keamanan kampus. Tadi malam kamu ke bazaar wisuda, ya? Ada seseorang yang menemukan dompet kamu di sana beserta kartu pelajar dan KTP kamu. Dan mengantarkannya pada kami.”
Demi mendengar kalimat terakhirnya.. rasanya sebuah kelegaan besar loss dari hati-ku. Luar biasa lega.
“Kamu bisa menjemput dompet ini di pos gerbang kampus.”tutup si pemilik suara
Dengan senyum kelegaan luar biasa, yang tentu saja tidak bisa terlihat oleh lawan bicaraku. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada si penelpon. Rasanya ingin aku membangunkan teman serumahku untuk segera menjemput dompetku itu. Tapi kutahan. Besok pagi,..akan kuambil kartu pelajarku di pos gerbang kampus. Alhamdulillah…Sungguh, aku merasa bersyukur sekali. Allah SWT masih memberikan rezeki-ku atas dompet tersebut.
Pagi-nya, ketika aku berada di pos keamanan kampus, pak security menunjukkan isi dompet ku. Semuanya lengkap, uang, KTP, kartu pelajar, catatan kecilku bahkan flask disk. Kulihat laporannya di log book. Tidak ada nama si penemu. Aku tidak tahu kepada siapa harus berterima kasih. Pak security menerima ucapan terima kasih dan senyum kelegaan yang luar biasa dari diriku. Alhamdulillah…
Sampai tulisan ini publish… aku belum menemukan orang yang berbaik hati mengembalikan dompet kecil pink-ku kepada tim security kampus.
Terima kasih banyak atas ketulusan dan kebaikan yang telah diberikan…
Semoga Allah SWT memberikan kebaikan yang lebih untuk anda….Aamiin..
I’m envy…
Juli 17th, 2011 § 16 Komentar
Awalnya aku tidak bisa mengkategorikan resapan perasaan yang diam-diam menyelinap dalam hatiku. Ketika bocah-bocah itu saling melayangkan tangan mereka, bergelut dengan mulut yang belepotan makanan. Acungan tangan yang satu naik ke atas di arahkan terpisah dari bocah yang lain, yang lebih kecil. Mereka sedang berkelahi. Sedang memperebutkan sesuatu. Mereka bersaudara, terikat dalam darah dan batin.
Ingatanku melayang ketika usiaku baru belasan tahun, masih sangat terobsesi dengan panjat memanjat dan semua jenis kartun. Sebuah remote kontrol selalu menjadi ‘korban’ pertarungan antara aku dan adik-adikku. Channel tv yang (waktu itu) hanya 3 biji itu saja menjadikan rumah kami yang tidak begitu besar itu ribut dengan suara teriakan-teriakan kami. Atau ketika mata kami saling menjeling untuk ‘memata-matai’ kue oleh-oleh yang biasa dibawa oleh ibuku dari bepergian. Atau ketika kami saling bergelut karena ada salah satu dari kami ‘berusaha bermain dengan lebih cerdik’ dari yang lain
. Ketika yang kalah kemudian berlari meringkuk dalam dekapan ibu sementara yang menang tetap saja merasa kalah karena tidak bisa dipeluk ibu.. :D .
Ah… masa kanak-kanak…
Rindu dengan masa-masa kanak dulu… Aku (benar) merasa sudah besar sekarang …[Ketika kanak-kanakku telah menjelma menjadi kenangan]
*Yang jelas.. saat tulisan ini dibuat… aku benar-benar rindu adik-adikku….Miss you a lots, bro, sist…
Kejutan di Hari minggu
Juli 6th, 2011 § 9 Komentar
Agak terburu-buru aku membuka pintu kamar…
Masih setengah belepotan karena sebelumnya aku baru saja nyantai-nyantai sambil nonton CONAN… :D
“Sebentar…..” sahutku dari balik pintu kamar. Tak ada jawaban dari luar kamar. Hari minggu seperti ini biasanya aku jarang terima tamu…he..he.. padahal hari-hari biasanya juga jarang, sih.. :mrgreen: . Sambil mikir-mikir, siapa sebenarnya yang berkunjung aku pun segera membuka pintu.
Seorang pria muda, putih, cakep…dengan tersenyum-senyum menatapku. Tangannya memegang boneka. Terus terang.. ini kunjungan yang agak diluar kebiasaan. Tapi, demi melihat senyumnya yang aduhai, reflek aku pun ikut tersenyum…
“Aiiii.. Aa.. apa kabar..?” *Segera beraction, sok ngerapi-rapiin pakaian.. :D
![]()
*source pic from here
“Hayuk atuh… dikasih bonekanya… jangan dipegang saja..” Teh ranny meminta pria muda itu menyerahkan boneka yang sedari tadi dipegangnya. Aa masih tersenyum sambil malu-malu ia menyerahkan boneka itu kepadaku.
Hatiku berbunga-bunga… baru kali ini ada pria berdiri di depan pintu kamarku sambil menyerahkan boneka padaku. * Jyaaaaaaaaaaaah… berasa terbang dah… :D *
Pun dengan malu-malu aku terima boneka itu…
“Terima kasih, Aa...teh, ayuk masuk dulu…?”
“Gak papa, put… kita lagi buru-buru…Terima kasih banyak, ya…. ” ujar si teteh
“yah, teh.. harusnya mah put yang terima kasih sudah dikasih boneka segala…”. Aku dan teh rany tersenyum.. Pandangan mataku dan Aa bertemu…kemudian saling melempar tersenyum.
“Aiaiai.. gak papa lagi.. santai aja….Ayuk, Aa.. kita pulang.. Pamitan ama tante Putri, ya !” ajak Teh ranny… memanggil pria muda tampan yang berdiri di sampingnya..
“Dadadada.. tante Putri… Salamualaikum…” pria muda yang amat muda itu melambaikan tangannya tanda berpisah dan mengucapkan salam dengan lidah yang agak cadel…
Mereka kemudian beranjak pulang…..
#Yah.. pria muda itu adalah anak laki-laki teh ranny yang baru berumur 5 tahun.. he.. he…
*postingan gak penting !
Ketika Mata dan Senyum bertemu
Juli 2nd, 2011 § 7 Komentar
“Long time no see….” ia menyipit kemudian tersenyum…ups salah, yang benar.. ia tersenyum sehingga kedua matanya menyipit
Ia melihat padaku. Aku membalas senyumannya dan menanyakan kabarnya. Ia kemudian berjalan menghampiriku sambil menjawab pertanyaan yang aku ajukan. Senang sekali bertemu pria muda itu. Barangkali karena senyumnya menunjukkan bahwa ia memang benar-benar kangen dengan suasana lab ??? *he.. he.. bener, gak, ya ?* ato setidaknya senyumnya terasa tulus.. :mrgreen:
Aku pernah menulis tentang senyuman dan aku terkadang menilai ketulusan seseorang dari senyuman yang mereka lontarkan. Senyuman dari mata mereka… *cie.. cie… gayaku weiceh…
. Pendapat orang banyak yang sering mengatakan bahwa mata adalah jendela hati seseorang seakan menjadi sebuah indikator pembenaran. Ketika kita merasa sedang ‘baik’, hati kita cenderung bisa merasakan mana yang benar-benar tulus dan perbuatan mana yang dibuat-buat. Kombinasi dari mata dan senyuman dapat menunjukan kedua hal itu.
Ketika aku melihat senyum seorang balita, aku melihat seluruh komponen di wajahnya bergerak. Mulai dari mata, bibir, pipinya. Semuanya tertarik ke atas. Terus terang… hatiku luruh melihat senyum bocah itu. Senyum yang muncul di wajah setiap bayi dan anak kecil menggerakkan seluruh otot-otot wajah mereka. Kebahagiaan yang terpancar dari senyuman mereka bisa dirasakan dengan sangat hangat oleh ibu mereka, ayah, nenek-kakek.. bahkan tetangga yang mengintip kehidupan mereka dari balik jendela. Hal ini yang membuat ku cukup sependapat dengan ramuan mata dan senyum tersebut. Pria dan wanita adalah bayi dan anak kecil yang mendewasa dengan organ-organ biologis mereka namun ruh mereka, jiwa mereka adalah satu. Sehingga tidak lah aneh, jika seorang mendewasa dengan jiwa yang sama seperti ketika mereka masih dalam buaian dahulunya.
.![]()
source pic from here
Tersenyumlah dari hati…karena ketulusan dan kebahagiaan hati tak pernah bisa dibohongi dalam pancaran mata…
Aku dan kuliner
Juni 27th, 2011 § 12 Komentar
Melihat menu-menu unik yang tertulis di daftar menu makanan selalu menggugah rasa penasaran. Apalagi jika kita sama sekali tidak pernah mencicipinya. Enak vs tidak enak selalu berkaitan dengan cita rasa dan lidah seseorang. Karena itu nilai rasa sebuah makanan sangat subjectif. Perpaduan ekstrak jenis makanan akan berakhir pada penilaian individu seseorang. Mungkin karena itu aku lebih suka menilai makanan dengan cita rasaku sendiri.
Meski, sering kali untuk ‘kenyamanan kantong’, aku dan beberapa orang teman yang memang sudah sering makan bersama memesan menu yang berbeda dan saling cicip. Jika beruntung, semua makanan yang kami pesan masih bisa diterima lidah atau dengan kata lain “enak”
. Dengan begitu, kami bisa memesan menu yang berbeda untuk kali kedatangan yang lain. Sehingga semua menu yang ada di daftar menu bisa terkecap di lidah kami. he.. he…
Aku pribadi lebih suka mempersiapkan kondisi perutku dalam keadaan aman sebelum mencicipi ‘makanan di luar kebiasaan’ (baca: kecuali nasi+laukpauk). Perut Indonesiaku selalu minta diisi nasi (sesedikit apapun itu) walau aku sudah makan berbagai macam roti he. he.. he.. Karena berhubungan dengan sesuatu yang baru erat kaitannya dengan ‘ujicoba’. Aku ingin mencoba jenis-jenis makanan yang baru tapi disatu sisi aku tidak ingin membahayakan perut dan seleraku. Setidaknya, jika makanan baru yang kucicip itu sangat tidak pas di lidahku, kondisi perutku tidak dalam keadaan terancam (baca: karena aku sudah dalam keadaan setengah kenyang he.. he..).
Jadi, sebelum mencoba jenis makanan baru…apa yang kawan-kawan biasa lakukan ?
Bersabar… dan dengarlah
Juni 22nd, 2011 § 9 Komentar
Barangkali ada baiknya diam sejenak untuk mendengar kemudian baru bergerak untuk mengambil keputusan…
hufh… seharusnya aku seperti itu… walaupun untuk beberapa detik…demi mendengar suara operator provider kartu SIM ku berceloteh…
Ceritanya dimulai setelah aku terbangun di pagi hari. Dengan setengah malas aku mengetik sms, meminta tumpangan pada seorang teman labku. Sms gagal. Kucoba berulang kali… tapi masih gagal. Aneh! padahal semalam aku masih bisa sms.
‘Hm… barangkali ada masalah jaringan, kalo begitu beberapa waktu lagi sajalah aku sms’, pikirku menghibur diri. 10 menit dari jam biasa keberangkatanku, aku meng-sms teman sekali lagi. Masih gagal. Kemudian aku ganti haluan. Kali ini, aku mencoba menelponnya. Pulsaku masih cukuplah untuk sekedar MC. Tapi baru 1 detik koneksi mengudara yang terdengar malah suara operator. Segera kututup telpon. Aku sangsi. Jangan-jangan HP temanku itu mati. Aku beralih ke seorang teman lainnya yang juga serumah dengan temanku ini. Satu kali… dua kali… tiga kali…. sms-ku gagal.
OK….! Ku cek pulsaku. Tak berkurang se-sen pun.
Ku telponlah temanku ini…. Bukan nada dering sambungan yang terdengar tapi denting operator provider. Langsung ku tekan off.. maklum pulsa nge-pas2 ini bakal tersedot banyak dan aku tidak bisa meng-sms lagi. Kecurigaanku adalah… kedua hape temanku ini tidak aktif. Aku kemudian pasrah tidak dapat tebengan hari ini. Meski, harus kuakui rasa penasaran dan ketidakpuasanku menggantung-gantung. Kenapa bisa samaan gitu, ya.. tidak aktifnya ? Aku masih berpikir.
Sebuah ide tiba-tiba meluncur. Kali ini aku benar-benar menelpon mereka. Tahu tidak apa kata si operator? Begini katanya…
“This is your H**L**** service.. please top up to make more calls”.
![]()
source pic from here
Aku terdiam sejenak…. lalu perlahan nyengir garing….Ampun dah.. ternyata bukan hape kedua temanku itu yang tidak aktif… Tapi nomorku yang sudah tidak aktif masa berlakunya. Untuk memperpanjang masa aktif, aku harus mengisi pulsa terlebih dahulu.
Ckkk… ckkk… walaupun hanya perkara telpon dan pulsa, aku bisa melihat sisi positif kejadian ini. Jika aku lebih bersabar sedikit mendengar celotehan operator mungkin aku sudah bisa mengetahui permasalahan sebenarnya dari “kegagalan pengiriman sms” yang sebelumnya. Sebenarnya, sih…maksud pengecekan telpon dengan mendengar nada dering adalah untuk MC dan mendengar lebih lama nada dering operator bisa akibat ‘penyusutan’ pulsa. he.. he..
Memory Of gas Tank
Juni 8th, 2011 § 18 Komentar
Aku ingat ketika di awal tahun ini aku tersenyum ketika kiriman bahan kimiaku sampai dengan selamat di lab. Begitu juga tatkala aku menerima kabar bahwa gas tank (berikut gas-nya he.. he..
) sudah bisa kuambil di pusat penyimpanan bahan di kampus, hatiku dilingkupi kelegaan… Lega karena aku akan memulai petualangan baru dengan lab namun juga khawatir alias deg-deg’an. Laboratorium dan segala pernak-perniknya sudah lama kutinggalkan. Aku ragu untuk memasuki petualangan baru karena minus pengalaman dengan test tube, reaktor-reaktor besi, lemari asam, conical flask dan juga dunia per-gas-an.
Perasaan was-was yang bercampur lega…
Kemudian petualangan ini diawali dengan menggotong gas tank dari pusat penyimpanan bahan yang berjarak kira-kira 50 meters… Sebenarnya jarak antara labku dengan kantor pusat penyimpanan bahan tidak begitu jauh. Yang membuatnya menjadi agak ‘perlu energi’ untuk berjalan adalah karena rute yang harus dilalui berupa perbukitan, naik-turun . Penggotongan atau lebih tepatnya penggerekan gas tank itu harus melalui penanjakan curam. Aku menggunakan alat bantu beroda yang biasa digunakan untuk membawa gas tank.
Sebelumnya aku menggunakan kereta dorongan gas yang ramping. Sesampainya di kantor pusat bahan tersebut, ketika temanku (Syukurlah aku datang ke sana bersama seorang teman, Alhamdulillah…) mencoba memasukkan gas tank ke dalam kereta kami, pegawai-pegawai di sana langsung memberi saran agar kami menggunakan kereta dorongan gas yang lebih besar dan dilengkapi dengan 4 roda (kereta kepunyaan kami hanya dilengkapi 2 roda). Sepertinya terlihat sekali kepayahan memancar dari rona wajah kami. hufh….
Kami pun kemudian mengganti kereta dorongan beroda 4. Sukses memasukkan gas tank ke dalam kereta adalah sebuah langkah permulaan untuk kemudian meneruskan perjuangan. Kami harus membawa kereta dorongan gas itu mendaki tanjakan tinggi di jalanan menuju labku. Di tengah pendakian (yang hanya sedikit itu) aku berhenti sejenak mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Temanku melihat kondisiku yang agak mengenaskan. Kelelahan sudah memandikan diriku dengan keringat. Aku nyaris berhenti…Karena merasa tak kuat menggerek gas tank yang beratnya berkali lipat dari badanku sendiri…
“Ayuk… sebentar lagi kita sampai…” ucapnya pelan. Ia sendiri juga kelelahan… Ia yang kebagian tugas menarik kereta dari depan dan aku yang mendorong dari belakang. Aku menengadah sebentar.. dan melihat jalanan yang lengang dan yah… lab ku (setidaknya atapnya sudah kelihatan) dan sebentar lagi jalanan akan menurun dan berikutnya malah akan berupa jalan datar. Aku menguatkan hatiku. Meski harus kuakui energi dari sarapan pagiku rasanya sudah lenyap
.
Sedikit lagi…
Kami bergerak…meninggalkan jalanan yang mendaki dan memasuki jalan yang menurun berikutnya jalan yang mendatar membuat kami bisa tersenyum sambil berguyon tentang betapa beratnya pendakian yang sebelumnya.
Hari ini aku menulis kembali tentang kisah gas tank ini untuk mengingatkanku bahwa berhenti di tengah jalan berarti aku menyia-nyiakan rasa letih yang telah menyertai perjalananku. Sekaligus memompa semangatku bahwa dibalik curaman kesulitan akan ada banyak kemudahan. Hal itu akan terasa ketika kita melapangkan hati kita dan terus (berusaha) berjalan dengan keyakinan bahwa Allah Azza wa Jalla takkan pernah membiarkan kita sendiri…
*Gas tank yang ku gerek itu hanya setinggi + 150 cm dengan volume isi 10.7 m3, kalo dimaksudkan dalam bahasa sehari-hari = berat
![]()
source pic from here